Bacaini.ID, KEDIRI – Taman Baca Mahanani sukses menggelar perhelatan tahunan “Mahanani Book & Art Festival 2026” pada tanggal 16-17 Mei 2026 di kompleks Taman Baca Mahanani, Kelurahan Mojoroto, Kota Kediri.
Even tahunan dalam peringatan Hari Buku Nasional yang didedikasikan untuk sastrawan Imam Budhi Santosa ini mengambil tema “Merekam Orang-orang Biasa”.
Koordinator acara Mahanani Book & Art Festival 2026, Fadinka Addin mengatakan, Taman Baca Mahanani berkomitmen mengembalikan esensi Hari Buku Nasional sebagai milik akar rumput.
“Di tengah realitas sosial di mana wong cilik acap kali hanya dijadikan komoditas politik dan mesin pendulang suara oleh politisi, festival ini hadir menjadi ruang bagi mereka untuk merekam eksistensi diri, berdaya, dan saling memedulikan melalui medium literasi dan seni,” kata Fadinka kepada Bacaini.ID, Senin, 18 Mei 2026.
Fadinka menambahkan, napas dari festival ini mencerminkan kondisi para penggerak Taman Baca Mahanani, di mana para pegiat literasi di sana seluruhnya adalah orang-orang biasa. Mulai dari pelajar, mahasiswa, guru honorer, petani, ojol, akademisi, hingga pekerja lepas.
“Pegiat di sini terdiri dari berbagai macam latar belakang, dan tidak ada yang mentereng alias semua adalah orang-orang biasa, wong cilik,” imbuh Fadinka.
Sementara sastrawan Imam Bhudi Santosa dipilih sebagai tokoh karena dedikasinya pada dunia sastra, yang telah menerbitkan sedikitnya 53 karya berupa kumpulan puisi, novel, dan cerita pendek. Puisi Imam Budhi Santosa bahkan dianggap memiliki pengaruh budaya Jawa yang kuat.
Manifestasi atas penghormatan terhadap karyanya ini diwujudkan secara utuh melalui rangkaian kegiatan Mahanani Book & Art Festival 2026, yang mengalir sejak pra-acara hingga malam puncak. Sebagai pembuka, sebuah agenda pra-acara bertajuk “Nrutus” telah dilaksanakan pada 9 Mei 2026 dengan mengajak peserta berjalan kaki menyusuri gang-gang kota Kediri untuk merekam, melihat dekat, dan berinteraksi langsung dengan denyut nadi kehidupan warga setempat.
Acara utama digelar pada 16 Mei 2026 melalui sesi “Berani Goblok” yang menjadi ruang bedah buku khusus untuk mengulas secara mendalam karya-karya mendiang Iman Budhi Santosa. Kemeriahan berlanjut pada 17 Mei 2026 melalui panggung ekspresi bebas Performance Art yang menampilkan kolaborasi lintas seni dari Sanggar Wasesa, UKM Seni Segara, Teater Kanda, Teater Pitulikur, dan Sanggar Tari Dworowati.
Sepanjang festival berlangsung, atmosfer kebersamaan kian terasa dengan adanya pameran foto yang merekam profesi orang-orang biasa, ruang baca terbuka dengan tumpukan buku gratis, serta keunikan “Angkringan Puisi” – sebuah lapak di mana pengunjung dapat menikmati gorengan atau minuman dan membayarnya cukup dengan membacakan satu atau dua bait puisi.

Perhelatan malam puncak turut dihadiri oleh mantan Walikota Kediri, Abdullah Abu Bakar, Bunda Fey serta anak-anaknya, pegiat lintas komunitas, serta pegiat seni dan literasi dari wilayah Kediri dan sekitarnya.
“Saya sangat senang sekali dengan acara ini, di mana sekarang ini banyak orang tua ataupun guru menormalisasi memberikan gadget pada anak-anaknya. Di sini anak-anak dan semua orang diberi ruang untuk membaca seluas-luasnya. Acara kali ini bisa membuat anak-anak lebih berkembang secara lebih luas,” kata Abdullah Abu Bakar yang mengapresiasi event ini sebagai ruang alternatif di tengah gempuran teknologi.
Ungkapan senada disampaikan Ferry Silviana Feronica (Bunda Fey) yang merasakan atmosfer kebudayaan kental dalam festival ini. ” Saya sangat senang karena anak saya menjadi bagian dari acara malam ini. Jadi bersyukurlah teman-teman semua. Malam ini saya merasa tidak di Kediri, tapi déjà vu saat saya kuliah di Jogja dulu,” ungkapnya hangat.
Apresiasi juga datang dari Syaiful Anam, pembina asrama Al-Furqon dan Teater Pitulikur Pondok Pesantren Darul ‘Ulum, Jombang. Menurutnya, festival ini berhasil menciptakan iklim belajar yang ideal.
“Perayaan Hari Buku Nasional seperti di Mahanani ini sebuah pelajaran yang luar biasa. Dengan ini, anak-anak dan tentunya kita semua dapat mengoptimalkan potensi serta bakatnya masing-masing. Dari pertunjukan-pertunjukan tadi, misal, kita ditunjukkan bahwa anak harus diberi ruang belajar yang psychological safety, sehingga anak-anak bahkan orang dewasa tidak memiliki rasa takut untuk salah,” urai Syaiful yang hadir di acara itu.
Mahanani Book & Art Festival 2026 sukses terlaksana berkat jejaring kolaborasi yang solid bersama para mitra media dan komunitas pendukung, seperti LPM Dedikasi, Tim Media IPNU IPPNU Kabupaten Kediri, Koalisi Masyarakat Sipil Pegiat Literasi, Metafor.id, Ruang Mengarsip, dan Kreasi Pelajar NU, serta didukung penuh oleh Kampung Dongeng Kediri dan Sekolah Alam Ramadhani.
Penulis: Hari Tri Wasono





