Poin Penting:
- Gen Z cenderung menolak gaya kepemimpinan lama seperti otoriter, komunikasi satu arah, dan budaya senioritas
- Pemimpin yang transparan, kolaboratif, dan terbuka terhadap kritik lebih sesuai dengan karakter Generasi Z
- Work-life balance, inovasi, dan kepercayaan kepada tim menjadi nilai penting dalam kepemimpinan yang disukai Gen Z
Bacaini.ID, KEDIRI – Generasi Z memiliki pandangan berbeda terhadap sosok pemimpin. Dibanding gaya kepemimpinan lama atau tradisional yang kaku dan penuh basa-basi, Gen Z lebih menyukai pemimpin yang terbuka, komunikatif, serta berorientasi pada hasil dan kolaborasi.
BACA JUGA: Perilaku Politik Gen Z Tahun 2026, Partai Wajib Tahu
Misalnya gaya basa-basi dalam sebuah kontestasi politik, beralasan maju sebagai kandidat karena diinginkan grassroot. Generasi kelahiran 1997-2012 kurang suka itu. Gen Z lebih suka gaya kepemimpinan yang jelas, lugas, tidak banyak basa-basi yang ambigu, paradoks, dan sekaligus hipokrit.
Contohnya maju kontestasi politik karena alasan ingin membenahi situasi yang carut marut, tidak segan minta maaf dan siap mundur ketika gagal, itu lebih disukai Gen Z. Kendati demikian mereka juga kurang menyukai gaya kepemimpinan yang otoriter, termasuk selalu mengedepankan komunikasi satu arah.
BACA JUGA: Gen Z Ogah Gabung Partai Politik, Tapi Tetap Kritis di Medsos
Berikut gaya kepemimpinan lama yang tidak disukai Gen Z yang tumbuh di era digital, kolaboratif dan serba cepat.
Kepemimpinan Otoriter
Gen Z tidak menyukai gaya kepemimpinan dengan semua keputusan datang dari atasan, bawahan hanya diminta patuh tanpa ruang berdiskusi dan kritik dianggap sebagai pembangkangan.
Komunikasi Satu Arah
Kurang menyukai gaya kepemimpinan di mana atasan hanya memberi instruksi tanpa mendengarkan masukan, tidak ada budaya feedback dua arah, dan pendapat karyawan muda sering diabaikan.
Hierarki yang Terlalu Kaku
Gen Z juga kurang menyukai sikap lebih menghargai jabatan ketimbang kompetensi, sulit mengakses pimpinan dan ide bagus ditolak hanya karena berasal dari pegawai junior.
Anti Perubahan dan Inovasi
Selalu menggunakan cara lama meski kurang efektif, enggan memanfaatkan teknologi baru, dan menganggap inovasi sebagai ancaman, juga kurang disukai Gen Z.
Mengutamakan Jam Kerja daripada Hasil
Gen Z tidak menyukai gaya kepemimpinan yang biasa menilai kinerja berdasarkan lama bekerja, bukan output, menganggap lembur sebagai tanda loyalitas dan kurang menghargai fleksibilitas kerja.
Micromanagement
Mengawasi pekerjaan secara berlebihan, tidak memberi kepercayaan kepada tim dan semua hal harus mendapat persetujuan atasan, kurang disukai Gen Z.
Kurang Transparan
Gen Z tidak suka pada gaya kepemimpinan yang acapkali membuat keputusan penting yang dibuat secara tertutup. Juga tidak pernah menjelaskan alasan dibalik kebijakan dan informasi hanya dimiliki kelompok tertentu.
Mengutamakan Senioritas
Promosi lebih didasarkan pada masa kerja daripada kemampuan, ide pegawai muda sering dianggap belum layak dan kreativitas kalah oleh budaya “sudah dari dulu begitu” juga tidak disukai Gen Z.
Budaya Takut Salah
Gen Z tidak suka gaya kepemimpinan langsung menghukum mereka yang salah. Tidak memberi ruang belajar dari kegagalan, yang membuat karyawan atau anak buah enggan mencoba hal baru.
Gen Z juga kurang menyukai gaya kepemimpinan yang mengabaikan work-life balance. Juga pemimpin yang kurang memiliki empati, hanya fokus pada target, tidak peduli kondisi mental atau kesejahteraan tim dan menganggap masalah pribadi tidak boleh memengaruhi pekerjaan.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Gus Kikin Maju Calon Ketum PBNU di Muktamar Jombang, Penugasan PWNU Jatim dan artikel lainnya di rubrik BACA




