Poin Penting:
- Friendster resmi kembali hadir dengan konsep media sosial anti algoritma dan bebas iklan
- Pengguna hanya bisa menambah teman melalui fitur Tap to Connect menggunakan NFC saat bertemu langsung
- Friendster ingin menjadi alternatif media sosial yang lebih privat tanpa eksploitasi data pengguna
Bacaini.ID, KEDIRI – Friendster, media sosial (medsos) legendaris era anak warnet awal 2000-an, resmi kembali hadir dengan konsep baru yang menolak sistem algoritma modern. Platform yang sempat berjaya sebelum tergeser Facebook ini kini hadir eksklusif di iOS dengan menawarkan pengalaman media sosial yang lebih privat, sederhana, dan bebas iklan.
Baca Juga:
Di awal tahun 2000-an, Friendster identik dengan ‘anak warnet’ karena teknologi ponsel masih sebatas untuk menelfon dan berkirim pesan singkat, yang membuat Friendster hanya bisa diakses melalui PC atau laptop.
Dan karena koneksi internet di rumah juga masih langka, era tersebut marak Warung Internet (Warnet) yang menyediakan sewa PC sekaligus jaringan internetnya per jam.
Tahun 2003 hingga 2008 menjadi era kejayaan Friendster yang menjadi platform media sosial paling dominan di dunia. Kini, Friendster sang pionir media sosial, mengumumkan kembalinya mereka di bulan April lalu. Friendster tidak hanya menjual nama besar masa lalu, namun menjadi antitesis terhadap supremasi algoritma media sosial modern.
Sejarah Friendster dan Kejayaannya Sebelum Facebook
Friendster didirikan oleh Jonathan Abrams di tahun 2002 dan dengan cepat menjadi pemimpin yang memiliki jutaan pengguna aktif, terutama di kawasan Asia Tenggara seperti Indonesia dan Filipina.
Munculnya Facebook yang menawarkan server lebih cepat, menggulung kejayaan Friendster yang akhirnya berubah menjadi situs social gaming pada 2011 sebelum akhirnya benar-benar menutup layanannya secara permanen pada 2015.
Selama lebih dari satu dekade, domain frienster.com hanya menjadi halaman kosong yang kemudian dilupakan. Kini, dibawah bendera Friendster Labs Inc. tim baru yang menggawangi kembalinya media sosial ini, meluncurkan aplikasi Friendster baru secara eksklusif untuk platform iOS, iPhone, melalui App Store. Sedangkan untuk Android, masih dalam proses.
Friendster tidak hanya sekadar kembali, namun juga menawarkan sesuatu yang segar bagi penggunanya. Sama seperti kemunculannya pertama kali sebagai pionir media sosial global, kelahiran kembali Friendster kali ini membawa ‘aturan’ baru yang mereka ciptakan sendiri dengan menolak sistem algoritma. Friendster ingin kembali menjadi pionir media sosial alternatif yang berbeda dari para raksasa media sosial.
Friendster Bisa Jadi Alternatif Media Sosial Modern
Friendster baru, diluncurkan dengan semangat ‘kesederhanaan’, simple namun ‘dekat’. Aplikasi Friendster memiliki ukuran yang sangat minimalis, 5,9 MB. Sangat kontras dengan aplikasi media sosial lain yang bisa memakan ruang hingga ratusan megabyte.
Friendster juga mempromosikan dirinya sebagai media sosial anti-mainstream. Berbeda dengan platform lain yang memungkinkan penggunanya mencaarai ribuan orang asing di kolom pencarian, Friendster ‘memaksa’ penggunanya untuk berinteraksi di dunia nyata melalui teknologi Tap to Connect.
Baca Juga:
Untuk menambahkan teman, pengguna harus berada di lokasi yang sama dan melakukan sinkronisasi ponsel secara firik dengan memanfaatkan teknologi NFC atau tap phone. Bagi banyak orang, cara ini dianggap lebih aman karena daftar pertemanan hanya berisi orang-orang yang secara real, telah dikenal.
Selain itu, Friendster menawarkan halaman media sosial yang lebih ‘bersih’ tanpa manipulasi algoritma. Feed pengguna hanya akan berisi unggahan teman secara kronologis, tanpa iklan atau konten-konten yang disarankan.
Friendster juga memastikan tidak akan menjual data penggunanya kepada pengiklan pihak ketiga. Model bisnisnya tidak didasarkan pada ekspoitasi data, melainkan pada pembangunan ekosistem yang sehat untuk komunikasi privat.
Friendster dapat menjadi media sosial alternatif bagi orang-orang yang merindukan terkoneksi dengan teman tanpa diganggu algoritma, orang tak dikenal yang tiba-tiba mengirim permintaan pertemanan, konten-konten ‘sampah’, hingga kekhawatiran pada penyalahgunaan data pribadi. ‘Anak Warnet’ sudah siap main friendster lagi?
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





