Poin Penting:
- Kentang pernah dianggap haram dan hanya cocok sebagai pakan babi di Eropa
- Masyarakat saat itu menolak kentang karena dianggap asing dan dikaitkan dengan penyakit
- Krisis pangan mengubah pandangan hingga kentang menjadi salah satu pangan terpenting di dunia
Bacaini.ID, KEDIRI — Kentang kini dikenal sebagai salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Namun dalam perjalanan sejarahnya, tanaman asal Pegunungan Andes, Amerika Selatan ini pernah dipandang negatif di Eropa, bahkan dianggap haram dan lebih cocok dijadikan pakan babi ketimbang makanan manusia. Perubahan besar baru terjadi setelah krisis pangan memaksa masyarakat mencari sumber makanan alternatif.
Baca Juga:
Kentang diperkirakan telah dibudidayakan masyarakat Andes, terutama di wilayah Peru dan Bolivia modern, selama ribuan tahun. Ketika bangsa Spanyol membawa ke Eropa pada abad ke-16, mereka berharap tanaman tersebut dapat menjadi sumber pangan baru.
Bagi banyak orang Eropa saat itu, kentang terlihat asing. Berbeda dengan gandum yang menjadi bagian dari budaya dan tradisi selama berabad-abad, kentang tumbuh di dalam tanah dan belum dikenal dalam teks-teks keagamaan yang umum digunakan masyarakat sebagai rujukan. Karenanya, kentang dianggap sebagai makanan ‘haram’ dan tidak layak dimakan manusia.
Kondisi tersebut memunculkan berbagai prasangka yang kini terdengar tak masuk akal. Di sejumlah wilayah Eropa, kentang dikaitkan dengan penyakit dan kemiskinan. Ada pula anggapan bahwa tanaman yang tumbuh di bawah tanah tidak pantas menjadi makanan manusia. Sebagian masyarakat bahkan menganggap lebih cocok diberikan ternak dibanding disajikan di meja makan. Sebagian besar masyarakat yang menolak kentang, menjadikannya sebagai pakan babi
Sejarawan mencatat bahwa penolakan terhadap kentang tidak seragam di seluruh Eropa. Di Prancis, kentang sempat dicurigai sebagai penyebab penyakit. Pada pertengahan abad ke-18, budidayanya pernah dibatasi di beberapa wilayah karena kekhawatiran tersebut. Akibatnya, kentang semakin identik dengan tanaman yang harus dihindari.
Krisis Pangan Mengubah Pandangan Masyarakat Eropa
Pandangan masyarakat mulai berubah ketika Eropa berkali-kali menghadapi krisis pangan. Gagal panen gandum, cuaca buruk, dan peperangan membuat kebutuhan akan sumber makanan alternatif semakin mendesak.
Di sinilah kentang mulai dilirik karena berbagai keunggulannya. Tanaman ini mampu tumbuh di tanah yang relatif miskin unsur hara, menghasilkan kalori tinggi, dan lebih tahan terhadap kondisi cuaca tertentu dibanding sejumlah tanaman pangan lain.
Beberapa penguasa Eropa mulai mendorong rakyat untuk menanam kentang. Salah satu yang paling terkenal adalah Raja Prusia, Frederick II atau Frederick the Great. Ia dikenal aktif mengampanyekan budidaya kentang sebagai cara menghadapi ancaman kelaparan. Upayanya mengubah stigma masyarakat tentang kentang, tercatat sebagai bagian penting dari sejarah pangan Eropa.
Setelah diterima secara luas, kentang justru menjadi salah satu faktor yang membantu pertumbuhan populasi Eropa. Penelitian ekonom Nathan Nunn dan Nancy Qian yang dipublikasikan pada 2011 menunjukkan bahwa penyebaran kentang berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan dan pertumbuhan penduduk di Eropa serta berbagai wilayah dunia.
Dari tanaman yang pernah dianggap tidak layak dimakan, kentang berubah menjadi salah satu komoditas pangan paling penting dalam sejarah manusia.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




