Bacaini.id, TRENGGALEK – Kabar baik datang bagi pasien gagal ginjal di Kabupaten Trenggalek. Layanan hemodialisa atau cuci darah baru di RSUD dr. Soedomo dipastikan segera beroperasi dalam waktu dekat dengan kapasitas pelayanan yang lebih besar.
Ketua Komisi IV DPRD Trenggalek, Sukarodin, mengatakan fasilitas baru tersebut diharapkan mampu menjadi solusi bagi masyarakat yang selama ini harus menjalani terapi cuci darah ke luar daerah seperti Tulungagung.
Menurutnya, unit hemodialisa baru itu mampu melayani hingga 30 pasien sekaligus dalam satu kali pelayanan.
“Alhamdulillah untuk cuci darah sudah siap. Satu kali pelayanan bisa sampai 30 pasien. Ini kabar gembira agar masyarakat paham kalau cuci darah tidak perlu ke Tulungagung, cukup di Trenggalek,” ujarnya.
Dengan adanya tambahan layanan tersebut, pasien diharapkan bisa memperoleh akses pengobatan lebih cepat tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke rumah sakit luar daerah.
Selain membahas kesiapan layanan cuci darah, Komisi IV DPRD Trenggalek juga menyoroti berbagai persoalan pelayanan kesehatan di RSUD dr. Soedomo. Salah satunya terkait perubahan aturan BPJS Kesehatan yang dinilai sering berubah dan berdampak pada pelayanan pasien.
Sukarodin mengungkapkan rumah sakit beberapa kali menyampaikan keluhan terkait pembatasan hari rawat inap hingga adanya perubahan jenis obat yang tidak lagi ditanggung BPJS.
“Pasien dibatasi kalau sudah sekian hari maka dipulangkan karena BPJS tidak meng-cover. Dulu obat tertentu masih ditanggung, sekarang ada perubahan dan tidak lagi ter-cover. Ini membuat rumah sakit keteteran,” jelasnya.
Tak hanya itu, DPRD juga menyoroti antrean panjang pelayanan farmasi di rumah sakit. Tingginya jumlah pasien rawat jalan yang mencapai sekitar 800 orang per hari membuat proses pengambilan obat memakan waktu cukup lama.
Menurut Sukarodin, rumah sakit sebenarnya telah menjalankan layanan pengiriman obat melalui jasa pos dengan biaya tambahan sekitar Rp10 ribu. Namun, solusi tersebut dinilai belum efektif bagi pasien yang harus segera mengonsumsi obat setelah pemeriksaan dokter.
Karena itu, DPRD meminta manajemen RSUD dr. Soedomo segera menambah tenaga farmasi dan memperluas ruang pelayanan apotek agar antrean pasien dapat terurai.
“Perlu ada tambahan SDM di apotek. Kalau ruang pelayanan kurang ya perlu ditambah atau ada tambahan layanan apotek,” tegasnya.
Sementara terkait kebutuhan dokter spesialis, Sukarodin menilai penambahan tenaga medis masih memungkinkan dilakukan melalui mekanisme pengelolaan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) sehingga tidak terlalu membebani kondisi fiskal daerah.(Aby/ADV)





