Poin Penting:
- Semarang dikenal sebagai “Mekkahnya” kaum merah karena menjadi pusat lahirnya gerakan buruh dan organisasi kiri pada awal abad ke-20
- Lawang Sewu menyimpan sejarah penting perjuangan buruh kereta api, namun kini lebih populer karena kisah-kisah urban legend
- Tokoh seperti Semaun dan Tan Malaka memiliki peran besar dalam sejarah pergerakan nasional yang berakar dari Semarang
Bacaini.ID, SEMARANG – Semarang adalah ‘Mekkahnya’ kaum merah, begitu adagium yang sering terdengar di kalangan aktivis pergerakan yang gemar menggumuli narasi sejarah. Juga menjadi sisi terpenting ‘Segi Tiga Merah’ ketika dipertautkan dengan Solo dan Yogya yang berjarak tempuh sekitar 110 kilometer.
Kalau Blitar disebut ‘Mekkahnya’ kaum nasionalis lantaran adanya makam Soekarno, Sang Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Semarang karena alasan kuatnya jejak sejarah pergerakan orang-orang kiri republik, orang-orang kiri revolusioner, terutama pada masa pra kemerdekaan.
BACA JUGA: Tan Malaka Melihat Pan Islamisme sebagai Perlawanan Terhadap Kapitalisme
Pada awal abad ke-20 Semarang menjadi pusat gerakan buruh dan radikalisme politik yang dipelopori oleh Sarekat Islam (SI). Di tangan Semaun, Ketua SI Semarang, lahir organisasi Sentral Serikat Pekerja yang sekaligus menjadi motor penggerak aksi-aksi pemogokan massal kaum buruh, utamanya buruh kereta api.
Semaun yang berlatar jurnalis surat kabar VSTP (Serikat Buruh Kereta Api dan Trem) dan Sinar Djawa-Sinar Hindia, juga dikenal sebagai seorang propagandis dengan pergerakan yang selalu mendidihkan suhu sosial politik Semarang, dan itu klop dengan udara kotanya yang gerah.
Tiga tahun pasca terpilih sebagai Ketua SI Cabang Semarang (Mei 1917), Semaun menabalkan nama SI Merah atau Sarekat Rakyat (SR), yang itu untuk membedakan dengan SI kubu HOS Tjokroaminoto, Agus Salim dan Abdul Muis yang dinilai kurang radikal dalam perjuangan.
Bersama Alimin dan Darsono, Semaun mengubah ISDV bentukan Sneevliet menjadi Partai Komunis Hindia (23 Mei 1920), di mana dirinya didapuk sebagai ketua. Partai Komunis Hindia (PKH) kemudian berubah nama menjadi Partai Komunis Indonesia (PKI), dan SI Merah melebur ke dalamnya.
Sejarah mencatat, Semaun meninggalkan Semarang untuk bertolak ke Moskow, Uni Soviet pada tahun 1921. PKI dibawanya masuk ke dalam komunis internasional (Komintern). Pada tahun 1923 Ketua PKI pertama tersebut ditangkap oleh pemerintah kolonial dan dibuang ke Belanda.
Sementara selama ditinggal ke Uni Soviet, posisi Ketua PKI digantikan oleh Tan Malaka, seorang ideolog, tokoh pergerakan, organisatoris, penerima testament politik Soekarno yang kelak terbunuh di Kediri Jawa Timur. Di masa kepemimpinan Tan Malaka, lahir Sekolah Rakyat yang oleh pemerintah kolonial dicap sekolah liar.
Lawang Sewu, Saksi Sejarah Perjuangan Buruh Kereta Api
Berdiri megah di seberang bundaran Tugu Muda Semarang, bangunan yang populer dengan nama Lawang Sewu itu terlihat paling menonjol ketimbang yang lain. Di siang yang terik itu, tampak deretan orang berbaris di pintu loket yang tersedia, yang selanjutnya mengantri masuk ke dalamnya.
Pada sudut lain di luar pagar, terlihat kerumunan orang duduk-duduk, berteduh di bawah rindang pohon asam tua yang masih cukup banyak dijumpai di sepanjang jalan raya Kota Semarang. Sambil berdiri beberapa orang menikmati es potong yang dijajakan pedagang lokal dengan cara unik: beli tiga potong gratis satu.

Sebagai museum dan galeri perkeretapian, Lawang Sewu yang jadi tujuan utama setiap wisatawan yang melawat ke Semarang, dulunya merupakan kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS), semacam jawatan kereta api swasta di masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda.
BACA JUGA: Sejarah May Day di Indonesia: Ajaran Semaun tentang Persatuan Buruh
Pada masa kepemimpinan Semaun di SI Merah, para buruh jawatan kereta api Semarang yang secara struktural di bawah kendali NIS tersebut, diorganisir, diberi kesadaran arti perjuangan, dipahamkan akan nilai Sama Rata Sama Rasa, lalu digerakkan dalam sebuah aksi pemogokan massal.
Karena aksi radikalnya yang sulit dijinakkan, pemerintah kolonial Belanda kemudian memutuskan menangkap dan mengasingkannya.
Urban Legend yang Menenggelamkan Sejarah
Sebuah lokomotif peninggalan zaman bergolak (pra kemerdekaan) dipajang sebagai monumen di depan pintu masuk gedung Lawang Sewu Semarang. Keberadaannya memperkuat para penyuka kisah urban legend.
Mulai masuk pintu pertama dan selanjutnya menapaki lorong-lorong panjang, terlihat betapa tingginya langit-langit ruangan khas bangunan peninggalan Belanda. Meski siang hari, pendar cahaya lampu ruangan Lawang Sewu terasa suram sekaligus mencekam.

Didesain gaya Hindia Baru dengan banyak ruangan oleh Cosman Citroen dari firma yang dibentuk arsitek J.F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, Lawang Sewu Semarang selesai dibangun pada tahun 1919 dengan peletakan batu pertama tahun 1904.
Lawang Sewu memiliki jumlah pintu 928 buah dengan 1000 jendela yang sengaja didesain berukuran besar, untuk beradaptasi dengan iklim Indonesia, khususnya Semarang yang berudara lembap dan panas.
Pada masa penjajahan Jepang (1942-1945) ruang bawah tanah Lawang Sewu, terutama di kompleks gedung B yang terdiri atas tiga lantai, diubah menjadi penjara dengan para tahanan yang kemudian dieksekusi mati di dalamnya.
Pada siang itu, sedikitnya tiga orang wisatawan yang baru saja menyusuri lorong dan melihat-lihat ruangan, menggunjingkan hasil jepretan kamera ponselnya. Salah satu di antaranya mempertanyakan penampakan sosok perempuan setengah baya berwajah Eropa, namun oleh yang lain dianggap hasil rekayasa (editan).
Mungkin berangkat dari peristiwa serupa, kisah-kisah urban legend kemudian berkembang di masyarakat. Cerita-cerita horror yang kemunculannya telah menenggelamkan sejarah Semarang yang pernah menjadi pusat pergerakan buruh dan radikalisme politik dan karenanya disebut sebagai ‘Mekkahnya’ kaum merah.
Penulis: Solichan Arif
BACA JUGA: 97 Tahun Sumpah Pemuda: Semaun Umur 21 Tahun Ketua Partai, Kamu? dan artikel lainnya di Rubrik HISTORIA




