Bacaini.ID, KEDIRI — Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat pada Kamis, 19 Maret 2026 untuk menentukan awal Syawal 1447 Hijriah atau Hari Raya Idul Fitri 2026.
Sidang dijadwalkan di Auditorium H.M. Rasjidi, Kantor Kementerian Agama, Jakarta, bertepatan dengan 29 Ramadan 1447 H, yang merupakan hari terakhir bulan Ramadan menurut perhitungan kalender hijriah pemerintah.
Baca Juga:
Sidang isbat yang melibatkan organisasi kemasyarakatan Islam, para ahli astronomi, hingga perwakilan negara sahabat jadi mekanisme resmi pemerintah Indonesia dalam menetapkan awal bulan hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah.
Namun pada tahun 2026 ini, terdapat potensi perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri antara pemerintah dan organisasi Islam Muhammadiyah.
Muhammadiyah Sudah Tetapkan Idul Fitri 20 Maret 2026
Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sebelumnya telah lebih dulu menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026.
Keputusan tersebut tertuang dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang penetapan hasil hisab untuk Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 Hijriah.
Dalam penentuan awal bulan hijriah, Muhammadiyah menggunakan metode Hisab Hakiki Wujudul Hilal, yaitu metode perhitungan astronomi yang menentukan awal bulan jika hilal atau bulan sabit baru secara matematis telah berada di atas ufuk setelah matahari terbenam.
Metode ini berbeda dengan pendekatan pemerintah yang menggabungkan hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan langsung hilal).
Berdasarkan perhitungan Muhammadiyah, posisi hilal pada 19 Maret 2026 sudah memenuhi kriteria wujudul hilal sehingga keesokan harinya langsung ditetapkan sebagai 1 Syawal 1447 H.
Dengan demikian, warga Muhammadiyah diperkirakan akan melaksanakan malam takbiran pada Kamis malam, 19 Maret 2026, dan merayakan Idul Fitri pada Jumat, 20 Maret 2026.
Pemerintah Masih Menunggu Hasil Sidang Isbat
Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian Agama masih menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pada 19 Maret 2026.
Dalam proses tersebut, pemerintah akan melakukan pemantauan hilal atau rukyatul hilal di berbagai titik di Indonesia.
Biasanya, pengamatan hilal dilakukan di lebih dari 100 lokasi pemantauan yang tersebar dari Sabang hingga Merauke. Pengamatan ini melibatkan tim dari Kementerian Agama, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), organisasi Islam, serta para ahli astronomi dari berbagai lembaga.
Jika hilal terlihat pada 19 Maret 2026, maka Idul Fitri bisa jatuh pada 20 Maret. Namun jika hilal tidak terlihat atau belum memenuhi kriteria, maka bulan Ramadan akan digenapkan menjadi 30 hari sehingga Idul Fitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Berdasarkan kalender resmi pemerintah dan Surat Keputusan Bersama (SKB) Tiga Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama, Idul Fitri 1447 H diperkirakan jatuh pada 21–22 Maret 2026. Meski demikian, keputusan resmi tetap akan diumumkan setelah sidang isbat selesai.
Idul Fitri 2026 Berdekatan dengan Hari Raya Nyepi
Tahun 2026 juga menjadi momen yang cukup unik karena Hari Raya Idul Fitri berlangsung sangat dekat dengan Hari Raya Nyepi, yang merupakan perayaan Tahun Baru Saka bagi umat Hindu.
Berdasarkan kalender nasional, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Artinya, pada hari tersebut umat Hindu di Bali dan beberapa daerah lain akan menjalankan ritual Catur Brata Penyepian, yaitu rangkaian aturan yang meliputi tidak menyalakan api atau lampu, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak melakukan hiburan.
Di sisi lain, pada tanggal yang sama umat Muslim juga berada pada hari terakhir Ramadan dan bersiap menyambut malam takbiran.
Kedekatan dua hari besar keagamaan ini menjadi perhatian berbagai pihak, terutama di daerah yang memiliki keragaman agama tinggi seperti Bali.
Untuk menjaga kerukunan antarumat beragama, pemerintah bersama tokoh agama di Bali telah menyepakati sejumlah aturan khusus terkait pelaksanaan malam takbiran pada 19 Maret 2026.
Berikut beberapa kesepakatan aturan khusus:
• Takbiran di masjid atau musala tetap diperbolehkan, namun tanpa menggunakan pengeras suara luar.
• Tidak diperbolehkan mengadakan takbir keliling atau pawai obor.
• Penerangan di tempat ibadah digunakan secukupnya agar tetap menghormati suasana Nyepi.
Langkah ini diambil sebagai bentuk saling menghormati antara umat beragama, sekaligus menjaga suasana Nyepi yang identik dengan keheningan.
Selama bertahun-tahun, Bali memang dikenal memiliki praktik toleransi yang kuat dalam menghadapi perayaan keagamaan yang berdekatan.
Perbedaan Penentuan Awal Syawal Bukan Hal Baru
Perbedaan penetapan awal bulan hijriah antara pemerintah dan Muhammadiyah bukanlah hal baru di Indonesia.
Hal ini terjadi karena perbedaan metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan. Pemerintah menggunakan pendekatan imkanur rukyat, yaitu kriteria kemungkinan terlihatnya hilal yang disepakati dalam forum MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura).
Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang lebih menitikberatkan pada perhitungan astronomi.
Meski demikian, perbedaan tersebut selama ini dapat disikapi dengan baik oleh masyarakat Indonesia yang dikenal memiliki tradisi toleransi yang kuat dalam menjalankan ibadah.
Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan ada pula momen ketika penentuan Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah jatuh pada hari yang sama.
Sidang isbat yang akan digelar 19 Maret 2026 nanti akan melalui beberapa tahapan, mulai seminar posisi hilal, laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah, hingga musyawarah bersama para ulama dan ahli.
Setelah itu, Menteri Agama mengumumkan secara resmi kepada masyarakat. Keputusan tersebut kemudian menjadi dasar bagi umat Islam di Indonesia dalam menentukan pelaksanaan Hari Raya Idul Fitri.
Dengan berbagai dinamika yang ada, masyarakat kini menunggu hasil sidang isbat untuk memastikan kapan 1 Syawal 1447 Hijriah akan dirayakan secara resmi di Indonesia.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





