Poin Penting:
- Ilmuwan menemukan kuburan paus terbesar di dunia di Zona Diamantina, Samudra Hindia, dengan hamparan tulang paus sepanjang 1.200 kilometer
- Fosil tertua yang ditemukan berusia 5,3 juta tahun dan mencakup spesies paus purba yang telah punah
- Jutaan bangkai paus di kawasan ini membantu mengunci karbon di dasar laut sehingga berkontribusi terhadap kestabilan iklim bumi
Bacaini.ID, KEDIRI – Para ilmuwan internasional baru saja menemukan fenomena luar biasa. Di kedalaman Samudra Hindia, mereka menemukan sebuah wilayah yang dijuluki ‘Whale Necropolis’ atau Kota Kematian Paus’ karena terdapat kuburan paus.
Baca Juga:
Di kuburan menghampar fosil dan tulang belulang yang membentang sangat luas hingga ratusan kilometer di salah satu titik terdalam bumi. Kuburan massal paus ini terletak di sebuah wilayah retakan dalam bawah laut yang bernama Zona Diamantina.
Skalanya mengejutkan para peneliti: kumpulan tulang paus ini membentang sepanjang 1.200 kilometer, hampir setara jarak dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa. Letaknya pun berada di kegelapan abadi, yaitu di kedalaman 4.200 hingga 7.000 meter di bawah permukaan laut.
Ini adalah situs kuburan paus terbesar dan terdalam yang pernah ditemukan manusia. Lewat pengujian ilmiah pada sampel tengkorak terungkap fosil tertua yang ditemukan sudah berusia 5,3 juta tahun. Artinya, tempat ini sudah menjadi lokasi menumpuknya bangkai paus secara turun-temurun sejak zaman purba, jauh sebelum manusia modern ada.
Para ahli menemukan tiga alasan utamanya, mengapa jutaan paus bisa ‘berkumpul’ di tempat terpencil tersebut.
• Tempat Berburu Favorit
Wilayah ini merupakan rumah bagi jenis Paus Paruh. Paus ini adalah penyelam ulung yang hobi mencari makan di laut sangat dalam. Karena mereka hidup dan berburu di sana, banyak yang akhirnya mati alami di tempat tersebut.
• Efek ‘Corong’ Raksasa
Bentuk dasar laut di Zona Diamantina ini mirip seperti huruf V yang sangat curam. Jadi, ketika ada paus yang mati di perairan sekitarnya dan tenggelam, jasad mereka akan menggelinding atau terseret arus bawah laut, lalu terkumpul di dasar jurang tersebut.
• Awet Alami
Di kedalaman seekstrem itu, air laut sangat dingin seperti kulkas dan tidak banyak lumpur yang mengubur mereka. Alhasil, tulang-tulang paus ini tidak hancur atau tertimbun, melainkan tetap utuh tergeletak di dasar laut selama jutaan tahun.
Peneliti Temukan Fosil Paus Purba yang Sudah Punah
Di antara ribuan tulang yang berserakan, para ilmuwan tidak hanya menemukan kerangka dari jenis paus yang masih hidup saat ini. Mereka juga berhasil mendeteksi adanya fosil dari spesies paus purba yang sudah punah jutaan tahun lalu. Spesies baru ini kemudian diberi nama ilmiah Pterocetus diamantinae.
Baca Juga:
Meskipun dijuluki sebagai ‘kuburan’, tempat ini sama sekali tidak mati. Di dasar laut yang gelap dan minim makanan, bangkai paus yang baru jatuh justru menjadi berkah dan sumber makanan raksasa bagi makhluk laut dalam.
Para peneliti melihat bangkai-bangkai ini dikerumuni oleh ribuan hewan unik, mulai dari ubur-ubur, bintang laut, kepiting, hingga cacing khusus pemakan tulang. Bahkan, banyak hewan kecil di sana yang diduga merupakan spesies baru yang belum pernah dilihat manusia sebelumnya.
Para ilmuwan memperkirakan ada lebih dari 10 juta bangkai paus yang tertimbun di sepanjang zona ini. Penemuan ini menjadi sangat penting bagi lingkungan bumi, karena jasad paus yang tenggelam ini berhasil mengunci jutaan ton karbon di dasar laut, sehingga karbon tersebut tidak lepas ke atmosfer dan memicu pemanasan global.
Tanpa disadari, kuburan paus ini telah membantu menjaga suhu bumi tetap stabil selama jutaan tahun.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif



