Bacaini.ID, BLITAR – Rawonnya enak. Kuahnya tidak kemanisan seperti umumnya rawon di Mataraman. Juga tidak terlalu asin layaknya kuliner di kawasan Arekan. Pokoknya pas di lidah.
Sambil menghitung kembalian pembayaran, perempuan berwajah oriental berusia kisaran 60 tahun itu tersenyum. Kepalanya mengangguk pelan, merespon pujian.
“Terima kasih sudah berkunjung,” tuturnya kalem sembari mengulurkan uang kembalian kepada Bacaini.id Selasa (31/3/2026).
Baca Juga:
Berlokasi di pojokan jalan Wilis Kota Blitar, warung makan rawon itu memakai brand dagang Bu Lisa. Brand yang mengadopsi nama pemiliknya, yakni perempuan berwajah oriental itu.
Bacaini.id setidaknya telah menjumpai 2 warung makan yang menggunakan brand dagang dengan nama pemiliknya sendiri. Satunya lagi di Kota Lumajang. Bernama warung makan Mbak Lies.
Kuliner yang dijual juga enak-enak. Bedanya varian menu yang dijajakan Mbak Lies lebih banyak. Bukan hanya rawon, soto, dan lalapan ayam, tapi juga gudeg dan lodho.
Sementara di warung makan Bu Lisa Kota Blitar, menu yang disajikan spesialis varian rawon. Mulai rawon iga, rawon buntut, rawon empal, rawon empal suwir hingga rawon daging.
Latar belakang keduanya ternyata juga serupa. Sama-sama pernah memiliki usaha salon kecantikan sebelum kemudian beralih ke bisnis kuliner.
Ada adagium di masyarakat yang berbunyi, perempuan yang menggeluti dunia salon kecantikan biasanya pintar meracik makanan. Masakannya selalu enak. Betulkah itu? Lisa tersenyum.
“Saya nggak tahu. Mungkin kebetulan saja. Kalau saya dari dulu memang gemar memasak. Dan kebetulan juga pernah punya usaha salon,” ungkapnya.
Baca Juga:
- Ini Kuliner Khas Blitar Wajib Dicoba: Bisa Buat Oleh-oleh
- Kebanyakan Kuliner di Blitar yang Ramai Karena Murah, Bukan Enak, Itu Tak Diragukan
Usaha salon itu berada di jalan Mastrip Kota Blitar. Namanya John Salon dan menjadi salah satu salon legendaris di Kota Blitar. Sayang, bisnis kecantikan yang dirintis sejak tahun 1978 itu tutup di tahun 2023.
Tidak dijelaskan alasan kenapa usaha yang berumur 45 tahun itu akhirnya tutup. Dari gesturnya Lisa sepertinya kurang berkenan cerita. Yang pasti sejak itu ia full menekuni bisnis kuliner.
Selain spesial rawon di jalan Wilis yang ditunggunya sendiri, ia juga memiliki lapak kuliner lalapan di depan toko grosir Samudera. “Namanya lalapan Cak Kholik. Silahkan dicicipi,” katanya.
Resep Legendaris Warisan Wak Seneng
Jeratlah laki-laki di lidahnya dengan makanan yang enak, maka dia akan betah di rumah. Begitulah power makanan dalam menjaga keharmonisan rumah tangga.
Lisa cerita, pada dasarnya memasak sudah jadi kegemarannya sejak muda. Hobi yang menurun dari orang tuanya, terutama ibu. Dalam kenangannya, sang ibu adalah perempuan yang berbakat.
Apalagi setelah mengenal Wak Seneng, warga Sukorejo Kota Blitar yang di zamannya terkenal sebagai ahli masak, bakat itu makin terbentuk. “Bisa dikatakan berguru kepada Wak Seneng,” kenangnya.
Yang diketahui Lisa, skill kulinari Wak Seneng diwarisi ibunya, termasuk buku resepnya. Buku resep makanan tulisan tangan yang kemudian jatuh ke tangannya. “Termasuk resep membuat rawon ini,” tambahnya.
Memiliki 3 anak, 2 cucu dan suami pensiunan pegawai Kantor Pos, Lisa mengaku mengelola usaha kulinernya sendirian. Setiap hari buka pagi dan tutup jam 6 sore. Mulai memasak hingga menyajikan makanan dilakukan seorang diri.
Sebelum membuka usaha kuliner rawon dan lalapan di Kota Blitar, ia mengaku sempat buka lapak makan di Medan, Sumatera Utara, yakni saat suaminya pindah tugas ke sana. Banyak lidah yang cocok dengan masakannya.
Selama 6 tahun dengan pelanggan kebanyakan para pegawai, usaha kuliner yang laris itu harus tutup karena suami pindah tugas lagi, dan terakhir kembali ke Kota Blitar sampai pensiun.
Ibarat berlayar, kapalnya kini telah melempar sauh. Warung makan Bu Lisa dan Lalapan Cak Kholik menjadi pelabuhan terakhirnya. “Semoga nanti anak-anak bisa melanjutkan,” harap Lisa.





