Poin Penting:
- Tan Malaka memandang Pan Islamisme sebagai gerakan pembebasan nasional dan perlawanan terhadap kapitalisme serta imperialisme dunia
- Dalam Kongres Komintern 1922, ia menolak kebijakan anti-Pan Islamisme dan menegaskan pentingnya kerja sama Islam dengan komunisme melawan penjajahan
- Menurut Tan Malaka, perpecahan Islam dan komunisme di Hindia Belanda diperparah oleh propaganda pemerintah kolonial yang menuduh komunis memusuhi agama
Bacaini.ID, KEDIRI – Pan Islamisme di mata Tan Malaka adalah gerakan persaudaran sesama muslim dengan ghirah perjuangan kemerdekaan, dengan semangat persatuan melawan kapitalisme di dunia. Yang dilawan bukan hanya kapitalisme Belanda di Jawa, tapi juga Inggris, Perancis dan Italia yang menindas rakyat India dan Arab.
BACA JUGA: Pesona Tan Malaka yang Bikin Intel Jepang Terkesima
Dengan lantang Tan Malaka memaparkan narasi Islam dan Komunisme dalam pidato di Kongres Komunis Internasional (Komintern) keempat pada 12 November 1922 di Uni Soviet. Arah pikirannya terang-terangan menentang tesis Vladimir Lenin yang diadopsi oleh Kongres Komintern kedua: perjuangan melawan Pan Islamisme.
Di forum yang dihadiri para pemimpin komunis di dunia, Tan Malaka menegaskan dirinya bicara atas nama Partai Komunis Jawa dan jutaan rakyat tertindas di Timur. Ia bicara tentang Sarekat Islam (SI) yang sekaligus untuk menjelaskan kedudukan Pan Islamisme dan front persatuan dalam sejarah.
Antara tahun 1912-1916 hingga 1921 bulan sabit dan palu arit telah bersatu. Komunisme dan Islam di Jawa bekerja sama melawan kapitalisme dan terjadi radikalisme dalam gerakan perlawanan. Slogan-slogan SI yang berbunyi: Semua kekuasaan untuk kaum tani miskin, semua kekuasaan untuk kaum proletar!, bertebaran di rakyat pedesaan.
“Dengan demikian Sarekat Islam melakukan propaganda yang sama seperti Partai Komunis kita, hanya saja terkadang menggunakan nama yang berbeda,” kata Tan Malaka seperti dikutip dari buku Komunisme dan Pan Islamisme.
Sayangnya telah terjadi kecerobohan kritik pada kepemimpinan SI, yang mengakibatkan perpecahan. Perpecahan komunisme dan Islam tersebut dipertajam oleh pemerintah Hindia Belanda dengan mengeksploitasi keputusan Kongres Komintern kedua: Perjuangan melawan Pan Islamisme.
Dihasutnya rakyat petani jelata dengan narasi yang memojokkan komunisme. Ditiupkan di sana-sini komunis tidak hanya menginginkan perpecahan, tapi juga ingin menghancurkan agama Islam. Di dunia sudah kehilangan segalanya, surga pun mau diambil juga oleh komunis. Hasutan agen-agen kolonial tersebut berhasil membelah Islam dan Komunisme.
Upaya Tan Malaka Memperbaiki Hubungan dengan Umat Islam
Tan Malaka berusaha memperbaiki kembali hubungan komunis dengan SI, yang itu sudah semestinya terjadi dalam rangka melawan kapitalisme dan imperialisme. Dicontohkannya kerja sama muslim di Kaukasus dan negara lain dengan Uni Soviet untuk melawan kapitalisme internasional.
Komunikasi kembali terjalin, namun di setiap pertemuan publik, orang-orang komunis di Jawa masih dicecar pertanyaan soal Islam dan Tuhan. Ditanya apakah mereka muslim? Apakah percaya Tuhan? Tan Malaka pun menepis keraguan para penanya dengan menjawab setiap tanya yang dilontarkan.
“Saya katakan, ketika saya berdiri di depan Tuhan, saya adalah seorang Muslim. Tapi ketika saya berdiri di depan banyak orang, saya bukan seorang Muslim. Karena Tuhan mengatakan bahwa banyak iblis di antara banyak manusia,” kata Tan Malaka.
BACA JUGA: Tan Malaka dan Kontroversi ‘Agama adalah Candu’ dalam Konteks Indonesia
Tan Malaka tidak berharap kerjasama yang membaik tersebut rusak oleh hasil keputusan Kongres Komintern kedua. Baginya, Pan Islamisme adalah perjuangan untuk pembebasan nasional, yang bagi muslim adalah segalanya. Bukan hanya agama, tapi juga negara, ekonomi, makanan dan segalanya.
Pan Islamisme adalah perjuangan melawan semua kekuasaan imperialis di dunia. Karenanya itu komunisme sudah semestinya memberikan dukungan, seperti halnya mendukung perjuangan nasional. “Mendukung perjuangan kemerdekaan 250 juta Muslim yang sangat pemberani, yang hidup di bawah kekuasaan imperialis,” katanya seperti dikutip dalam buku Komunisme dan Pan Islamisme.
Penulis: Solichan Arif
BACA JUGA: Wawali Blitar Dukung Evaluasi Total MBG, Elim Tyu Samba: Bukan Dihentikan dan artikel lainnya di Rubrik HISTORIA




