Bacaini.ID, KEDIRI – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman membuka fakta dominasi dua perusahaan besar dalam industri ayam dan telur di Indonesia. Sekitar 70 persen perputaran uang industri ayam dan telur nasional senilai Rp 554 triliun dikuasai oleh dua pengusaha tersebut.
Pernyataan Andi Amran ini membuka tabir struktur pasar yang kian oligopolistik, di mana segelintir korporasi raksasa menguasai rantai pasok dari hulu hingga hilir. Meski tak menyebut identitas perusahaan itu secara eksplisit, namun publik telah mengetahui jika yang dimaksud adalah PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).
Dominasi ini bermula dari titik paling awal, yakni bibit ayam usia 1–2 hari (DOC) dan pakan. Dua perusahaan besar itu menguasai hampir seluruh produksi DOC, vaksin, dan pakan ternak. Peternak rakyat yang bergantung pada pasokan tersebut tak punya pilihan selain membeli dengan harga yang ditentukan korporasi.
“Ketika harga DOC melonjak hingga 30 persen, peternak kecil tak kuasa menahan kerugian,” kata Amran di Bogor.
Tak berhenti di hulu, dominasi berlanjut hingga ke hilir. Dari ayam potong hingga distribusi daging ke pasar modern, kendali tetap berada di tangan dua perusahaan. Peternak rakyat hanya menjadi pelaku kecil dengan margin tipis, sementara harga di pasar ditentukan oleh mekanisme yang mereka tak kuasai.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintahan Prabowo Subianto diperkirakan menambah perputaran uang industri ayam dan telur hingga Rp 653 triliun. Namun, Amran mengingatkan, Rp 380–400 triliun tetap akan dikuasai dua perusahaan besar.
Pemerintah Melawan Oligopoli
Sebagai respons, Kementerian Pertanian menyiapkan intervensi besar. Dana Rp 20 triliun digelontorkan untuk membangun ekosistem peternakan ayam terintegrasi melalui BUMN. Targetnya, 12 pabrik DOC, vaksin, dan pakan berdiri dalam tahap awal, disusul 30 pabrik tambahan.
“BUMN lebih bisa dikendalikan. Kalau direksi macam-macam, kita copot,” ujar Amran. Strategi ini diharapkan mampu menekan harga DOC dan pakan, sekaligus memberi ruang bagi peternak rakyat untuk bernapas.
Investigasi Oligopoli
Fakta bahwa dua perusahaan menguasai 70 persen industri ayam dan telur membuka struktur pasar oligopolistik. Dalam teori ekonomi, oligopoli terjadi ketika segelintir pemain besar mengendalikan mayoritas pasokan, sehingga harga dan distribusi tidak lagi ditentukan oleh mekanisme pasar bebas.
Di lapangan, peternak rakyat merasakan dampaknya langsung. Mereka tidak hanya kehilangan daya tawar, tetapi juga terjebak dalam lingkaran ketergantungan. Tanpa akses ke bibit dan pakan murah, usaha kecil mereka sulit berkembang.
Profil 2 Perusahaan Oligopoli
Charoen Pokphand Indonesia, bagian dari grup Charoen Pokphand asal Thailand, masuk ke Indonesia sejak 1972. Perusahaan ini tumbuh menjadi produsen pakan ternak terbesar di tanah air. Model bisnisnya terintegrasi penuh, mulai dari produksi pakan, pembibitan ayam usia sehari (DOC), peternakan broiler dan layer, hingga pengolahan makanan dan distribusi. Efisiensi tinggi serta kontrol besar atas rantai pasok membuat CPIN menjadi pemain dominan yang sulit ditandingi.
Sementara itu, Japfa Comfeed Indonesia berdiri pada 1971 dan kini menjelma menjadi salah satu konglomerasi pangan terbesar di Asia Tenggara. Bisnisnya juga terintegrasi, mencakup produksi pakan, pembibitan ayam, peternakan, hingga produk pangan olahan. Japfa memperkuat posisinya di sektor ayam petelur dengan membangun kompleks peternakan di Bintan, yang meningkatkan kapasitas produksi telur nasional. Dengan jaringan distribusi yang luas, Japfa menjadi pemasok penting kebutuhan telur komersial maupun industri makanan.
Kehadiran dua perusahaan ini menjadikan industri ayam dan telur Indonesia sangat terkonsentrasi. Peternak rakyat, yang bergantung pada pasokan bibit dan pakan dari mereka, sering kali kehilangan daya tawar. Harga DOC dan pakan ditentukan oleh segelintir korporasi, sementara margin keuntungan peternak kecil semakin tipis. Dominasi CPIN dan JPFA bukan hanya soal bisnis, tetapi juga menyangkut kedaulatan pangan dan ekonomi rakyat, yang kini terancam oleh struktur pasar yang semakin oligopolistik.
Penulis: Hari Tri Wasono




