• Login
Bacaini.id
Thursday, April 30, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

May Day 2026: 3 Puisi Perlawanan Wiji Thukul tentang Nasib Buruh dan Kekuasaan

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
30 April 2026 16:50
Durasi baca: 6 menit
Wiji Thukul penyair perlawanan Indonesia yang hilang sejak 1998

Potret Wiji Thukul, penyair perlawanan yang puisinya kerap digaungkan dalam peringatan Hari Buruh (foto/ist)

Poin Penting:

  • May Day 2026 dapat diperingati dengan membaca puisi perlawanan karya Wiji Thukul
  • Tiga puisi menyoroti penderitaan buruh, pentingnya gerakan kolektif, dan kritik kekuasaan
  • Wiji Thukul merupakan aktivis dan penyair yang hilang sejak peristiwa 1996 dan masih menjadi simbol perlawanan

Bacaini.ID, KEDIRI – Peringatan May Day atau Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2026 perlu dirayakan dengan membaca puisi perlawanan. Membaca puisi perlawanan karya Wiji Thukul akan menghidupkan semangat perjuangan buruh yang tetap relevan hingga hari ini.

Baca Juga:

  • May Day, Ingat Warisan Perjuangan SOBSI Untuk Kaum Buruh

Bacaini.id memilih 3 puisi karya aktivis cum penyair revolusioner Wiji Thukul. Kenapa? Anak-anak rohani Thukul itu selalu kontekstual untuk diserukan di setiap Hari Buruh. Dua puisi spesifik berbicara tentang nasib buruh dan gerakan buruh. Kemudian satu puisi menyoroti penguasa dan kekuasaan yang lalim.

Mari mendarasnya bersama-sama.

Suti

Suti tidak pergi kerja

pucat ia duduk dekat ambennya

Suti di rumah saja

tidak ke pabrik tidak ke mana-mana

Suti tidak ke rumah sakit

batuknya memburu

dahaknya berdarah

tak ada biaya

Suti kusut-masai

di benaknya menggelegar suara mesin

kuyu matanya membayangkan

buruh-buruh yang berangkat pagi

pulang petang

hidup pas-pasan

gaji kurang

dicekik kebutuhan

Suti meraba wajahnya sendiri

tubuhnya makin susut saja

makin kurus menonjol tulang pipinya

loyo tenaganya

bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi

ia ingat kawannya

Sri yang mati

karena rusak paru-parunya

Suti meludah

dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata

suara mesin kembali menggemuruh

bayangan kawannya bermunculan

Suti menggelengkan kepala

tahu mereka dibayar murah

Suti meludah

dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter

tak ada uang

tak ada obat

Solo, 27 februari 88

Tentang Sebuah Gerakan

tadinya aku pengin bilang

aku butuh rumah

tapi lantas kuganti

dengan kalimat:

setiap orang butuh tanah

ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang

sebuah gerakan

tapi mana mungkin

aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci

yang bisa hidup dari sekepal nasi

dan air sekendi

aku butuh celana dan baju

untuk menutup kemaluanku 

aku berpikir tentang gerakan

tapi mana mungkin

kalau diam?

1989

Tong Potong Roti

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

kini datang gantinya

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

bagi-bagi tanahnya

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

siapa beli gunungnya

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

kini indonesia

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

kini siapa yang punya

Solo, Kalangan, April 1989, diilhami tembang rakyat dari Madura

Profil Wiji Thukul

Wiji Widodo yang dikenal dengan Wiji Thukul lahir 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Thukul merupakan anak tertua dari tiga bersaudara datang dari keluarga tukang becak.

Baca Juga:

  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

Menamatkan SMP (1979) dan masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, namun tidak tamat alias DO (1982), Wiji Thukul memutuskan berjualan koran.

Dalam perjalanannya Thukul diajak tetangganya bekerja di sebuah perusahaan meubel antik, sebagai tukang pelitur. Thukul yang dikenal pelo (cadel) kerap mendeklamasikan puisinya untuk teman-teman sekerjanya.

Wiji Thukul menulis puisi sejak SD dan mengenal dunia teater sejak SMP. Melalui teman sekolah ia menggabungkan diri pada kelompok teater Jagat yang merupakan akronim dari Jagalan Tengah.

Di teater ia keluar masuk kampung ngamen puisi diiringi instrumen musik: rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dll. Ruang gerak Wiji Thukul bukan hanya di wilayah Solo.

Yogya, Klaten, Surabaya, Bandung, Jakarta dijelajahinya. Ia pernah ke Korea dan kota-kota besar di Australia. Tidak hanya di kampung, tapi juga masuk kampus, warung dan restoran.  

Pada saat mengontrak rumah di kampung Kalangan, Solo, ia menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak-anak. Pada tahun 1992 Thukul terlibat aktif dalam aksi warga Jagalan-Purungsawit memprotes pencemaran oleh sebuah pabrik tekstil.

Penyair Wiji Thukul menerima Wertheim Encourage Award di Belanda. Bersama WS Rendra, Thukul adalah penerima award pertama sejak yayasan itu didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuwan Belanda W.F. Wertheim.

Sejak peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) penyair Wiji Thukul bersama belasan aktivis lain dinyatakan hilang dan hingga pergantian Presiden Indonesia ke-8 kali, nasibnya tidak diketahui.

Penulis: Tim Redaksi

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: Bacaini.id
Tags: 1 Meihari buruhMay Day 2026Puisi Wiji ThukulsoloWiji Thukul
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi pajak. Foto:Istimewa

DJP Perpanjang Waktu Lapor SPT Badan

Gedung KPK usai OTT Wali Kota Madiun Maidi terkait dugaan korupsi

Skandal Pita Cukai Rokok, Dua Jalur Satu Jaringan Korupsi

Wiji Thukul penyair perlawanan Indonesia yang hilang sejak 1998

May Day 2026: 3 Puisi Perlawanan Wiji Thukul tentang Nasib Buruh dan Kekuasaan

  • Letda Bintang Revolusi pembaretan Kopassus 2026 Nusakambangan

    Profil Letda Mohammad Bintang Revolusi, Perwira Muda Asal Blitar Pimpin Yel-Yel Pembaretan Kopassus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jembatan Cangar Kembali Jadi Lokasi Bunuh Diri, Efek Werther di Media Sosial Disorot

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In