Bacaini.ID, KEDIRI – Di era kolonial Belanda, anak-anak pribumi harus puas melihat dari kejauhan gedung-gedung sekolah yang berdiri megah, sementara kesempatan belajar hampir mustahil mereka raih. Pendidikan kala itu bukanlah pintu menuju masa depan, melainkan tembok tinggi yang memisahkan antara yang berhak dan yang tidak.
Pendidikan di Indonesia tidak pernah lahir dalam ruang kosong. Sejarah panjangnya berakar sejak masa penjajahan Belanda, ketika pendidikan dijadikan alat politik sekaligus pintu masuk modernisasi. Dari sekian banyak sistem yang diwariskan kolonial, pendidikan menjadi salah satu pondasi penting yang membentuk wajah bangsa hingga kini.
Memasuki tahun 1900, Belanda mulai menerapkan Politik Etis dengan motto “de Eereschuld” atau hutang kehormatan. Kebijakan ini membuka akses pendidikan bagi pribumi, meski tetap terbatas dan diskriminatif.
Struktur pendidikan kala itu berlapis, mulai dari sekolah dasar dengan pengantar bahasa Belanda seperti ELS dan HIS, sekolah rakyat atau Volkschool dengan bahasa daerah, hingga sekolah lanjutan seperti MULO, AMS, dan HBS. Di tingkat lebih tinggi, berdiri sekolah kedokteran STOVIA, sekolah hukum Recht Hoge School, sekolah pertanian Landbouw School, dan sekolah teknik Technische Hoogeschool.
Meski tampak progresif, akses pendidikan kolonial tetap sempit. Ketika Indonesia merdeka pada 1945, angka buta huruf masih mencapai 90 persen. Hanya sekitar 10 persen penduduk yang bisa menikmati sekolah. Pendidikan menjadi hak istimewa segelintir orang, sementara mayoritas pribumi tetap terpinggirkan. Bahkan lulusan sekolah menengah pribumi sering kali terhambat masuk dunia kerja karena diskriminasi struktural.
Namun, warisan perguruan tinggi kolonial tetap meninggalkan jejak penting. STOVIA dan Recht Hoge School kemudian menjadi fakultas kedokteran dan hukum Universitas Indonesia. Landbouw School berkembang menjadi Institut Pertanian Bogor, sementara Technische Hoogeschool di Bandung menjadi Institut Teknologi Bandung.
Kontras dengan masa kolonial, generasi muda Indonesia saat ini, terutama Gen Z, menikmati pendidikan dengan akses yang jauh lebih luas. Sekolah dasar hingga menengah tersedia di hampir setiap daerah, perguruan tinggi negeri maupun swasta berkembang pesat, jalur pendidikan vokasi diperkuat untuk menjawab kebutuhan industri, dan era digital membuka pintu pendidikan tanpa batas.
Platform daring memungkinkan siapa pun belajar dari rumah, beasiswa nasional dan internasional memberi kesempatan anak-anak dari berbagai latar belakang, sementara kurikulum Merdeka Belajar menekankan kreativitas dan kebebasan berpikir, berbeda jauh dari sistem kolonial yang kaku dan diskriminatif.
Peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa akses pendidikan yang kini dinikmati adalah hasil perjuangan panjang.
Jika dulu hanya segelintir orang bisa sekolah, kini hampir semua anak Indonesia memiliki kesempatan menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.
Penulis: Hari Tri Wasono





