Bacaini.ID, KEDIRI – Presiden Soekarno dalam acara Kongres Muhammadiyah ke-36 di Bandung Jawa Barat 24 Juli 1965 menyatakan Indonesia tak lama lagi akan memiliki nuklir atau bom atom. Nuklir atau bom atom itu akan diproduksi, dibuat sendiri oleh Bangsa Indonesia.
“Insya Allah Indonesia dalam waktu dekat akan membuat bom atomnya sendiri,” kata Bung Karno dalam pidato di Kongres Muhammadiyah ke-36 seperti dikutip Bacaini.id dari buku Ambisi Nuklir Soekarno dan Tiongkok Jumat (20/3/2026).
Baca Juga:
- Kisah Soekarno di Pengasingan Bengkulu: Tetap Digaji Belanda
- Jejak Penting Bung Karno di Ndalem Pojok Kediri, Bukan Blitar
- Soekarno Tak Pernah Mengemis Diangkat Presiden Seumur Hidup
Pernyataan Soekarno sejatinya tidak berdiri sendiri. Ada yang mendahului sebelumnya. Pada November 1964, Brigjen Hartono, Kepala Logistik Angkatan Darat mengumumkan Indonesia akan memproduksi bom atomnya sendiri.
Produksi paling cepat berlangsung pada 5 Oktober 1965, yang itu sekaligus jadi kado kejutan pada perayaan Hari Angkatan Bersenjata.
Isu Nuklir Indonesia bikin AS dan Soviet Gerah
Retorika politik Bung Karno di acara Kongres Muhammadiyah 24 Juli 1965 itu sontak membuat geger geopolitik (internasional), utamanya negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Berbagai pandangan spekulasi dan analisa dari pengamat asing dan domestik berseliweran. Indonesia dipandang terpengaruh pencapaian Tiongkok atau RRT (Republik Rakyat Tiongkok).
Tiongkok pada 16 Oktober 1964 diketahui telah melakukan uji coba senjata nuklir pertamanya. Nuklir diledakkan di fasilitas uji Lop Nor di kawasan provinsi barat laut Xinjiang.
Satu hari kemudian reaktor riset TRIGA-Mark II dengan kapasitas 250 kWt di Bandung Jawa Barat sukses menghasilkan reaksi nuklir dan itu yang pertama di Indonesia.
Reaktor TRIGA-Mark II untuk pengembangan teknologi nuklir di Indonesia merupakan hasil pasokan Amerika Serikat. Tujuan awalnya untuk kepentingan sipil, bukan militer.
Namun dengan adanya uji coba yang dinilai sebagai pencapaian bersejarah, Indonesia dikhawatirkan akan mengikuti jejak RRT, yakni menyelewengkan nuklir untuk senjata militer.
Para pengamat asing maupun domestik menyimpulkan Indonesia tidak memiliki kapasitas memproduksi senjata nuklir, sehingga harus bergantung pada dukungan luar negeri.
Alasan paling rasional, bantuan datang dari Tiongkok, mengingat kedekatan geografis dan semakin eratnya hubungan Sino-Indonesia.
Pada sisi lain Beijing memperlihatkan sinyal positifnya. Pada akhir 1964 hingga September 1965 menyambut baik perubahan sikap Soekarno terhadap bom atom atau nuklir, dan bahkan mendorongnya.
Soekarno didorong melanjutkan kebijakan luar negeri ultra-kiri yang berani menantang dua negara adidaya Amerika Serikat dan Uni Soviet.
Di mata Bung Karno bom atom atau nuklir menjadi simbol kekuasaan dan prestise ketika ia mengisolasi Indonesia dari komunitas internasional.
Namun demikian Tiongkok belum memberikan dukungan substansial bagi program nuklir strategis di Indonesia. Kunjungan Kelompok Energi Atom Indonesia di Beijing masih dibatasi hanya pada lokasi penelitian.
Proyek Soekarno memiliki nuklir sendiri pada akhirnya tinggal cita-cita. Peristiwa 30 September 1965 menghentikan semuanya.
Pada tahun 1967 Soeharto menghentikan hubungan diplomatik Sino-Indonesia dan kembali mengarahkan Indonesia ke Amerika Serikat. Soeharto menerima pengawasan internasional atas bahan dan peralatan atom Indonesia.
Yang menarik, laporan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat membeberkan pernyataan Brigjen Hartono, Kepala Logistik Angkatan Darat yang secara pribadi mengakui proyek bom atom atau nuklir Indonesia hanya fantasi belaka. Hanya ada di atas kertas.
Dokumen yang dibeberkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat tersebut menyimpulkan: “Jika program semacam itu dikembangkan di Indonesia, maka harus dibangun, dibiayai, dan dioperasikan oleh negara ketiga.”.
Ambisi nuklir Soekarno menjadi salah satu episode menarik dalam sejarah Indonesia. Di tengah rivalitas global, gagasan besar itu pada akhirnya tak pernah terwujud dan hanya tersisa sebagai catatan politik penuh kontroversi.
Penulis: Solichan Arif





