Poin Penting:
- Carb face dan protein face disebut bisa memengaruhi tampilan wajah sesuai pola makan
- Karbohidrat olahan berlebih memicu retensi air sehingga wajah tampak lebih bengkak atau “wajah bantal”.
- Protein dan karbohidrat kompleks dinilai membantu menjaga tampilan wajah lebih proporsional dan tetap sehat
Bacaini.ID, KEDIRI — Dalam komunitas diet dan kesehatan di media sosial, ada istilah populer untuk menggambarkan jenis makanan dominan yang dikonsumsi seseorang, secara langsung bisa memengaruhi bentuk dan tampilan wajah: ‘Carb Face’ dan ‘Protein Face’.
BACA JUGA: Memperbanyak Protein Jadi Tren Makanan Global Tahun 2025
Ya, wajah karbohidrat dan wajah protein. Seseorang dapat langsung diidentifikasikan apa yang lebih banyak ia konsumsi sehari-hari, hanya dilihat dari bentuk wajahnya saja. Kok bisa?
Bukan sekadar mitos atau tren kecantikan tanpa dasar, perubahan bentuk wajah sesuai apa yang paling banyak dikonsumsi ini memiliki penjelasan ilmiah yang sangat valid. Apa yang dikonsumsi seseorang terutama pada malam hari akan menentukan struktur wajahnya terlihat esok hari.
Jadi, jangan heran ketika terbangun di pagi hari mendapati wajah terlihat lebih bulat, sembap atau garis rahang jadi hilang, lazimnya di Indonesia disebut dengan ‘wajah bantal’. Atau sebaliknya, struktur wajah terlihat lebih tirus. Ini penjelasannya:
Apa Itu Carb Face dan Mengapa Wajah Bisa Bengkak?
Istilah carb face atau wajah karbo, digunakan untuk menggambarkan kondisi wajah yang tampak bengkak (puffy), bulat, dan kehilangan struktur alaminya setelah mengonsumsi karbohidrat olahan dalam jumlah tinggi seperti mi instan, pasta, roti putih, piza, atau martabak manis di malam hari.
Mengapa karbohidrat sebabkan ‘wajah bantal’? Jawabannya terletak pada mekanisme penyimpanan energi tubuh yang disebut glikogen. Ketika seseorang mengonsumsi karbohidrat, tubuh akan memecahnya menjadi glukosa.
Glukosa yang tidak langsung digunakan sebagai energi akan disimpan di otot dan hati sebagai glikogen. Secara biologis, molekul glikogen bersifat hidrofilik atau suka air. Data ilmiah menunjukkan bahwa setiap 1 gram glikogen yang disimpan tubuh akan mengikat sekitar 3 hingga 4 gram air.
Jadi, saat seseorang mengonsumsi semangkuk mi atau nasi goreng porsi besar, tubuhnya secara instan menahan ratusan gram air ekstra. Kabar buruknya, jaringan kulit di wajah, terutama di bawah mata dan pipi, sangat sensitif dan tipis, sehingga penumpukan air ini langsung terlihat dengan jelas keesokan paginya.
Tak hanya itu, konsumsi karbohidrat olahan dengan indeks glikemik tinggi menyebabkan lonjakan hormon insulin secara drastis. Berdasarkan studi kesehatan ginjal, kadar insulin yang tinggi memberi sinyal kepada ginjal untuk menahan lebih banyak natrium (garam) di dalam tubuh. Natrium yang tertahan ini memperparah efek retensi air, membuat wajah jadi terlihat seperti ‘mengembang’ ke samping.
Protein Face, Mengapa Wajah Terlihat Lebih Tirus?
Sebaliknya, protein face merupakan istilah untuk tampilan wajah yang terlihat tirus, kering, kencang, dengan struktur tulang pipi dan rahang yang tajam. Estetika wajah seperti ini biasanya ditemukan pada mereka yang membatasi karbohidrat dan meningkatkan konsumsi protein, seperti diet keto, karnivor, atau diet tinggi protein bagi gym-goer.
Bagaimana bisa diet protein bisa membuat tirus? Prinsipnya kebalikan dari konsumsi karbohidrat: ketika seseorang memangkas konsumsi karbohidrat dan mengalihkannya ke sumber protein seperti dada ayam, daging sapi, telur, atau ikan, tubuh akan kehabisan cadangan glikogen.
Akibatnya, tubuh akan membuang 3-4 gram air yang menempel pada setiap gram glikogen tersebut. Fenomena ini sering disebut sebagai efek drying out atau hilangnya water weight, berat air. Selain hilangnya retensi air, protein juga memiliki efek termal makanan yang paling tinggi dibandingkan makronutrisi lain. Tubuh membutuhkan energi 20-30% lebih besar hanya untuk mencerna protein, yang membantu metabolisme berjalan lebih cepat.
Dari sisi estetika kulit jangka panjang, protein merupakan penyusun utama asam amino yang dibutuhkan tubuh untuk memproduksi kolagen dan elastin. Dalam berbagai jurnal dermatologi, menunjukkan bahwa asupan protein yang optimal menjaga kepadatan dan elastisitas matriks kulit bawah, sehingga wajah tidak hanya tirus tetapi juga terlihat kencang dan tidak kendur.
Karbohidrat merupakan sumber energi utama bagi tubuh, terutama bagi otak dan aktivitas fisik yang intens. Jadi, bagaimanapun, tubuh tetap memerlukan karbohidrat namun tetap harus mengetahui jenis dan porsi yang sesuai untuk tubuh.
Carb face biasanya dipicu oleh karbohidrat olahan yang sudah kehilangan serat, dikombinasikan dengan kadar garam yang tinggi. Sebaliknya, jika mengonsumsi karbohidrat kompleks seperti ubi jalar, beras merah, oat, nasi dalam batas wajar, kandungan serat di dalamnya akan memperlambat penyerapan glukosa, mencegah lonjakan insulin yang ekstrem, dan meminimalkan efek wajah bengkak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Kuliner Indonesia ‘Menjajah’ Malaysia: Viral Chikuro, Ayam Gepuk dan Martabak dan artikel lainnya di rubrik BACAGAYA




