Poin Penting:
- May Day 2026 dapat diperingati dengan membaca puisi perlawanan karya Wiji Thukul
- Tiga puisi menyoroti penderitaan buruh, pentingnya gerakan kolektif, dan kritik kekuasaan
- Wiji Thukul merupakan aktivis dan penyair yang hilang sejak peristiwa 1996 dan masih menjadi simbol perlawanan
Bacaini.ID, KEDIRI – Peringatan May Day atau Hari Buruh Sedunia pada 1 Mei 2026 perlu dirayakan dengan membaca puisi perlawanan. Membaca puisi perlawanan karya Wiji Thukul akan menghidupkan semangat perjuangan buruh yang tetap relevan hingga hari ini.
Baca Juga:
Bacaini.id memilih 3 puisi karya aktivis cum penyair revolusioner Wiji Thukul. Kenapa? Anak-anak rohani Thukul itu selalu kontekstual untuk diserukan di setiap Hari Buruh. Dua puisi spesifik berbicara tentang nasib buruh dan gerakan buruh. Kemudian satu puisi menyoroti penguasa dan kekuasaan yang lalim.
Mari mendarasnya bersama-sama.
Suti
Suti tidak pergi kerja
pucat ia duduk dekat ambennya
Suti di rumah saja
tidak ke pabrik tidak ke mana-mana
Suti tidak ke rumah sakit
batuknya memburu
dahaknya berdarah
tak ada biaya
Suti kusut-masai
di benaknya menggelegar suara mesin
kuyu matanya membayangkan
buruh-buruh yang berangkat pagi
pulang petang
hidup pas-pasan
gaji kurang
dicekik kebutuhan
Suti meraba wajahnya sendiri
tubuhnya makin susut saja
makin kurus menonjol tulang pipinya
loyo tenaganya
bertahun-tahun dihisap kerja
Suti batuk-batuk lagi
ia ingat kawannya
Sri yang mati
karena rusak paru-parunya
Suti meludah
dan lagi-lagi darah
Suti memejamkan mata
suara mesin kembali menggemuruh
bayangan kawannya bermunculan
Suti menggelengkan kepala
tahu mereka dibayar murah
Suti meludah
dan lagi-lagi darah
Suti merenungi resep dokter
tak ada uang
tak ada obat
Solo, 27 februari 88
Tentang Sebuah Gerakan
tadinya aku pengin bilang
aku butuh rumah
tapi lantas kuganti
dengan kalimat:
setiap orang butuh tanah
ingat: setiap orang!
aku berpikir tentang
sebuah gerakan
tapi mana mungkin
aku nuntut sendirian?
aku bukan orang suci
yang bisa hidup dari sekepal nasi
dan air sekendi
aku butuh celana dan baju
untuk menutup kemaluanku
aku berpikir tentang gerakan
tapi mana mungkin
kalau diam?
1989
Tong Potong Roti
tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini datang gantinya
tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
bagi-bagi tanahnya
tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
siapa beli gunungnya
tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini indonesia
tong potong roti
roti campur mentega
belanda sudah pergi
kini siapa yang punya
Solo, Kalangan, April 1989, diilhami tembang rakyat dari Madura
Profil Wiji Thukul
Wiji Widodo yang dikenal dengan Wiji Thukul lahir 26 Agustus 1963 di kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah yang mayoritas penduduknya tukang becak dan buruh. Thukul merupakan anak tertua dari tiga bersaudara datang dari keluarga tukang becak.
Baca Juga:
Menamatkan SMP (1979) dan masuk SMKI (Sekolah Menengah Karawitan Indonesia) jurusan tari, namun tidak tamat alias DO (1982), Wiji Thukul memutuskan berjualan koran.
Dalam perjalanannya Thukul diajak tetangganya bekerja di sebuah perusahaan meubel antik, sebagai tukang pelitur. Thukul yang dikenal pelo (cadel) kerap mendeklamasikan puisinya untuk teman-teman sekerjanya.
Wiji Thukul menulis puisi sejak SD dan mengenal dunia teater sejak SMP. Melalui teman sekolah ia menggabungkan diri pada kelompok teater Jagat yang merupakan akronim dari Jagalan Tengah.
Di teater ia keluar masuk kampung ngamen puisi diiringi instrumen musik: rebana, gong, suling, kentongan, gitar, dll. Ruang gerak Wiji Thukul bukan hanya di wilayah Solo.
Yogya, Klaten, Surabaya, Bandung, Jakarta dijelajahinya. Ia pernah ke Korea dan kota-kota besar di Australia. Tidak hanya di kampung, tapi juga masuk kampus, warung dan restoran.
Pada saat mengontrak rumah di kampung Kalangan, Solo, ia menyelenggarakan kegiatan teater dan melukis untuk anak-anak. Pada tahun 1992 Thukul terlibat aktif dalam aksi warga Jagalan-Purungsawit memprotes pencemaran oleh sebuah pabrik tekstil.
Penyair Wiji Thukul menerima Wertheim Encourage Award di Belanda. Bersama WS Rendra, Thukul adalah penerima award pertama sejak yayasan itu didirikan untuk menghormati sosiolog dan ilmuwan Belanda W.F. Wertheim.
Sejak peristiwa 27 Juli 1996 (Kudatuli) penyair Wiji Thukul bersama belasan aktivis lain dinyatakan hilang dan hingga pergantian Presiden Indonesia ke-8 kali, nasibnya tidak diketahui.
Penulis: Tim Redaksi
Editor: Solichan Arif





