Poin Penting:
- Starbucks Korea diboikot setelah promosi berbasis AI dianggap menyinggung tragedi Gwangju
- Penjualan dilaporkan turun tajam dan lebih dari 2.000 gerai akan tutup sementara
- Kasus ini menjadi contoh risiko penggunaan AI tanpa proses verifikasi manusia
Bacaini.ID, KEDIRI – Penggunaan kecerdasan buatan (AI) tanpa verifikasi kembali memicu krisis besar. Starbucks di Korea Selatan menjadi sasaran boikot publik setelah materi promosi berbasis AI dianggap menyinggung tragedi berdarah dalam sejarah demokrasi negara tersebut.
BACA JUGA: Intip Payudara di Starbucks, Ini Kelebihan CCTV
Peristiwa berlangsung pertengahan bulan lalu, namun imbas pada penjualan masih terasa hingga sekarang, termasuk akan dilakukan penutupan sementara ribuan gerai Starbucks di Korea Selatan.
Dikutip dari The Straits Times, data Mobile Index menyebut penjualan kartu prabayar dan transasi kartu kredit di Starbucks menukik tajam di akhir Mei 2026. Artinya terjadi penurunan penjualan 33% setiap minggu. Di awal bulan Juni ini, penjualan Starbucks melalui transaksi kartu kredit dilaporkan merangkak naik 12,8%.
Kabar terbaru, lebih dari 2000 gerai Starbucks di Korea Selatan akan ditutup sementara secara serentak pada 22 Juni nanti pada pukul 15.00 seiring kebijakan manajemen yang akan memberikan ‘kuliah’ pada seluruh pegawai Starbucks dari level atas hingga bawah tentang sejarah Korea modern dan pelatihan ‘sensitivitas sosial’.
Kebijakan ini tak lepas dari blunder besar yang dilakukan tim marketing Starbuck Korea Selatan dalam promosi produk yang dianggap masyarakat dan pemerintah setempat sebagai tindakan yang tidak sensitif dan membuka kembali luka sejarah.
Promo AI di Hari Peringatan Tragedi Gwangju Jadi Pemicu Krisis
Krisis yang terjadi antara Starbucks dan masyarakat serta pemerintah Korea Selatan bermula pada tanggal 18 Mei 2026 yang merupakan hari peringatan untuk mengenang pembantaian rakyat pro-demokrasi tahun 1980 di Gwangju.
BACA JUGA: Ube Geser Matcha, Minuman Ungu Jadi Tren Gaya Hidup Baru Pecinta Kuliner
Momen sejarah yang layaknya diperingati dengan takzim, justru dimanfaatkan oleh tim marketing Starbucks Korea untuk memberikan diskon seri tumbler yang sayangnya menggunakan slogan provokatif. Materi promosi yang mereka buat merupakan hasil kecerdasan buatan yang tanpa disengaja menyinggung luka kelam sejarah pembantaian pro-demokrasi di negara tersebut.
Starbucks di hari nasional Korea 18 Mei, meluncurkan kampanye diskon bertajuk ‘Tank Day’ untuk produk tumbler mereka dan itu blunder. Masalahnya, hari nasional tersebut Hari Peringatan Pembantaian Gwangju: tragedi berdarah oleh rezim militer yang salah satunya melindas para demonstran dengan tank.
Sementara dalam promonya, Starbucks juga mengusung slogan ‘Tak! On your desk’ yang merupakan produk AI, untuk mendefinisikan ketukan keras di meja. Slogan ini dianggap membangkitkan memori kelam tahun 1987 mengenai kematian aktivis mahasiswa Park Jong-chul yang disiksa pihak kepolisian.
Pada saat itu pihak kepolisian merilis pernyataan bohong yang mengatakan korban tewas terkena serangan jantung mendadak karena kaget ketika seorang petugas memukul meja dengan bunyi ‘tak’ saat interogasi.
CEO Dipecat dan Ribuan Gerai Ditutup Sementara
Akibat kampanye promosi yang ceroboh tersebut, Starbucks Korea diboikot dan mendapat kecaman dari berbagai penjuru Korea karena dianggap tidak sensitif. Media sosial dipenuhi dengan video warga Korea yang menghancurkan mug dan tumbler produk Starbucks sebagai bentuk protes keras mereka.
Meskipun promosi tersebut langsung dicabut dalam hitungan jam, kemarahan publik sudah tidak terbendung dan meluas. CEO Starbucks Korea langsung dipecat di hari yang sama saat promosi dirilis, dan pihak kepolisian Seoul menetapkannya sebagai tersangka kriminal.
Pemecatan massal pun terjadi di Starbucks Korea. Investigasi internal perusahaan menunjukkan bahwa kasus tersebut terjadi akibat kelalaian sistem manajemen. Beberapa manajer yang bertanggung jawab, diketahui menyetujui langsung kampanye tersebut tanpa melakukan verifikasi materi promosi grafis buatan AI itu terlebih dahulu.
Kecerdasan buatan (AI) bisa sangat membantu manusia untuk menyelesaikan tugas pelerjaan mereka, namun bagaimanapun, menggunakan AI tanpa verifikasi data secara manual, sangat berisiko.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: 4 Bisnis Kuliner UMKM Lagi Hype, Pemula Silahkan Mencoba dan artikel lainnya di Rubrik EKONOMI




