• Login
Bacaini.id
Thursday, June 11, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sejarah Kentang: Pernah Dianggap Haram di Eropa Kini Jadi Makanan Populer

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
11 June 2026 13:04
Durasi baca: 3 menit
Ilustrasi sejarah kentang yang pernah ditolak masyarakat Eropa sebelum menjadi pangan populer dunia

Kentang yang kini jadi makanan populer dunia ternyata pernah dianggap haram dan hanya cocok untuk pakan babi di Eropa. Krisis pangan kemudian mengubah stigma itu (foto AI/ Bacaini.id)

Poin Penting:

  • Kentang pernah dianggap haram dan hanya cocok sebagai pakan babi di Eropa
  • Masyarakat saat itu menolak kentang karena dianggap asing dan dikaitkan dengan penyakit
  • Krisis pangan mengubah pandangan hingga kentang menjadi salah satu pangan terpenting di dunia

Bacaini.ID, KEDIRI — Kentang kini dikenal sebagai salah satu bahan pangan paling populer di dunia. Namun dalam perjalanan sejarahnya, tanaman asal Pegunungan Andes, Amerika Selatan ini pernah dipandang negatif di Eropa, bahkan dianggap haram dan lebih cocok dijadikan pakan babi ketimbang makanan manusia. Perubahan besar baru terjadi setelah krisis pangan memaksa masyarakat mencari sumber makanan alternatif.

Baca Juga:

  • Harga Sembako di Jawa Timur Naik Turun, Pemerintah Dituntut Intervensi

Kentang diperkirakan telah dibudidayakan masyarakat Andes, terutama di wilayah Peru dan Bolivia modern, selama ribuan tahun. Ketika bangsa Spanyol membawa ke Eropa pada abad ke-16, mereka berharap tanaman tersebut dapat menjadi sumber pangan baru.

Bagi banyak orang Eropa saat itu, kentang terlihat asing. Berbeda dengan gandum yang menjadi bagian dari budaya dan tradisi selama berabad-abad, kentang tumbuh di dalam tanah dan belum dikenal dalam teks-teks keagamaan yang umum digunakan masyarakat sebagai rujukan. Karenanya, kentang dianggap sebagai makanan ‘haram’ dan tidak layak dimakan manusia.

Kondisi tersebut memunculkan berbagai prasangka yang kini terdengar tak masuk akal. Di sejumlah wilayah Eropa, kentang dikaitkan dengan penyakit dan kemiskinan. Ada pula anggapan bahwa tanaman yang tumbuh di bawah tanah tidak pantas menjadi makanan manusia. Sebagian masyarakat bahkan menganggap lebih cocok diberikan ternak dibanding disajikan di meja makan. Sebagian besar masyarakat yang menolak kentang, menjadikannya sebagai pakan babi

Sejarawan mencatat bahwa penolakan terhadap kentang tidak seragam di seluruh Eropa. Di Prancis, kentang sempat dicurigai sebagai penyebab penyakit. Pada pertengahan abad ke-18, budidayanya pernah dibatasi di beberapa wilayah karena kekhawatiran tersebut. Akibatnya, kentang semakin identik dengan tanaman yang harus dihindari.

Krisis Pangan Mengubah Pandangan Masyarakat Eropa

Pandangan masyarakat mulai berubah ketika Eropa berkali-kali menghadapi krisis pangan. Gagal panen gandum, cuaca buruk, dan peperangan membuat kebutuhan akan sumber makanan alternatif semakin mendesak.

Di sinilah kentang mulai dilirik karena berbagai keunggulannya. Tanaman ini mampu tumbuh di tanah yang relatif miskin unsur hara, menghasilkan kalori tinggi, dan lebih tahan terhadap kondisi cuaca tertentu dibanding sejumlah tanaman pangan lain.

Beberapa penguasa Eropa mulai mendorong rakyat untuk menanam kentang. Salah satu yang paling terkenal adalah Raja Prusia, Frederick II atau Frederick the Great. Ia dikenal aktif mengampanyekan budidaya kentang sebagai cara menghadapi ancaman kelaparan. Upayanya mengubah stigma masyarakat tentang kentang, tercatat sebagai bagian penting dari sejarah pangan Eropa.

Setelah diterima secara luas, kentang justru menjadi salah satu faktor yang membantu pertumbuhan populasi Eropa. Penelitian ekonom Nathan Nunn dan Nancy Qian yang dipublikasikan pada 2011 menunjukkan bahwa penyebaran kentang berkontribusi terhadap peningkatan produksi pangan dan pertumbuhan penduduk di Eropa serta berbagai wilayah dunia.

Dari tanaman yang pernah dianggap tidak layak dimakan, kentang berubah menjadi salah satu komoditas pangan paling penting dalam sejarah manusia. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: eropakentangsejarah kentangsejarah pangan
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Direktur Jenderal Kekayaan Intelektual menyampaikan aturan hak siar untuk penyelenggaraan nobar Piala Dunia 2026

Aturan Nobar Piala Dunia 2026, DJKI: Hormati Hak Siar

Ilustrasi sejarah kentang yang pernah ditolak masyarakat Eropa sebelum menjadi pangan populer dunia

Sejarah Kentang: Pernah Dianggap Haram di Eropa Kini Jadi Makanan Populer

Rumah adat Indonesia menyimpan pengetahuan konstruksi tradisional yang dinilai lebih adaptif terhadap gempa

4 Rumah Adat Indonesia Tahan Gempa, Bukti Kearifan Lokal Sejak Dulu

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In