• Login
Bacaini.id
Friday, June 19, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Fakta Medis Kamari Jennifer Coppen Kalem karena Diet Tanpa Gula

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
19 June 2026 06:05
Durasi baca: 5 menit
kamari jennifer coppen

Kamari Sky Wassink mencuri perhatian saat mendampingi Jennifer Coppen di momen pernikahan. Benarkah pola makan tanpa gula tambahan berpengaruh pada emosi dan ketenangan balita? (foto/ist)

Poin Penting:

  • Tidak ada bukti ilmiah kuat bahwa gula langsung menyebabkan anak hiperaktif atau mengalami “sugar rush”.
  • Pembatasan gula tambahan tetap bermanfaat karena membantu menjaga stabilitas energi, suasana hati, dan kualitas tidur balita
  • Anak yang tenang dipengaruhi banyak faktor seperti temperamen bawaan, rutinitas, serta rasa aman dari lingkungan pengasuhan

Bacaini.ID, KEDIRI – Kamari Sky Wassink, putri Jennifer Coppen, mencuri perhatian publik saat momen pernikahan sang ibu dengan Justin Hubner. Di tengah pujian atas sikapnya yang tenang dan kooperatif, muncul klaim bahwa pola makan bebas gula tambahan menjadi kunci utama. Namun benarkah membatasi gula bisa membuat balita otomatis lebih kalem? Ataukah ada faktor lain yang luput dari perhatian publik?

BACA JUGA: Bahaya Gula di Minuman: Bisa Bikin Kecanduan Seperti Narkoba

Berikut fakta medis di balik mitos sugar rush, dampak nyata pembatasan gula pada emosi anak, serta faktor psikologis apa saja yang sebenarnya membentuk perilaku tenang pada balita.

Mitos Sugar Rush, Apakah Gula Membuat Anak Hiperaktif?

Selama puluhan tahun, ada sebuah keyakinan kolektif di masyarakat bahwa konsumsi makanan manis, seperti permen, cokelat, atau es krim, akan langsung membuat anak menjadi hiperaktif, melompat-lompat, dan sulit dikendalikan. Fenomena ini populer dengan istilah ‘sugar rush’.

Namun, bagaimana pandangan sains dan dunia medis mengenai hal ini?

Secara mengejutkan, meta-analisis ilmiah menunjukkan bahwa gula tidak menyebabkan hiperaktivitas pada anak. Salah satu penelitian paling berpengaruh yang diterbitkan dalam The Journal of the American Medical Association (JAMA) melakukan uji klinis ketat terhadap efek gula pada perilaku anak.

Peneliti membandingkan anak-anak yang mengonsumsi makanan tinggi gula dengan mereka yang mengonsumsi pemanis buatan. Hasilnya? Tidak ada perbedaan perilaku yang signifikan di antara kedua kelompok tersebut.

Jika sains mengatakan gula tidak membuat anak hiperaktif, mengapa banyak orang tua bersikeras menyaksikannya sendiri dan meyakini bahwa anak mereka mengalami sugar rush?

Hal ini tak lepas dari bias ekspektasi orang tua. Dalam sebuah studi, sekelompok ibu diberitahu bahwa anak mereka baru saja mengonsumsi makanan tinggi gula, padahal anak-anak tersebut sebenarnya diberi pemanis buatan. Hasilnya, para ibu tersebut cenderung menilai anak mereka menjadi jauh lebih hiperaktif dan mulai mengkritik perilaku anak mereka, meskipun secara objektif tidak ada perubahan perilaku pada anak.

Selain itu adalah faktoor lingkungan. Anak-anak biasanya mengonsumsi gula dalam jumlah besar saat berada di acara yang menyenangkan, seperti pesta ulang tahun, liburan, atau perayaan keluarga. Kegembiraan, keramaian, dan kebebasan bermain di acara-acara inilah yang memicu adrenalin anak melonjak, bukan kandungan gula dalam makanan mereka.

Dampak Nyata Pembatasan Gula Tambahan terhadap Emosi Balita

Meskipun mitos sugar rush dapat dibantah, bukan berarti keputusan Jennifer Coppen untuk menerapkan pola makan bebas gula tambahan pada Kamari merupakan hal yang sia-sia. Langkah ini secara medis sangat tepat, tidak hanya untuk kesehatan fisik namun juga stabilitas emosional anak.

Gula sederhana atau gula tambahan sangat cepat diserap oleh tubuh, menyebabkan lonjakan kadar glukosa darah secara drastis. Untuk mengatasinya, tubuh melepaskan hormon insulin dalam jumlah besar agar kadar gula kembali turun.

Penurunan kadar gula darah secara mendadak ini disebut dengan ‘sugar crash’. Saat mengalami sugar crash, anak akan merasakan gejala berupa: tubuh terasa lemas dan kehilangan energi secara tiba-tiba, munculnya rasa lapar yang agresif, perubahan suasana hati (mood swing) menjadi sangat sensitif, mudah tersinggung, dan rewel.

Pada balita yang belum mampu mengomunikasikan ketidaknyamanan fisiknya dengan kata-kata, kondisi sugar crash ini sering kali bermanifestasi dalam bentuk tantrum.

Dengan menerapkan diet bebas gula tambahan, kadar gula darah Kamari cenderung stabil sepanjang hari, sehingga ia terhindar dari fluktuasi emosi ekstrem yang memicu rewel.

Konsumsi gula berlebih, terutama di sore atau malam hari, dapat mengganggu ritme sirkadian dan kualitas tidur anak. Anak yang kurang tidur atau memiliki kualitas tidur yang buruk akan bangun dalam kondisi lelah secara mental. Akibatnya, keesokan harinya mereka akan menjadi lebih rewel, tidak sabar, dan sulit diatur.

Anak Kalem Tidak Dibentuk Secara Instan

Anak yang tenang dan kooperatif tidak ‘diciptakan’ secara instan hanya dengan mmelarangnya makan gula. Ada banyak faktor, baik internal maupun eksternal, mengapa seorang anak terlihat lebih kalem dan kooperatif dibanding dengan anak-anak seusianya. Berikut di antaranya:

Temperamen Bawaan Anak (Nature)

Dalam psikologi perkembangan anak, dikenal konsep temperamen bawaan sejak lahir. Menurut studi pionir oleh Thomas dan Chess, temperamen anak secara umum dibagi menjadi tiga kategori:

The Easy Child (Anak yang Mudah)

Anak dalam kategori ini memiliki rutinitas yang teratur, mudah beradaptasi dengan lingkungan baru, cenderung ceria, dan tetap tenang meskipun berada di situasi asing atau ramai.

The Difficult Child (Anak yang Sulit)

Anak yang sensitif terhadap stimulasi, sulit menerima perubahan, dan bereaksi intens terhadap hal baru.

The Slow-to-Warm-Up Child

Anak yang membutuhkan waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan situasi baru.

Manajemen Rutinitas (Tidur dan Makan) yang Disiplin

Balita merupakan makhluk yang hidup dari rutinitas. Sebuah acara formal seperti pernikahan sering kali merusak jadwal harian anak, misalnya melewatkan jam tidur siang atau terlambat makan. Jadwal yang berantakan inilah pemicu utama tantrum pada balita.

Anak yang tampak tenang di acara formal biasanya memiliki orang tua atau pengasuh yang sangat disiplin dalam menjaga rutinitas mereka. Jika kebutuhan dasar anak seperti tidur siang yang cukup dan perut yang kenyang sudah terpenuhi sebelum acara dimulai, toleransi anak terhadap stres lingkungan seperti suara musik keras atau banyaknya orang asing, akan meningkat drastis.

Rasa Aman dan Kedekatan Emosional (Secure Attachment)

Anak-anak mengamati orang dewasa di sekitar mereka untuk membaca situasi. Jika orang tua menunjukkan gestur yang tenang, bahagia, dan penuh kasih sayang, anak akan merasa lingkungan tersebut aman. Sebaliknya, jika orang tua tampak stres dan tegang, anak akan menangkap sinyal bahaya dan mengekspresikannya lewat sikap rewel.

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

BACA JUGA: Demo Dukung Program MBG di Blitar, Massa: Jangan Biarkan Ompreng Kami Jadi Kenangan dan artikel lainnya di Rubrik BACAGAYA

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: dietJennifer coppenjustin hubnerkamarikamari sky wassinksugar rush
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ketua BPJS Watch Jatim Arief Supriyono S.T.,S.H.,S.E.,M.M.,CDRP

Tiga Reformasi JKN: Akhir Drama Rujukan dan Diskriminasi Kelas?

Aksi warga Nganjuk dukung program MBG

Relawan SPPG dan Warga Nganjuk Tolak Penghentian Program MBG yang Disuarakan Mahasiswa

kamari jennifer coppen

Fakta Medis Kamari Jennifer Coppen Kalem karena Diet Tanpa Gula

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In