Poin Penting:
- Aliarcham diadili pemerintah kolonial Belanda setelah menyebut priyayi sebagai manusia togog yang tunduk pada penjajah
- Tokoh kelahiran Pati ini aktif di Sarekat Islam Merah dan kemudian memimpin Sarekat Rakyat pada 1923
- Pada 1925 Aliarcham ditangkap dan dibuang ke Boven Digul hingga wafat pada 1933
Bacaini.ID, KEDIRI – Aliarcham mengecam para priyayi penghamba pemerintah kolonial Belanda sebagai kaum togog, manusia bermental budak yang hanya memihak kepada mereka yang menang, tidak peduli dengan kesengsaraan rakyat. Karenanya gemar membungkuk-bungkuk di depan penjajah.
Baca Juga:
Dianggap melakukan penghinaan, Aliarcham diadili di pengadilan kolonial Belanda. Namun ia tidak terlihat gentar sedikitpun. Malah blak-blakan mengatakan priyayi bermental budak pada umumnya bodoh, penakut, dan tidak punya harga diri. Ketimbang jadi togog dirinya memilih hancur bersama rakyat.
“Lebih baik hancur bersama-sama rakyat ketimbang menjadi manusia togog,” tegas Aliarcham seperti dikutip dari buku Aliarcham, Sedikit Tentang Riwayat dan Perjuangannya (1964).
Pengadilan kolonial Belanda memutuskan Aliarcham bersalah dan dihukum empat bulan penjara. Ia mencoba banding di pengadilan di atasnya (Pengadilan Tinggi), namun hukumannya justru diperberat menjadi enam bulan penjara.
Profil Aliarcham dan Latar Belakang Pendidikan
Lahir 1901 di Asemlegi Kawedanan Juwana Kabupaten Pati Jawa Tengah, Aliarcham tumbuh di lingkungan keluarga dengan orang tua sebagai penghulu sekaligus pemuka agama Islam terkemuka.
Baca Juga:
Aliarcham sejak kecil dididik di lingkungan pesantren dan juga dengan mudah bersekolah di HIS (Hollands Inlandse School) karena orang tuanya memiliki kedudukan sosial.
Dikenal sebagai murid yang cerdas, ia mengenal ajaran Saminisme tentang persamaan dan persaudaraan manusia, gotong royong, anti penindasan, perlawanan dan anti penjajahan Belanda dari guru-guru agamanya.
Kebenciannya terhadap segala bentuk penindasan dan penjajahan yang terpupuk sejak kecil itu mempengaruhi cara berfikirnya hingga dewasa, dan menjadikannya sosok yang selalu membela kaum tertindas.
Aliarcham memulai jalan pergerakan dengan menggabungkan diri sebagai anggota Sarekat Islam Salatiga yang tidak lama berubah menjadi Sarekat Islam Merah. Melalui Semaun dan Sneevliet dirinya mengenal sosialisme lebih dalam.
Semangatnya terbakar oleh aksi-aksi massa revolusioner, pemogokan serikat buruh, rapat-rapat umum massa dan pemboikotan radikal. Aliarcham melihat ada sorga kehidupan dalam setiap perjuangan massa yang heroik.
Dibencinya para pemimpin-pemimpin yang berkedok agama tapi melakukan politik kolaborasi dengan pemerintah jajahan demi untuk mendapatkan kursi Volksraad.
Pada konferensi SI Merah di Bandung Maret 1923 ia mengusulkan nama SI Merah diubah Sarekat Rakyat (SR), dengan tujuan menarik garis tegas antara yang putih dan merah. Dalam konferensi tersebut Aliarcham terpilih sebagai ketua. Sejak itu SR tersebar cepat, terutama di seluruh Jawa.
Sepak terjang SR dengan aksi-aksi pemogokan buruh membuat pemerintah kolonial Belanda murka. Pada Desember 1925 Aliarcham ditangkap dan dibuang ke Boven Digul (Papua), menyusul Haji Misbach, tokoh SI Merah Laweyan Solo yang lebih dulu diasingkan.
Sukimah, istri Aliarcham dan Aneksimander, putra mereka sempat menemani di pengasingan, namun pada 1929 dimintanya kembali ke Jawa karena hendak melahirkan anak kedua.
Pada 1 Juli 1933 Aliarcham menghembuskan nafas terakhirnya di atas kapal sungai, di depan kawan-kawannya yang hendak membawanya berobat lantaran sakitnya yang sudah parah.
Jenazahnya kemudian dimakamkan di Tanah Merah dengan nisan bertuliskan: Obor yang dinyalakan di malam gelap gulita ini kami serahkan kepada angkatan kemudian.
Penulis: Solichan Arif




