Bacaini.ID, KEDIRI – Kelurahan Kemasan di Kecamatan Kota, Kediri memiliki sejarah panjang peradaban emas yang menghidupi kota ini selama berabad-abad.
Nama Kemasan diyakini berasal dari aktivitas warganya yang berprofesi sebagai pengolah emas. Pada abad ke-11, daerah ini sudah menjadi pusat kerajinan emas yang terkenal, tempat para ahli logam mulia bekerja menghasilkan perhiasan bernilai tinggi.
Lokasi Kemasan yang dekat dengan pusat pemerintahan masa itu membuatnya berkembang pesat. Dalam catatan sejarah Kota Kediri, kota ini sudah disebut sejak tahun 804 M, dan menjadi pusat pemerintahan kerajaan besar di abad ke-11.
Tidak mengherankan bila keterampilan mengolah emas tumbuh subur di Kemasan, di mana para raja dan bangsawan membutuhkan perhiasan, mata uang, dan benda upacara yang hanya dapat dibuat dengan keterampilan tinggi.
Sejarah panjang itu tidak terputus. Bahkan memasuki era modern, terutama pada 1960-an hingga akhir 1990-an, Kemasan kembali memasuki masa kejayaannya.
Pada masa itu, Kemasan dikenal sebagai salah satu pusat produksi emas terbesar di Indonesia, dengan order datang dari pejabat, pedagang besar, hingga orang kaya dari Kediri, Tulungagung, Blitar, dan Surabaya. Perajin di Kemasan tidak pernah sepi pekerjaan, tokonya ramai, tungku selalu menyala, dan dering alat pemukul emas menjadi latar suara keseharian warga.
Perajin emas begitu banyak jumlahnya, sehingga profesi ini membentuk identitas kawasan. Inilah alasan kuat mengapa nama Kemasan bertahan dan semakin lekat merangkum kehidupan masyarakatnya.
Eka Wisnu Wardana adalah salah satu warga Kediri yang mewarisi kisah kejayaan perajin emas di sana. Kakeknya adalah perajin emas yang tinggal dan bekerja di salah satu toko emas di Kelurahan Kemasan.
“Ayah saya meneruskan usaha itu dengan membuka toko emas di Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri,” kata Wisnu kepada Bacaini.ID, Kamis, 19 Maret 2026.
Sebagai anak pemilik toko emas, Wisnu merasakan kejayaan dan kemuliaan di masa kanak-kanak. Terlebih ibunya juga membuka gerai toko emas lagi sebagai cabang usaha.
Sayang, warisan profesi ini tak berlanjut ke generasi ketiga. Wisnu memilih berkarir di dunia politik dan kini menjabat Komisioner KPU Provinsi Jawa Timur.
Sementara adiknya yang sempat membuka toko emas di Madiun, pada akhirnya juga menutup usaha dan memilih berkarir sebagai anggota Bawaslu.
“Saat ini hanya tinggal lemari dan meja pajangan emas di rumah Gurah. Tidak ada yang meneruskan usaha tersebut,” kata Wisnu.
Wisnu bukan satu-satunya generasi yang gagal mempertahankan bisnis emas. Seiring munculnya industri perhiasan modern yang menggunakan mesin dan produksi massal, para perajin emas tradisional mulai kehilangan tempat. Toko perhiasan modern yang menjamur sejak tahun 2000-an membuat perajin manual terdesak.
Meski era keemasan perajin emas di Kelurahan Kemasan meredup, jejaknya tetap dijaga. Ketika Kantor Kelurahan Kemasan diresmikan tahun 2023, pemerintah memasukkan unsur kearifan lokal berupa ukiran emas, timbangan emas, dan elemen dekoratif yang meniru ornamen khas perajin emas tempo dulu. Simbol-simbol ini dipilih untuk menghormati sejarah kawasan sebagai pusat perajin emas.
Kehadiran gedung baru yang mengangkat identitas lokal itu menjadi pengingat bahwa meski zaman berubah, sejarah tak boleh hilang.
Penulis: Hari Tri Wasono





