Bacaini.ID, TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai merinci pemanfaatan pinjaman Rp70 miliar sebagai bagian dari strategi mendorong kemandirian ekonomi daerah.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menegaskan pembagian anggaran difokuskan pada infrastruktur jalan serta pengembangan sektor pariwisata dan kawasan perkotaan.
“Kalau pembagiannya sesuai yang kita usulkan, Rp41 miliar untuk infrastruktur jalan, kemudian sekitar Rp29 miliar untuk pariwisata dan perbaikan kota,” jelasnya.
Ia menambahkan, sebagian pembiayaan di sektor pariwisata juga diarahkan untuk mengoptimalkan potensi kawasan Bendungan dan sekitarnya, termasuk pengembangan wisata berbasis edukasi dan sejarah.
Salah satu proyek yang disiapkan adalah revitalisasi mesin kopi peninggalan Belanda. Mesin tersebut ditargetkan dapat kembali beroperasi sebagai sarana produksi sekaligus atraksi wisata.
“Target kita mesin kopi peninggalan Belanda itu bisa berfungsi lagi. Jadi selain kopinya bisa dijual, masyarakat juga bisa merasakan pengalaman bagaimana dulu proses roasting kopi dilakukan,” ujarnya.
Selain kopi, kawasan tersebut juga akan diperkuat dengan pengolahan hasil peternakan susu. Pemerintah daerah berencana menghadirkan mesin sterilisasi susu guna meningkatkan nilai tambah produk lokal.
Menurutnya, langkah ini sejalan dengan program nasional peningkatan gizi masyarakat. Susu hasil produksi peternak lokal nantinya dapat diolah dan didistribusikan untuk kebutuhan sekolah.
“Kita siapkan dari pasteurisasi, sterilisasi sampai pengemasan. Harapannya bisa mendukung program makan bergizi gratis sekaligus memperkuat ekonomi peternak lokal,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, skema ini juga bertujuan agar hasil produksi peternak tidak lagi bergantung pada distribusi ke luar daerah. Dengan pengolahan di dalam daerah, nilai ekonomi dapat dinikmati langsung oleh masyarakat Trenggalek.
Lebih lanjut, Bupati menekankan pentingnya pengelolaan aset daerah sebagai sumber pendapatan baru. Ia menilai, pemerintah daerah tidak bisa terus bergantung pada pajak sebagai sumber utama PAD.
“Kalau tidak ingin membebani masyarakat dengan kenaikan pajak, maka kita harus kreatif mengelola aset yang kita miliki agar bisa menghasilkan pendapatan,” tegasnya.
Menurutnya, pengembangan sektor usaha berbasis potensi lokal merupakan kunci untuk meningkatkan kemandirian fiskal daerah.
Dengan begitu, pembiayaan yang dilakukan tidak hanya menjadi beban, tetapi mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru yang berkelanjutan.(abi/ADV)





