Bacaini.ID, KEDIRI – Langit malam kembali dihiasi fenomena astronomi menarik yang dikenal sebagai Pink Moon. Meski namanya terdengar unik dan berwarna, Pink Moon bukanlah bulan yang tampak berwarna merah muda. Fenomena ini merupakan sebutan tradisional untuk fase bulan purnama yang terjadi pada bulan April.
Istilah Pink Moon berasal dari penamaan kalender musiman suku asli Amerika Utara. Nama tersebut terinspirasi dari mekarnya bunga liar berwarna merah muda bernama phlox subulata yang biasanya muncul di wilayah Amerika Utara pada awal musim semi. Dengan demikian, penamaan Pink Moon lebih bersifat simbolis dan kultural, bukan mencerminkan warna Bulan secara visual.
Secara astronomi, Pink Moon adalah bulan purnama biasa, ketika Matahari, Bumi, dan Bulan berada dalam satu garis lurus. Pada fase ini, seluruh permukaan Bulan yang menghadap Bumi tampak terang karena sepenuhnya disinari Matahari.
Meski demikian, dalam kondisi tertentu Bulan dapat terlihat sedikit kemerahan atau keemasan saat terbit atau terbenam. Hal ini disebabkan oleh efek hamburan cahaya di atmosfer Bumi, terutama ketika Bulan berada dekat dengan cakrawala. Namun, warna tersebut tidak berkaitan langsung dengan istilah Pink Moon itu sendiri.
Selain memiliki makna budaya, Pink Moon juga kerap dikaitkan dengan tradisi keagamaan. Dalam kalender Kristen, bulan purnama di bulan April sering menjadi acuan untuk menentukan tanggal Paskah, yang dirayakan pada hari Minggu pertama setelah bulan purnama tersebut.
Fenomena Pink Moon dapat disaksikan dengan mata telanjang tanpa memerlukan alat khusus. Namun, penggunaan teropong atau teleskop dapat membantu pengamat melihat detail permukaan Bulan, seperti kawah dan dataran gelap yang dikenal sebagai maria.
Para astronom mengingatkan masyarakat untuk tidak terpengaruh oleh klaim berlebihan yang kerap beredar di media sosial, seperti anggapan bahwa Pink Moon membawa dampak khusus terhadap kondisi emosional atau peristiwa alam tertentu. Hingga kini, tidak ada bukti ilmiah yang mendukung klaim tersebut.
Kendati demikian, Pink Moon tetap menjadi momen menarik bagi masyarakat untuk menikmati keindahan langit malam sekaligus meningkatkan minat terhadap ilmu astronomi. Fenomena ini juga menjadi pengingat akan keterkaitan antara pergerakan benda langit, tradisi budaya, dan kehidupan manusia sejak ribuan tahun lalu.
Penulis: Hari Tri Wasono





