Poin Penting:
- Viral murid menawarkan Rp1 juta kepada guru demi mendapatkan kunci jawaban memicu keprihatinan publik
- Psikologi perkembangan menyebut sikap tidak sopan remaja dipengaruhi pencarian identitas, emosi, dan lingkungan
- Orangtua disarankan menghadapi remaja dengan komunikasi tenang serta waspada terhadap tanda depresi atau kekerasan
Bacaini.ID, KEDIRI – Viralnya curhatan seorang guru yang ditawari uang Rp1 juta oleh murid demi membeli kunci jawaban memicu keprihatinan publik terhadap perilaku remaja masa kini yang dinilai semakin kehilangan rasa hormat kepada guru dan orang tua.
Baca Juga:
Yang membuat miris, murid tersebut dengan angkuh mengatakan uang yang ia tawarkan pasti lebih besar dari gaji guru selama satu bulan. Curhatan tersebut sontak viral di media sosial. Namun dalam perkembangan psikologi anak atau remaja menyebut bahwa perilaku tidak hormat adalah bagian umum dari perkembangan mereka.
Tidak semua remaja bersikap kasar atau tidak sopan. Adanya fase kemandirian dan keinginan menunjukkan ‘jati diri’ pada orang lain membuat anak mengekspresikannya dengan berbagai cara sesuai dengan pengaruh lingkungan.
Mengapa Remaja Bisa Bersikap Tidak Sopan?
Sikap tidak menghormati orang lain merupakan bagian umum yang terjadi dalam perkembangan remaja, meskipun hal ini tidak dapat dibenarkan secara sosial. Namun perilaku ini bukan tanpa sebab. Salah satu alasan utama adalah fase anak yang sedang mengembangkan kemandiriannya di berbagai hal dalam kehidupannya. Hal ini merupakan bagian penting dari proses tumbuh kembang.
Di fase ini, anak biasanya mulai menyadari kebutuhan privasi atau merasa memiliki hak untuk menentukan apa yang ingin mereka lakukan. Jika anak merasa ‘hak’-nya dilanggar, respon mereka seringkali berupa reaksi spontan yang terkesan tidak sopan bagi orang yang lebih tua.
Selain itu, otak remaja sedang mengalami banyak perkembangan. Ini dapat menyebabkan perasaan dan reaksi yang kuat dan berubah-ubah terhadap kesehariannya atau hal-hal yang tidak ia duga.
Fase ini juga dapat memengaruhi kemampuan anak untuk berempati dan memahami perapektif orang lain, siapapun itu. Pergeseran ke pemikiran yang lebih mendalam, menyebabkan anak mungkin tampak memiliki pandangan yang bertentangan bahkan radikal tentang segala hal.
Hal lain yang juga menjadi faktor anak memiliki perilaku tidak sopan adalah kemungkinan pengaruh lingkungan. Bisa jadi, ia tumbuh di lingkungan yang memiliki perilaku berbeda dari kebanyakan dari lazimnya. Meniru cara berkomunikasi orangtua, teman sepermainan, atau pengaruh tontonan maupun bacaan sehari-hari.
Cara Bijak Menghadapi Sikap Kasar Remaja
Sebagian besar anak tidak mengetahui bahwa perilaku mereka dianggap tidak sopan. Karenanya, menghadapinya dibutuhkan ketenangan dan menghindari konfrontasi yang justru dapat memperparah ketidaksopanan tersebut.
Berikut beberapa tips menghadapi perilaku tidak sopan anak atau remaja, dikutip dari Raising Children:
- Tetap tenang, tarik napas dalam-dalam, dan lanjutkan dengan ungkapkan dengan tenang namun tegas apa yang menjadi masalah.
- Gunakan humor untuk meredakan ketegangan, meringankan suasana dan jangan merendahkan anak. Setelah anak dirasa cukup untuk bisa diajak berdiskusi dengan baik, lanjutkan pembicaraan.
- Terkadang remaja bersikap tidak sopan tanpa bermaksud untuk kasar. Sampaikan pada anak apa maksud dari sikap atau ucapan mereka dengan bertanya baik-baik dan berikan pemahaman mengapa ucapan atau sikap mereka terkesan kasar atau merendahkan.
- Orang dewasa disekitar anak, lazimnya menjadi panutan. Karenanya, berbicara dan bersikaplah seperti yang orangtua inginkan akan menjadi seperti apa seorang anak. Orangtua yang bertutur kata lembut, akan menciptakan anak-anak yang serupa, begitu juga sebaliknya.
- Kenali lingkungan anak dengan baik. Ketahui lingkar pertemanannya, apa yang mereka konsumsi di media sosial dan pastikan tdak ada hal yang membuat anak merasa tertekan atau khawatir. Ada banyak kasus anak menjadi bersikap tidak sopan karena menutupi masalahnya.
Meskipun fase ‘tidak sopan’ dalam perkembangan remaja adalah hal yang lazim, orangtua harus waspada ketika anak menunjukkan tanda-tanda depresi, murung, mudah tersinggung. Selain itu, kabur dari rumah atau sering bolos sekolah, dan mulai menggunakan kekerasan fisik atau verbal terhadap anggota keluarga lain atau orang lain, patut untuk diwaspadai dan sangat disarankan untuk mencari bantuan profesional untuk anak.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





