Poin Penting:
- Tren sole water dan minum baking soda viral di media sosial, tetapi belum sepenuhnya didukung bukti ilmiah dan memiliki risiko kesehatan
- Gut health menjadi tren kesehatan yang lebih valid secara ilmiah karena berkaitan dengan mikrobioma usus dan kesehatan mental
- Ahli kesehatan menyarankan kembali ke pola hidup seimbang dibanding mengikuti tren kesehatan viral tanpa pemahaman yang tepat
Bacaini.ID, KEDIRI – Media sosial kini dipenuhi berbagai tren kesehatan viral yang diklaim mampu meningkatkan energi, menjaga kesehatan mental hingga menurunkan berat badan secara instan. Namun, di balik popularitas tren seperti sole water, minum baking soda dan gut health, tidak semuanya terbukti aman maupun didukung penelitian ilmiah yang kuat.
Baca Juga:
Sebagian memang memiliki dasar kesehatan yang akurat, namun tak sedikit yang hanya sekadar hype bahkan berisiko jika dilakukan tanpa pemahaman yang tepat. Sebelum mengikuti tren kesehatan yang dipopulerkan oleh para influencer, ada baiknya cek dulu kebenaran dan fakta kesehatan dibalik tren tersebut.
Tren Sole Water dan Risiko Minum Air Garam Tiap Pagi
Tren minum air garam di pagi hari ramai di kalangan wellness influencer. Sole water merupakan air yang telah dijenuhkan sepenuhnya dengan garam alami, biasanya garam Himalaya merah muda. Minuman ini populer di kalangan pegiat kesehatan holistik karena dianggap sebagai ‘minuman elektrolit alami’ yang kaya mineral esensial.
Baca Juga:
Sole water diklaim bisa membantu hidrasi, detoksifikasi hingga meningkatkan energi. Faktanya, tubuh sudah memiliki sistem alami untuk mengatur cairan dan membuang racun melalui ginjal. Konsumsi garam berlebihan justru bisa meningkatkan risiko tekanan darah tinggi dan memperberat kerja ginjal.
Banyak ahli medis menyatakan bahwa klaim manfaat luar biasa dari sole water belum didukung oleh penelitian klinis yang kuat. Beberapa orang mungkin akan mengalami gangguan pencernaan atau kembung akibat asupan garam mendadak di pagi hari. Karenanya, tren sole water perlu diwaspadai.
Viral Baking Soda untuk Kesehatan, Apa Kata Medis?
Minum larutan baking soda atau natrium bikarbonat sempat viral di media sosial Indonesia. Banyak klaim yang mengatakan larutan ini memiliki berbagai manfaat medis, mulai melancarkan pencernaan hingga baik untuk kesehatan ginjal.
Baking soda dinarasikan sebagai antasida alami, menetralkan asam lambung dengan cepat, meningkatkan performa olahraga, klaim dapat membantu menjaga pH tubuh untuk kesehatan jangka panjang dan membantu memperlambat perkembangan penyakit ginjal kronis.
Dalam dunia medis, natrium bikarbonat atau baking soda terkadang dipakai sementara untuk meredakan maag atau asam lambung. Sementara di dunia olahraga, atlet tertentu menggunakannya untuk menunda kelelahan otot namun dengan dosis terukur dan pengawasan. Baking soda memang memiliki khasiat tertentu namun bukan untuk diminum bebas tiap hari.
Minum larutan baking soda sembarangan justru berisiko pada kesehatan karena baking soda tinggi natrium yang bisa menjadi pemicu naiknya tekanan darah, gangguan lambung, alkalosis metabolik atau pH tubuh yang terlalu basa.
Gut Health Jadi Tren Kesehatan yang Didukung Sains
Gut health menjadi salah satu tren kesehatan yang banyak dibicarakan di media sosial seiring dengan diakuinya usus sebagai ‘otak kedua’ manusia. Usus dan otak dalam penelitian kesehatan terbaru, memiliki hubungan yang saling terkait.
Tren ini berfokus pada konsumsi makanan fermentasi, prebiotik dan kampanye makanan fermentasi lokal seperti tape dan tempoyak.
Banyak penelitian menunjukkan bahwa mikrobioma usus berperan penting dalam pencernaan, imunitas, bahkan kesehatan mental. Namun, tidak semua produk fermentasi yang ada di pasaran, efektif. Tren ini, bisa aman untuk dicoba karena valid secara ilmiah.
Tren kesehatan memang bisa menjadi pintu masuk untuk hidup lebih sehat. Namun, penting untuk memahami bahwa tidak semua yang viral otomatis aman atau efektif. Sebagian tren menjadi viral karena didukung sains, sementara lainnya hanya memanfaatkan narasi ‘natural’ atau ‘detoks’ dengan visual yang meyakinkan.
Alih-alih mengikuti berbagai tren kesehatan yang belum tentu benar dan aman, pendekatan paling aman adalah kembali ke pola makan seimbang, aktivitas fisik rutin, tidur cukup dan manajemen stres.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





