Poin Penting:
- Soekarno secara terbuka menentang Amerika Serikat dan imperialisme Barat melalui pidato serta kebijakan politik yang tegas
- Kelompok kiri pendukung Bung Karno mendukung penuh sikap anti-Amerika dan mengkritik pihak yang dianggap pro-Barat
- Perlawanan terhadap Barat diwujudkan lewat kebijakan budaya dan diplomasi, termasuk pembentukan Conefo dan penyelenggaraan Ganefo
Bacaini.ID, KEDIRI – Soekarno berani melawan Amerika Serikat secara blak-blakan, dan menjadi satu-satunya Presiden Indonesia yang paling revolusioner mengambil sikap diametral dengan imperialisme, kolonialisme dan kapitalisme Blok Barat. Amerika kita setrika, Inggris kita linggis, Go to hell with your aid diteriakkan lantang dalam pidatonya.
Baca Juga:
Keberanian Bung Karno melawan Amerika mendapat dukungan politik dalam negeri, utamanya dari kekuatan golongan orang-orang kiri republik. Keberanian revolusioner tersebut dibreak down, dipropagandakan oleh para pendukungnya, termasuk untuk menyerang mereka yang masih terlihat ‘takut-takut’ dengan Amerika.
“Kalau takut, tinggalah dalam kamar tenang, menyelamatkan diri, dan jangan bergembar gembor ke delapan mata angin mengajak orang seluruh dunia supaya ikut takut Amerika,” demikian dikutip dari risalah Peranan Pers Dalam Taraf Baru Ofensif Manipolis.
Mereka yang bersikap oportunis pragmatis dengan sikap Bung Karno ‘dibully’ dengan analogi Republik dan Nica. Sebab bagi orang-orang kiri republik, garis manifesto politik (manipol) Usdek (UUD 1945, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia) sudah jelas.
“Apa batasan Manipolis-munafik? Manipolis-munafik adalah juga yang berfilsafat begini, Aku Manipolis, tapi aku suka amerikanisme. Seperti halnya filsafat kepala Republik, perut Nica,” seperti dikutip dari Peranan Pers Dalam Taraf Baru Ofensif Manipolis.
Baca Juga:
Sikap mereka yang takut-takut kepada Amerika itu juga diblejeti di ruang publik dalam opini media massa. Menyindir pedas dengan pantun: Lain Ciputat lain Krekot, bung, lain pengkhianat lain patriot. Pengkhianat pengecut itu biasanya mengatakan: jangan berani terhadap Amerika, kita bisa diserbunya.
Sikap berani Bung Karno kepada Amerika dan sekutunya (Blok Barat) juga ditampakan di lapangan kebudayaan dengan menerbitkan Perpres Nomor 11/1963 KUHP. Musik-musik barat disebut sebagai musik-musikan ala ngak ngik ngok, termasuk film Hollywood. Dalam pidato 17 Agustus 1959 Soekarno menyebut semua itu sebagai imperialisme kebudayaan.
Membuktikan mampu berdikari, Indonesia memutuskan keluar dari Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB). Menyusul itu Bung Karno mendirikan Converence of new emerging force (Conefo) tahun 1966 sebagai kekuatan alternatif. Juga menyelenggarakan Ganefo (Games of the new emerging forces) 10-22 November 1963 sebagai tandingan Olimpiade.
Pada saat yang sama di wilayah Asia bergema di mana-mana semboyan: Biar masalah-masalah Asia diselesaikan oleh Asia sendiri. Hal itu diterjemahkan sebagai peringatan kepada Amerika Serikat dan kaum imperialis lainnya: Hand off Asia.
Orang-orang kiri pendukung Soekarno menegaskan: Rakyat Indonesia tetap Rakyat Indonesia 1945. Rakyat Indonesia yang bertekad sekali merdeka tetap merdeka. Rakyat Indonesia semangat banteng yang tidak akan tunduk kepada Amerika Serikat, sekarang tidak, kapan pun tidak.
Penulis: Solichan Arif




