Bacaini.ID, TRENGGALEK – Pemerintah Kabupaten Trenggalek menegaskan bahwa pemanfaatan pinjaman Rp70 miliar tidak akan difokuskan sepenuhnya untuk pembangunan jalan.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menyebut langkah tersebut sebagai strategi untuk menciptakan sumber pendapatan daerah (PAD) baru sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Menurutnya, pembangunan jalan memang penting untuk membuka akses masyarakat. Namun, infrastruktur jalan di Trenggalek sebagian besar sudah bersifat existing dan lebih berfungsi sebagai penunjang aktivitas sosial ekonomi, bukan penghasil pendapatan langsung.
“Kalau semuanya digunakan untuk jalan, nanti yang mencicil siapa? Jalan tidak langsung menghasilkan PAD, kecuali di kawasan bisnis. Maka kita harus punya proyek yang bisa menjadi pengungkit pertumbuhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah daerah kemudian memilih untuk membagi pembiayaan ke sektor kawasan perkotaan dan pariwisata. Penataan kawasan kota dinilai mampu meningkatkan mobilitas masyarakat sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Secara teori, city beautification atau penataan kota bisa meningkatkan traffic. Kalau traffic naik, maka peluang bisnis juga akan tumbuh,” jelasnya.
Sementara itu, sektor pariwisata diarahkan untuk menciptakan destinasi baru, bukan hanya memperkuat yang sudah ramai. Ia mencontohkan sejumlah lokasi yang akan disentuh, seperti Pantai Prigi, Gua Lowo, hingga kawasan Dilum Wilis.
Menurutnya, langkah ini penting untuk diversifikasi sumber pendapatan daerah. Selama ini, destinasi seperti Pasir Putih menjadi penyumbang utama PAD. Namun jika hanya bergantung pada satu lokasi, potensi pertumbuhan akan stagnan.
“Kita ingin punya keranjang pendapatan baru. Kalau hanya fokus di tempat yang sudah ramai, kita tidak berkembang,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi kawasan Dilum Wilis yang mulai berkembang dengan hadirnya investasi swasta, seperti glamping di area perkebunan kopi. Pemerintah, kata dia, akan memperkuat ekosistem tersebut melalui peningkatan akses dan penataan kawasan.
“Kalau ekosistemnya hidup, pelaku usaha sudah ada, lalu kita percantik kawasan dan perbaiki akses, maka traffic akan naik dengan sendirinya,” imbuhnya.
Bupati menambahkan, skema pembiayaan ini telah terbukti efektif sebelumnya. Ia mencontohkan sektor rumah sakit daerah yang pendapatannya meningkat signifikan setelah pembangunan melalui pembiayaan.
“Dulu pendapatan rumah sakit sekitar Rp20 miliar, sekarang hampir Rp140 miliar. Itu yang kemudian membantu membiayai layanan kesehatan masyarakat kurang mampu,” ungkapnya.
Ia menegaskan, pembiayaan bukan sekadar utang, melainkan instrumen percepatan pembangunan yang dapat menjadi game changer bagi daerah.(abi/ADV)





