Bacaini.ID, KEDIRI — Lahir di Wlingi Kabupaten Blitar Jawa Timur 12 Januari 1941, Murdaya Poo merupakan seorang marhaeinis, alumni aktivis Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) yang itu tidak banyak diketahui.
Murdaya Widyawimarta Poo lebih dikenal sebagai konglomerat penguasa bisnis sawit, properti, IT dan kayu lapis. Data Forbes April 2025 menyebut sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia dengan kekayaan mencapai Rp20 triliun.
Baca Juga:
Murdaya adalah aktivis GMNI. Nama pendiri Central Cipta Murdaya (CCM) Group ini disebut dalam berbagai sumber sebagai salah satu tokoh alumni GMNI yang menasional, khususnya karena kesuksesannya membangun kerajaan bisnis.
Nama Murdaya Poo berada dalam satu daftar dengan Eros Djarot, Bondan Gunawan, Soerjadi, Taufik Kiemas, Siswono Yudo Husodo, Suko Sudarso, Theo L Sambuaga, Antasari Azhar dan lain sebagainya.
GMNI merupakan organisasi mahasiswa eksternal kampus yang berdiri pada 23 Maret 1954 di Surabaya dengan gagasan awal yang digodok di Jakarta. Lahir dari fusi tiga organisasi mahasiswa: Gerakan Mahasiswa Marhaen (Yogyakarta), Gerakan Mahasiswa Merdeka (Surabaya) dan Gerakan Mahasiswa Demokrat Indonesia (Jakarta), GMNI tidak berafiliasi dengan parpol manapun.
Murdaya Poo berhasil membuktikan diri sebagai seorang marhaenis yang sukses, bahkan menjadi salah satu yang terkaya di Indonesia meskipun berangkat dari daerah kecil Blitar dan pernah menjalani hidup sebagai penjaja koran.
Baca Juga:
Dalam sebuah wawancara di sebuah stasiun televisi tahun 2019, ia mengatakan jalan untuk sukses dan besar adalah belajar dari orang-orang sukses dan besar, dan peluang itu ada di kota besar.
Keyakinan perihal jalan sukses dan besar tersebut didapatnya sejak muda dan itu yang mendorongnya meninggalkan Wlingi Blitar dan lebih memilih bersekolah di kota besar.
Bagi Murdaya Poo, kemauan keras, mau belajar, tidak pernah putus asa serta melihat bagaimana orang lain bisa sukses adalah kunci kesuksesan. Pendidikan penting, namun harus diiringi dengan kerja keras dan rajin. “Orang jadi kreatif,” tuturnya dalam sebuah wawancara tahun 2019.
Murdaya Poo juga mengedepankan keharmonisan. Pesan kepada anak-anaknya, hal pokok yang harus dihindari dalam perusahaan adalah berebut kedudukan dan harta, apalagi sampai menimbulkan perpecahan. Baginya itu tabu.
Murdaya Poo menjabat anggota DPR RI periode 2004-2009 dari PDI Perjuangan (PDIP). Marhaeinis yang juga konglomerat kaya-raya ini tutup usia pada 7 April 2025 di Singapura dengan meninggalkan seorang istri dan empat anak.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





