• Login
Bacaini.id
Saturday, May 2, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

Bayangkan sebuah masa ketika tidak semua anak pribumi bisa sekolah. Terbatas dan diskriminatif.

ditulis oleh Redaksi
2 May 2026 14:50
Durasi baca: 2 menit
Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

Bacaini.ID, KEDIRI – Di era kolonial Belanda, anak-anak pribumi harus puas melihat dari kejauhan gedung-gedung sekolah yang berdiri megah, sementara kesempatan belajar hampir mustahil mereka raih. Pendidikan kala itu bukanlah pintu menuju masa depan, melainkan tembok tinggi yang memisahkan antara yang berhak dan yang tidak.

Pendidikan di Indonesia tidak pernah lahir dalam ruang kosong. Sejarah panjangnya berakar sejak masa penjajahan Belanda, ketika pendidikan dijadikan alat politik sekaligus pintu masuk modernisasi. Dari sekian banyak sistem yang diwariskan kolonial, pendidikan menjadi salah satu pondasi penting yang membentuk wajah bangsa hingga kini.

Memasuki tahun 1900, Belanda mulai menerapkan Politik Etis dengan motto “de Eereschuld” atau hutang kehormatan. Kebijakan ini membuka akses pendidikan bagi pribumi, meski tetap terbatas dan diskriminatif.

Struktur pendidikan kala itu berlapis, mulai dari sekolah dasar dengan pengantar bahasa Belanda seperti ELS dan HIS, sekolah rakyat atau Volkschool dengan bahasa daerah, hingga sekolah lanjutan seperti MULO, AMS, dan HBS. Di tingkat lebih tinggi, berdiri sekolah kedokteran STOVIA, sekolah hukum Recht Hoge School, sekolah pertanian Landbouw School, dan sekolah teknik Technische Hoogeschool.

Meski tampak progresif, akses pendidikan kolonial tetap sempit. Ketika Indonesia merdeka pada 1945, angka buta huruf masih mencapai 90 persen. Hanya sekitar 10 persen penduduk yang bisa menikmati sekolah. Pendidikan menjadi hak istimewa segelintir orang, sementara mayoritas pribumi tetap terpinggirkan. Bahkan lulusan sekolah menengah pribumi sering kali terhambat masuk dunia kerja karena diskriminasi struktural.

Namun, warisan perguruan tinggi kolonial tetap meninggalkan jejak penting. STOVIA dan Recht Hoge School kemudian menjadi fakultas kedokteran dan hukum Universitas Indonesia. Landbouw School berkembang menjadi Institut Pertanian Bogor, sementara Technische Hoogeschool di Bandung menjadi Institut Teknologi Bandung.

Kontras dengan masa kolonial, generasi muda Indonesia saat ini, terutama Gen Z, menikmati pendidikan dengan akses yang jauh lebih luas. Sekolah dasar hingga menengah tersedia di hampir setiap daerah, perguruan tinggi negeri maupun swasta berkembang pesat, jalur pendidikan vokasi diperkuat untuk menjawab kebutuhan industri, dan era digital membuka pintu pendidikan tanpa batas.

Platform daring memungkinkan siapa pun belajar dari rumah, beasiswa nasional dan internasional memberi kesempatan anak-anak dari berbagai latar belakang, sementara kurikulum Merdeka Belajar menekankan kreativitas dan kebebasan berpikir, berbeda jauh dari sistem kolonial yang kaku dan diskriminatif.

Peringatan Hari Pendidikan Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa akses pendidikan yang kini dinikmati adalah hasil perjuangan panjang.

Jika dulu hanya segelintir orang bisa sekolah, kini hampir semua anak Indonesia memiliki kesempatan menempuh pendidikan hingga perguruan tinggi.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: hardiknas 2026hari pendidikan nasionalkolonial Belanda
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Musik menjadi cara paling populer untuk meredakan stres menurut studi terbaru di Amerika Serikat (foto/ist)

Musik Linkin Park hingga Taylor Swift Jadi Pereda Stres, Ini Hasil Studinya

Ilustrasi pendidikan di zaman kolonial. Foto: istimewa

Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

Tradisi Sinongkelan di Desa Prambon Trenggalek dengan pertunjukan Grebeg Sinokel

Tradisi Sinongkelan Trenggalek, Jejak Pelarian Susuhunan Paku Buwono II di Bedah Kartasura

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KAI Daop 7 Madiun Kembangkan Bisnis Non-Core, Hadirkan Lounge dan Integrasi Transportasi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sejarah May Day di Indonesia: Ajaran Semaun tentang Persatuan Buruh

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In