Bacaini.ID, KEDIRI – Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menetapkan awal Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri 2026 dalam sidang resmi yang digelar Kamis, 19 Maret 2026, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H.
Rangkaian sidang dimulai pukul 16.30 WIB dengan seminar posisi hilal yang disiarkan langsung di YouTube, Instagram, dan TikTok Bimas Islam. Usai Magrib, tepat pukul 18.45 WIB, sidang isbat utama digelar secara tertutup untuk membahas laporan rukyatul hilal yang masuk dari puluhan titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Pengumuman hasil sidang isbat akan disampaikan pada konferensi pers pukul 19.25 WIB di Auditorium HM Rasjidi, Kementerian Agama RI, Jakarta Pusat. Masyarakat dapat menyaksikannya melalui kanal resmi Kemenag RI dan Bimas Islam TV.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang isbat melibatkan unsur pemerintah, BRIN, BMKG, ahli astronomi, observatorium, serta perwakilan ormas Islam untuk memastikan validitas data hilal. Dengan representasi luas itu, keputusan sidang dianggap memiliki legitimasi keagamaan yang kuat.
Prosesnya menggabungkan dua metode:
- Hisab, yaitu perhitungan astronomi yang memprediksi posisi hilal.
- Rukyat, yaitu pengamatan langsung terhadap hilal dari titik pantau di seluruh wilayah Indonesia.
Data hisab pemerintah menunjukkan ijtimak terjadi pada 19 Maret 2026 pukul 08.23 WIB, dengan ketinggian hilal antara 0°54’ hingga 3°07’, dan sudut elongasi 4°32’ hingga 6°06’. Semua data ini diverifikasi melalui pengamatan lapangan sebelum hasil sidang isbat diumumkan.
Potensi Perbedaan Penetapan Lebaran 2026
Sebelum hasil sidang isbat diumumkan, pemerintah telah merilis kalender resmi yang memprediksi Idul Fitri 2026 jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026, berdasarkan kriteria MABIMS (tinggi hilal minimal 3° dan elongasi minimal 6,4°).
Di sisi lain, Muhammadiyah telah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, memakai metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal. Sementara pemerintah dan NU diperkirakan menetapkan 1 Syawal pada 21 Maret 2026, menunggu konfirmasi hilal sesuai kriteria MABIMS.
Karena itu, potensi perbedaan Lebaran 2026 cukup besar, dan hasil sidang isbat malam ini menjadi penentu resmi bagi masyarakat luas.
Penulis: Hari Tri Wasono





