Bacaini.ID, JAKARTA – Ketika Vladimir Putin naik ke kursi Presiden Rusia, ia mewarisi sebuah negara yang sedang digerogoti oleh kekuatan oligarki. Para pengusaha kaya yang tumbuh pesat di era Boris Yeltsin telah menguasai aset strategis, dari minyak hingga media, dan menjadikan kekayaan negara sebagai ladang pribadi.
Putin datang dengan janji tegas. Menghapus oligarki sebagai kelas sosial politik. Namun, cara yang ditempuh bukan sekadar membubarkan, melainkan menundukkan mereka di bawah kendali Kremlin.
Langkah awal Putin langsung menyasar tokoh-tokoh paling berpengaruh.
Vladimir Gusinsky, pemilik MediaMost, ditangkap pada tahun 2000. Tuduhan hukum yang kabur membuatnya harus menyerahkan kepemilikan media, lalu melarikan diri ke luar negeri. Sejak saat itu, kontrol media beralih ke jaringan Kremlin.
Boris Berezovsky, pemegang saham ORT Television, menjadi sasaran setelah stasiun televisinya menyiarkan kritik atas tenggelamnya kapal selam Kursk. Putin menganggap liputan itu sebagai pengkhianatan. Berezovsky akhirnya menjual asetnya dan memilih hidup di pengasingan di London.
Mikhail Khodorkovsky, bos Yukos Oil, adalah oligarki paling vokal. Ia berani mengkritik korupsi pemerintah secara terbuka. Pada 2003, ia ditangkap dengan tuduhan pajak, perusahaannya dibubarkan, dan aset energi strategis kembali ke negara. Khodorkovsky dijatuhi hukuman penjara panjang, menjadi simbol kerasnya tangan Putin terhadap oposisi ekonomi.

Loyalitas atau Eksil
Putin kemudian menawarkan “kontrak sosial” kepada oligarki lain. Kekayaan boleh dipertahankan, asal tidak menantang kebijakan Kremlin. Mereka yang patuh tetap kaya, mereka yang melawan kehilangan segalanya.
Untuk memperkuat kontrol, Putin menempatkan kroni-kroninya di posisi strategis. Igor Sechin, mantan asistennya di St. Petersburg, menjadi kepala Rosneft. Mantan anggota KGB lain mengisi dewan direksi perusahaan energi dan keuangan. Kekayaan pribadi pun hanya sah bila sejalan dengan loyalitas politik.
FSB sebagai Senjata Politik
Sebagai mantan kepala Federalnaya Sluzhba Bezopasnosti (FSB), yakni Dinas Keamanan Federal Rusia yang bertugas menjaga keamanan dalam negeri, kontraintelijen, dan pengamanan perbatasan, Putin tahu betul cara menggunakan badan intelijen sebagai alat kendali. Investigasi pajak, tuduhan korupsi, hingga kasus pidana bisa dijadikan senjata untuk menekan miliarder. Pesannya jelas, resistensi berarti risiko ditangkap, diasingkan, atau kehilangan aset.
Sebelum Putin, oligarki merupakan penyeimbang politik. Setelah Putin, mereka berubah menjadi pelaksana kepentingan Kremlin. Jaringan patronase menggantikan kompetisi pasar. Kekayaan pribadi tetap ada, tetapi selalu di bawah pengawasan negara.
Hingga 2022, sistem ini masih bertahan. Invasi Rusia ke Ukraina membuat oligarki semakin terjepit oleh sanksi Barat. Yacht, jet pribadi, dan mansion mereka di luar negeri disita. Namun di dalam negeri, mereka tetap menjadi perpanjangan tangan Kremlin.
Putin tidak benar-benar menghapus oligarki. Ia mensubordinasikan mereka. Kekayaan pribadi kini bergantung pada kepatuhan politik. Strategi ini terbukti efektif menjaga kontrol otoritarian selama lebih dari dua dekade.
Penulis: Danny Wibisono
Editor: Hari Tri Wasono




