Poin Penting:
- Living Apart Together (LAT) menjadi tren pernikahan modern di Jepang, di mana pasangan menikah tetap tinggal terpisah secara permanen
- Faktor utama pendorongnya adalah tuntutan karier, kebutuhan ruang pribadi, dan keinginan mengurangi konflik rumah tangga
- Meski dianggap menjaga keharmonisan, model hubungan ini tetap memiliki tantangan dalam pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga
Bacaini.ID, KEDIRI – Menikah umumnya identik dengan tinggal bersama dan membangun rumah tangga dalam satu atap. Namun di Jepang, muncul tren Living Apart Together (LAT), yakni pasangan suami istri (pasutri) yang memilih tetap tinggal terpisah demi menjaga karier, ruang pribadi, dan keharmonisan hubungan.
Baca Juga:
Fenomena LAT atau pasutri tinggal terpisah berkembang menjadi bagian dari gaya hidup modern. Sekilas, konsep pernikahan ini terdengar tak lazim, namun bagi sebagian pasangan Jepang, tinggal terpisah justru dianggap sebagai cara untuk mempertahankan keharmonisan rumah tangga. Dengan cara ini, masing-masing dapat menjaga kemandirian mereka, sekaligus mengurangi tekanan yang sering muncul dalam kehidupan rumah tangga sehari-hari.
Fenomena ini menjelaskan bagaimana definisi pernikahan terus berubah di tengah masifnya perubahan sosial, ekonomi dan budaya di sebuah negara. LAT sebenarnya tidak hanya ditemukan di Jepang, tapi juga di negara-negara Eropa hingga Amerika Serikat. Namun di Jepang, fenomena ini menarik perhatian karena muncul di tengah menurunnya angka pernikahan dan stigma negara yang kental dengan tradisi dan budaya tradisionalnya.
Dalam praktiknya pasangan yang menjalani LAT berkomitmen untuk tinggal terpisah secara permanen dengan pertemuan rutin yang sudah dijadwalkan sesuai kesepakatan bersama. Secara umum sama dengan pernikahan pada umumnya, mereka juga merencanakan masa depan bersama dan berbagi tanggung jawab tertentu. Bedanya hanya tinggal secara terpisah.
Tinggal Terpisah Justru Dianggap Menjaga Keharmonisan
Salah satu faktor terbesar mengapa pernikahan LAT berkembang menjadi tren pernikahan baru di Jepang adalah masalah pekerjaan. Jepang terkenal memiliki budaya kerja yang berat, dan banyak pasangan yang bekerja di kota berbeda. Mereka memilih untuk tetap mempertahankan karier masing-masing daripada memaksa salah satu pihak untuk pindah.
Baca Juga:
Selain itu, semakin banyak orang terutama kaum muda yang lebih menghargai ruang pribadi. Terbiasa hidup soliter membuat banyak orang merasa berat dan justru tertekan jika harus berbagi tempat tinggal dengan orang lain sekalipun pasangan sendiri.
Beberapa pasangan mengaku tinggal terpisah membuat mereka lebih menghargai waktu bersama. Dalam banyak liputan media tentang pernikahan LAT, banyak pasangan menyebut konflik rumah tangga mereka jauh berkurang karena tidak harus berhadapan dengan persoalan domestik setiap hari.
Meskipun demikian, model hubungan ini juga memiliki tantangan. Jarak dapat menyulitkan tugas rumah tangga, pengasuhan anak, hinga pengelolaan keuangan rumah tangga. Karenanya, LAT biasanya lebih berhasil ketika masing-masing memiliki kesepakatan dan ekspektasi yang jelas sejak awal.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif




