Poin Penting:
- Misogini pada remaja laki-laki perlu diwaspadai karena paparan konten digital dapat membentuk sikap merendahkan perempuan
- Orang tua perlu mengenali tanda-tandanya dan mengatasinya melalui dialog, literasi digital, empati, serta keteladanan
- Inggris memperkuat pendidikan di sekolah untuk mencegah misogini dan mengurangi kekerasan terhadap perempuan
Bacaini. ID, KEDIRI – Tren perilaku misogini pada remaja laki-laki tengah dicemaskan dan ditengarai tercipta dari cepatnya arus informasi digital. Bocah laki-laki yang tadinya berwatak hangat, mendadak berubah jadi sosok yang sinis, defensif, hingga terbuka merendahkan perempuan.
Masalah ini bukan lagi sekadar kenakalan remaja atau dinamika pubertas biasa. Ancaman yang dikenal sebagai misogini ini telah tumbuh menjadi krisis sosial global yang menuntut intervensi serius dari negara. Keseriusan menangani ancaman ini salah satunya diambil oleh Pemerintah Inggris.
Pada pertengahan Desember 2025, pemerintah setempat resmi merilis strategi nasional senilai £20 juta (sekitar Rp400 miliar) untuk memangkas angka kekerasan terhadap perempuan hingga separuhnya dalam tenggat waktu 10 tahun.
Langkah paling radikal dari kebijakan tersebut adalah mewajibkan sekolah-sekolah sekunder, setingkat SMP dan SMA, mengajarkan kurikulum khusus mengenai cara menghargai perempuan, kesadaran tentang kekerasan berbasis gender, serta pelatihan bagi para guru untuk mendeteksi ancaman radikalisasi misoginis di kalangan siswa laki-laki.
Paham kebencian terhadap perempuan ini menjadi peringatan keras bagi para orang tua di mana pun berada. Sementara algoritma media sosial tidak mengenal batas negara, dan bisa memengaruhi siapa saja yang memegang gawai tanpa pengawasan dan kontrol diri.
Misogini pada Remaja dan Pengaruh Media Sosial
Secara etimologi dan psikologi sosial, misogini (misogyny) diartikan sebagai kebencian, prasangka buruk, serta rasa permusuhan yang terstruktur terhadap kaum perempuan. Dalam realitas kehidupan remaja hari ini, misogini jarang sekali bermula dari tindakan kekerasan fisik secara langsung. Ia tumbuh secara halus melalui indoktrinasi ideologis yang serupa dengan perundungan psikologis.
Dalam dunia parenting dan perkembangan karakter, misogini pada remaja dapat berupa bentuk pemikiran yang sangat berbahaya. Pertama adalah persepsi superioritas, di mana anak laki-laki menganggap kedudukan, intelektualitas, serta hak sosial laki-laki berada jauh di atas perempuan.
Kedua adalah obyektifikasi, yaitu kecenderungan memandang perempuan hanya sebatas objek estetika atau pemuas ego tanpa menghargai perasaan dan kapasitas mereka sebagai manusia utuh. Dan yang ketiga adalah rasa memiliki hak istimewa (entitlement) secara berlebihan, yang membuat anak merasa berhak mengontrol, mengatur, dan menghakimi kehidupan atau tubuh perempuan.
Penelitian menunjukkan bahwa akar dari kebangkitan sikap misoginis di kalangan Gen Z dan Gen Alpha sangat erat kaitannya dengan fenomena manosphere dan budaya incel (involuntary celibate) di internet.
Komunitas-komunitas anonim di media sosial secara masif mempopulerkan narasi bahwa pria adalah ‘korban’ dari emansipasi wanita. Mereka menjual ilusi kekuatan maskulinitas toksik sebagai bentuk pertahanan diri, yang kemudian ditelan mentah-mentah oleh remaja pria yang sedang berada dalam fase pencarian jati diri.
4 Tanda Remaja Laki-laki Mulai Terpapar Misogini
Sebagai orang tua, mendeteksi perubahan pola pikir anak membutuhkan kepekaan dan pengamatan yang cermat. Perubahan ini sering kali terselubung di balik alasan ‘cuma bercanda’ atau ekspresi kebebasan berpendapat.
Berikut beberapa sinyal bahaya utama yang menandakan seorang anak laki-laki mulai terpapar paham misogini:
• Perubahan dalam penggunaan bahasa dan humor merupakan indikator pertama yang paling mudah dikenali. Anak mulai sering menyisipkan kata-kata ejekan yang merendahkan perempuan, menggunakan stempel seksis dalam obrolan sehari-hari, atau menganggap kasus pelecehan verbal terhadap anak perempuan sebagai lelucon yang lumrah.
Ketika ditanya atau ditegur, mereka cenderung defensif dan menuduh lingkungan sekitar terlalu sensitif.
• Sinyal kedua tampak pada reaksi mereka terhadap pencapaian perempuan. Anak yang mengidap bias misoginis biasanya merasa terancam, menunjukkan kekesalan, atau secara aktif meremehkan ketika melihat anak perempuan di kelasnya meraih nilai lebih tinggi atau terpilih menjadi ketua organisasi.
Mereka kerap melempar tuduhan bahwa perempuan tersebut mendapatkan perlakuan khusus atau hanya memanfaatkan kecantikannya.
• Indikator ketiga berada pada pola konsumsi media sosial dan figur idola mereka. Orang tua patut waspada jika anak secara konsisten mengikuti, menyukai, dan membela konten-konten dari tokoh influencer yang terang-terangan mempromosikan kebencian pada wanita. Anak biasanya akan menirukan gaya bicara, gestur, hingga premis-premis pemikiran idola toksik tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
• Sinyal terakhir yang sangat mengkhawatirkan adalah perubahan perlakuan di dalam rumah. Anak mulai menunjukkan ketidakpatuhan atau rasa tidak hormat khusus kepada otoritas figur wanita, seperti menolak mendengarkan nasihat ibu, meremehkan perintah guru wanita, atau bertindak arogan dan dominan kepada saudara perempuannya semata-mata karena perbedaan gender.
Cara Orang Tua Mengatasi Perilaku Misogini pada Anak
Mencegah dan memulihkan pola pikir anak dari paparan misogini tidak bisa dilakukan dengan cara memarahi atau menghukumnya secara emosional. Tindakan konfrontatif tanpa arah justru akan membuat anak makin menarik diri dan semakin yakin pada dogma toksik yang ia baca di internet.
Diperlukan pendekatan dialogis, edukatif, dan kontekstual di dalam pengasuhan keluarga.
• Buka ruang diskusi yang kritis tanpa langsung menghakimi. Saat menemukan anak menonton konten yang bermasalah atau melontarkan pernyataan seksis, ajak ia berdiskusi, membedah logika di balik konten tersebut.
• Penanaman literasi digital dan kesehatan emosional. Anak-anak remaja sering kali tertarik pada narasi maskulinitas toksik bukan karena mereka jahat, melainkan karena rasa tidak percaya diri atau ketakutan akan kegagalan sosial. Algoritma media sosial mengeksploitasi rasa takut ini dengan menawarkan solusi instan berupa rasa dominasi atas orang lain.
Orang tua perlu mengajarkan bahwa kekuatan seorang pria sejati tidak diukur dari seberapa keras ia menekan orang lain, melainkan dari seberapa besar kemampuannya untuk mengendalikan diri, berempati, dan bertanggung jawab.
• Langkah ketiga yang paling fundamental adalah keteladanan dari figur pria di dalam rumah. Anak laki-laki belajar menghargai perempuan bukan dari teori yang mereka baca di buku, melainkan dari melihat secara langsung bagaimana ayahnya atau figur pria dewasa di rumah memperlakukan pasangan dan anggota keluarga perempuan.
Ayah yang menghormati pendapat istri, mau berbagi peran dalam urusan domestik secara setara, serta tidak ragu meminta maaf ketika salah adalah benteng pencegah misogini paling efektif bagi anak laki-laki.
• Orang tua harus secara konsisten mengajarkan konsep persetujuan (consent), kesetaraan, dan batas-batas pribadi. Anak harus dipahamkan sejak dini bahwa menghargai perempuan adalah bentuk kemanusiaan yang mendasar, bukan sebuah kompromi atau kelemahan.
Membangun Remaja Laki-laki yang Tangguh dan Berempati
Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Inggris memberikan pelajaran berharga bagi dunia modern, yakni perlawanan terhadap kekerasan dan diskriminasi tidak boleh hanya dimulai ketika kejahatan telah terjadi di jalanan. Pendidikan karakter harus dimulai dari akar masalahnya, yaitu dengan membenahi pola pikir anak-anak muda sejak dini.
Orang tua di era digital, tidak lagi sekadar menyediakan kebutuhan fisik dan fasilitas belajar anak, namun dituntut untuk menjadi pengawal emosi dan penyaring ideologi yang masuk ke dalam kepala anak melalui layar gawai.
Dengan mengajarkan empati, menghidupkan diskusi yang sehat, serta memberikan teladan nyata di dalam rumah, orang tua sedang menyelamatkan masa depan anak laki-lakinya agar tumbuh menjadi pribadi yang tidak hanya tangguh dan berwawasan luas, namun juga memiliki kelembutan hati serta rasa hormat yang tulus terhadap sesama manusia. (bl/edt)




