Bacaini.ID, JEMBER – Bupati Jember, Gus Fawait, menggelar talkshow bertema “Sekolah Berdaya Mencegah Pernikahan Dini” di Pendopo Wahyawibawagraha, Rabu (15/4/2026), dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Dalam kesempatan tersebut, Gus Fawait menegaskan bahwa persoalan pernikahan dini tidak bisa dipisahkan dari berbagai tantangan sosial lain, seperti stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB).“Masalah pernikahan dini dan persoalan pendidikan lainnya tidak bisa diselesaikan oleh bupati atau kepala dinas saja. Perlu kerja sama semua pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, guru, hingga keluarga,” ujar Gus Fawait.
Ia juga menyoroti bahwa batas usia pernikahan telah diatur dalam undang-undang, yang pada dasarnya mempertimbangkan kesiapan kesehatan reproduksi. “Banyak kasus stunting terjadi karena kehamilan di usia sangat belia, tidak sesuai dengan yang telah dicanangkan pemerintah,” tambahnya.
Sebagai upaya konkret, Pemkab Jember tengah merancang program sekolah berdaya dengan pendekatan berbasis karakteristik wilayah, mulai dari kawasan perkotaan, pedesaan, hingga pesisir.
Sementara itu, Najelaa Shihab mengapresiasi langkah Pemkab Jember yang dinilai progresif karena melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam pembangunan pendidikan. “Pendidikan tidak hanya soal sekolah, tetapi juga keluarga dan isu sosial, termasuk pernikahan anak. Ini pendekatan yang masih jarang dilakukan pemerintah daerah,” jelasnya.
Sebagai informasi, Najelaa Shihab merupakan pendiri Sekolah Cikal, sebuah institusi pendidikan inklusi berbasis kompetensi di Indonesia yang berfokus pada pengembangan diri, minat, dan bakat anak secara unik dari jenjang PAUD hingga SMA. Cikal dikenal menggunakan kurikulum kompetensi 5 Bintang, menerapkan blended learning, serta menyediakan Pendidikan Inklusi Cikal (PIC) bagi anak berkebutuhan khusus.
Pendiri Sekolah Cikal tersebut juga menilai bahwa langkah Jember menunjukkan perubahan paradigma dalam pendidikan, dari yang semula berfokus pada institusi menjadi pendekatan ekosistem. Ia berharap program yang dirintis ini dapat menjadi model praktik baik bagi daerah lain.“Ini bukan sekadar program, tapi bagaimana semua pihak berkolaborasi untuk menghasilkan dampak nyata bagi masyarakat,” tutupnya. (meg/ADV)





