Poin Penting:
- Wapres Gibran meninjau Bendungan Bagong dan menyerap aspirasi warga Trenggalek
- Ada 5 aspirasi utama, termasuk irigasi bendungan, JLS, dana desa, pembebasan lahan, dan BPJS PBI
- Pemerintah berjanji segera menindaklanjuti seluruh masukan masyarakat
Bacaini.ID, TRENGGALEK – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Kamis (30/4/2026), dengan meninjau pembangunan Bendungan Bagong di Kecamatan Tugu sekaligus menyerap aspirasi masyarakat terkait infrastruktur dan layanan publik.
Sejumlah aspirasi disampaikan oleh para kepala desa Trenggalek. Di antaranya terkait manfaat Bendungan Bagong yang dibangun pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hingga kini belum dirasakan masyarakat secara maksimal.
Bendungan Bagong belum memiliki saluran tersier yang berfungsi mengalirkan air ke lahan pertanian. Juga disampaikan soal pembangunan jalur lintas selatan (JLS) di Trenggalek yang belum tuntas. Wapres Gibran mengatakan seluruh poin aspirasi yang disampaikan masyarakat dan pemerintah desa akan segera ditindaklanjuti.
“Terima kasih atas masukannya. Tadi juga saya bertemu kepala desa di Pacitan. Semua masukan ini akan kami tindak lanjuti, termasuk terkait KIS PBI, bendungan, dan jalan yang belum tersambung,” kata Wapres Gibran dalam sambutannya.
Kunjungan kerja Wapres Gibran di Trenggalek didampingi Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin serta jajaran Forkopimda dan pejabat terkait lainnya.
Kunjungan kerja ini diharapkan bisa mempercepat realisasi pembangunan infrastruktur sekaligus menjawab kebutuhan masyarakat di Trenggalek.
Sedikitnya ada 5 poin aspirasi masyarakat Trenggalek yang langsung diteruskan ke Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) untuk ditindaklanjuti.
Kepala Desa Karangturi, Kecamatan Munjungan, Puryono mengatakan manfaat Bendungan Bagong di Kecamatan Tugu yang selesai dibangun beberapa tahun lalu belum sepenuhnya dirasakan masyarakat.
Hal itu disebabkan belum tersedianya saluran tersier yang berfungsi mengalirkan air ke lahan pertanian.
“Dampaknya belum maksimal karena aliran tersiernya belum ada, padahal itu penting untuk membuka lahan pertanian baru,” ujar Puryono.
Kemudian juga soal pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) di Trenggalek yang belum sepenuhnya tersambung. Masih terdapat sekitar 42 kilometer ruas jalan yang belum terbangun, khususnya di jalur Watulimo–Munjungan hingga Munjungan–Panggul.
Padahal keberadaan JLS sangat strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah selatan. Warga juga meminta adanya penambahan program anggaran desa.
Puryono menilai, alokasi dana desa saat ini sebagian besar terserap untuk mendukung program prioritas nasional, sehingga ruang untuk pembangunan berbasis kebutuhan lokal menjadi terbatas.
Aspirasi yang disampaikan lainnya adalah soal percepatan pembebasan lahan, baik milik masyarakat maupun Perhutani, untuk pembangunan Bendungan Bagong.
Terakhir, warga mengeluhkan penonaktifan BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang dinilai berdampak langsung pada akses layanan kesehatan masyarakat kurang mampu.
Penulis: Aby Kurniawan
Editor: Solichan Arif





