Poin Penting:
- Croissant dengan topping menyerupai rambut viral di media sosial karena tampilannya yang kontroversial
- Topping hitam tersebut sebenarnya adalah Fat Choy, bahan pangan langka yang menjadi simbol kemakmuran dalam budaya Tionghoa
- Penggunaan Fat Choy di atas croissant dinilai menyimpang dari tradisi kuliner aslinya
Bacaini.ID, KEDIRI – Croissant dengan topping menyerupai gumpalan rambut kemaluan viral di media sosial dan memancing pro-kontra karena tampilannya yang dianggap vulgar. Namun di balik sensasi kuliner tersebut, topping itu ternyata menggunakan Fat Choy, bahan pangan langka dari China yang memiliki filosofi kemakmuran dalam tradisi masyarakat Tionghoa serta bernilai hingga jutaan rupiah per kilogram.
BACA JUGA: Dari New York ke Kediri: Jejak Sejarah Cromboloni
Di media sosial lokal, menu ini langsung memicu berbagai reaksi dan mendapat julukan plesetan yang mengundang gelak tawa karena kemiripan visualnya yang vulgar. Banyak warganet yang menganggapnya mirip dengan rambut kemaluan dan tak sedikit yang merasa jijik untuk memakannya. Namun dibalik kontroversi visual tersebut tersimpan fakta sejarah, budaya, dan ekologi.
Berawal dari Prank Ulang Tahun di Pattaya
Kuliner yang viral secara internasional ini diciptakan sebuah toko roti dan studio kue, Sai Wan Bakehouse, yang berada di Pattaya, Thailand. Dari kisah yang beredar luas di internet, visual rambut yang dijadikan topping kue tercipta spontan ketika seorang pelanggan memesan kue ulang tahun bertema humor atau prank, untuk mengerjain teman.
Pihak toko kemudian mengadaptasi visual gumpalan rambut tersebut ke atas croissant berlapis krim kastard manis tebal untuk dijual secara umum. Kontras antara warna hitam pekat seperti gumpalan helaian rambut di atas krim putih inilah yang memicu asosiasi visual yang menggelikan bagi netizen.
BACA JUGA: 10 Kuliner PKL Indonesia Paling Lezat Versi TasteAtlas 2025
Di Thailand sendiri, menu ini dinamai secara blak-blakan dengan bahasa gaul lokal, yaitu ‘Mor Oi Croissant’, yang secara harfiah memiliki arti yang cukup vulgar: croissant rambut kemaluan. Tren mengejutkan dari Pattaya ini dengan cepat melintasi batas negara dan diadopsi oleh berbagai kafe modern di Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia.
Makna Fat Choy dalam Tradisi Imlek
Gumpalan hitam yang diposisikan secara kontroversial di atas pastry modern tersebut sebenarnya merupakan Fat Choy, salah satu bahan makanan paling sakral, langka, dan dihargai sangat mahal dalam tradisi kuliner etnis Tionghoa.
Bagi masyarakat awam, rupa Fat Choy mentah yang mirip rambut kusut kusam sama sekali tidak membangkitkan selera. Namun, dalam budaya Tionghoa, bahan makanan dinilai dari makna filosofisnya, bukan sekadar tampilan luarnya. Nilai jual utama dari Fat Choy terletak pada aspek linguistik.
Dalam dialek Kanton, kata ‘Fat Choy’ diucapkan dengan nada yang sangat mirip dengan kata ‘Fa Cai’ dalam bahasa Mandarin, yang berarti ‘menjadi kaya raya’ atau ‘mendapatkan rezeki yang berlimpah’. Seperti dalam ucapan populer Gong Xi Fa Cai saat Imlek.
Pada setiap perayaan Imlek atau perjamuan bisnis besar, Fat Choy hampir selalu hadir di atas meja. Salah satu hidangan klasik yang wajib ada adalah kombinasi Fat Choy dengan tiram kering (Ho See). Secara fonetik, gabungan keduanya terdengar seperti ‘Ho See Fat Choy’, yang bermakna ‘Bisnis berjalan bagus dan mendatangkan kekayaan berlipat ganda’. Bagi para pengusaha, menyantapnya adalah sebuah doa dan ritual harapan.
Alga kering yang penampilannya dianggap aneh bagi orang awam ini juga berharga fantastis, bisa sampai jutaan rupiah per kilogramnya. Seringkali disebut juga sebagai ‘rumput laut hitam/kering’, bahan makanan ini dihargai mahal karena tingkat kelangkaan ekstrem.
Berbeda dengan rumput laut yang dibudidayakan di lautan luas, Fat Choy (Nostoc flagelliforme) sebenarnya merupakan sejenis cyanobacteria atau alga darat. Habitat aslinya sangat spesifik, yaitu di atas tanah kering, gersang, dan tandus di wilayah gurun Gobi, China Utara dan Barat Laut, seperti di Ningxia, Gansu, Qinghai, dan Xinjiang.
Proses memanen Fat Choi cukup rumit, para petani harus menyapu permukaan tanah gurun yang rapuh menggunakan sisir khusus untuk mengumpulkan untaian alga ini. Eksploitasi besar-besaran pada akhir abad ke-20 memicu kerusakan lingkungan, badai pasir, dan erosi hebat di gurun Gobi.
Demi menyelamatkan ekosistem, Pemerintah China mengeluarkan regulasi ketat dan sempat melarang total pemanenan liar. Kini, Fat Choy yang beredar di pasaran dikontrol ketat oleh kuota pemerintah atau berasal dari hasil riset budidaya yang sangat terbatas. Kelangkaan inilah yang membuatnya mendapatkan julukan sebagai ‘Emas Hitam dari Gurun’.
Mengapa Croissant Fat Choy Menuai Kontroversi?
Melihat Fat Choy disajikan kering di atas sebuah croissant modern memperlihatkan adanya salah kaprah yang besar dalam memperlakukan bahan mewah ini. Secara alami, Fat Choy mentah tidak memiliki rasa sama sekali (flavorless). Jika dimakan dalam kondisi kering, teksturnya akan terasa aneh dan mengganggu di lidah.
Kehebatan asli dari Fat Choy justru terletak pada kemampuan menyerap rasa (flavor-absorbent) yang luar biasa tinggi. Dalam pakem kuliner tradisional Tionghoa, Fat Choy harus direndam terlebih dahulu hingga mengembang, kemudian dimasak perlahan dalam waktu lama bersama kaldu abalone yang pekat, saus tiram, minyak wijen, dan jamur shiitake. Saat dimasak, untaian Fat Choy mengembang menjadi super lembut dan mengunci seluruh rasa umami dari kuah kaldu di setiap sela-sela jalinannya.
Ketika digigit, kuah gurih yang kaya rasa akan meledak di dalam mulut. Sensasi kelembutan yang berpadu dengan ledakan rasa gurih mendalam inilah yang dicari oleh para pencinta kuliner premium, sebuah kontras total jika ia dipaksakan bersanding kering dengan rasa mentega manis dari sebuah pastry Prancis.
Eksperimen Mor Oi Croissant di Pattaya maupun adaptasinya di berbagai negara, mungkin sukses besar dari sudut pandang pemasaran digital. Fenomena shock value marketing, sengaja memancing kontroversi, rasa geli, atau rasa jijik, telah berhasil membawa menu ini ke panggung viral internasional. Namun, seperti kebanyakan tren makanan ekstrem lainnya, usianya diprediksi tidak akan bertahan lama karena tidak menawarkan keharmonisan rasa.
Di balik riuhnya komentar miring netizen, eksistensi Fat Choy sendiri tetap tidak akan tergoyahkan. Ia akan tetap menjadi bahan makanan yang agung dan dicari oleh mereka yang menghargai sejarah, kelangkaan, dan filosofi di dalamnya. Tren croissant rambut bisa jadi terlupakan dalam hitungan bulan, namun esensi Fat Choy sebagai simbol doa menuju kemakmuran akan selalu abadi di setiap perayaan Imlek.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Riset di Basis DI/TII: Strategi Turba PKI Merebut Hati Kaum Tani dan artikel lainnya di rubrik BACAGAYA




