Poin Penting:
- Penelitian terbaru di Liang Bua menyimpulkan Homo floresiensis kemungkinan besar bukan pemburu mamalia besar, melainkan memanfaatkan sisa buruan Komodo
- Bukti baru juga menunjukkan Homo floresiensis belum menguasai api karena tulang yang sebelumnya dianggap terbakar ternyata hanya mengalami pewarnaan alami akibat mangan
- Temuan ini menggoyahkan teori bahwa Homo floresiensis merupakan keturunan Homo erectus dan membuka peluang hipotesis baru mengenai evolusi manusia purba di Flores
Bacaini.ID, KEDIRI – Pandangan atau teori Homo floresiensis, manusia purba asal Flores Nusa Tenggara Timur (NTT) bertubuh kerdil dengan julukan ‘Hobbit’ memiliki kecerdasan tinggi karena mampu berburu mamalia besar dan mengendalikan api, patah oleh temuan termutakhir belum lama ini. Mereka diduga bertahan hidup dengan memanfaatkan makanan sisa buruan Komodo.
BACA JUGA: Penemuan Kerangka 5.000 Tahun Diduga Bukti Ritual Tumbal Manusia
Bukti terbaru hasil penelitian pada fosil gajah purba kerdil (Stegodon florensis insularis) di Gua Liang Bua menyebut, mereka diduga adalah pemakan bangkai atau skavenger, sisa dari makanan Komodo (Varanus komodensis). Temuan termutakhir tersebut dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Science Advances.
Temuan tersebut sekaligus menegaskan posisi predator puncak di pulau tersebut saat itu dipegang sepenuhnya oleh Komodo.
Penelitian Terbaru Membantah Teori Homo floresiensis sebagai Pemburu
Untuk memecahkan misteri siapa yang sebenarnya membunuh gajah purba di Flores, tim peneliti internasional yang dipimpin oleh E. Grace Veatch, seorang paleoantropolog dari University of Tübingen, Jerman, melakukan eksperimen unik. Mereka memberikan bangkai kambing kepada komodo yang berada di Kebun Binatang Atlanta (Zoo Atlanta).
BACA JUGA: Jejak Peradaban Emas di Kelurahan Kemasan Kota Kediri
Setelah komodo menyelesaikan santapannya, para peneliti mengumpulkan sisa tulang kambing tersebut untuk mendokumentasikan setiap bekas gigitan, lubang, dan goresan yang ditinggalkan oleh gigi tajam sang reptil purba. Hasil eksperimen menunjukkan bahwa komodo memiliki kecenderungan kuat untuk menyerang dan menghabiskan bagian tubuh yang paling tebal dan banyak mengandung daging.
Ketika para peneliti membandingkan pola tersebut dengan fosil gajah kerdil Stegodon dari Gua Liang Bua, mereka menemukan fakta mengejutkan. Jumlah bekas gigitan komodo ternyata dua kali lipat lebih banyak daripada bekas sayatan alat batu milik Homo floresiensis.
Lebih penting lagi, bekas gigitan komodo berada di area tulang yang kaya daging, sedangkan sayatan alat batu buatan Hobbit hanya ditemukan di area yang minim daging. Pola ini membuktikan secara telak bahwa komodo adalah pemburu utama yang menikmati daging segar terlebih dahulu, sedangkan manusia kerdil Flores baru datang kemudian untuk mengais sisa-sisa daging yang tertinggal.
Mitos Penguasaan Api Homo floresiensis Ikut Gugur
Eksperimen tersebut, selain membantah kemampuan berburu ‘Hobbit’, juga meruntuhkan asumsi bahwa Hobbit Flores telah menguasai teknologi api. Pada ekskavasi terdahulu, para arkeolog menemukan tulang-belulang hewan yang tampak menghitam dan hangus, yang sempat ditafsirkan sebagai bukti bahwa makanan mereka dimasak terlebih dahulu.
Namun, dalam studi terbaru ini, tim ilmuwan memeriksa lebih dari 4.000 sampel tulang tikus purba dari situs Liang Bua. Hasil pemindaian menunjukkan tidak ada indikasi kerusakan akibat suhu tinggi atau pembakaran. Warna hitam yang menempel pada tulang tersebut dipastikan merupakan noda mangan (manganese staining) yang terbentuk secara alami akibat proses kimiawi di dalam tanah gua selama puluhan ribu tahun.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa Homo floresiensis memakan sisa daging gajah purba tersebut dalam keadaan mentah. Penurunan status perilaku ini memicu tanda tanya besar yang semakin memperumit teka-teki asal-usul evolusi manusia purba ini.
Penguasaan api dan kemampuan berburu kelompok mamalia besar merupakan ciri khas dari perilaku maju kelompok genus Homo seperti Homo erectus maupun manusia modern (Homo sapiens). Dengan absennya kemampuan berburu dan mengendalikan api, teori bahwa Hobbit merupakan keturunan dari Homo erectus yang menyusut akibat keterbatasan sumber daya pulau (island dwarfism) kini dipertanyakan kembali.
Para ilmuwan mulai condong pada hipotesis alternatif: Homo floresiensis mungkin merupakan keturunan langsung dari garis keturunan manusia purba bertubuh kecil yang jauh lebih primitif, yang bermigrasi keluar dari Afrika dalam gelombang yang terpisah dan jauh lebih awal sebelum spesies manusia maju lainnya berkembang.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: NU Pernah Minta Bantuan PSI, Sutan Sjahrir Menolak dan artikel lainnya di Rubrik TEKNO & SAINS




