• Login
Bacaini.id
Saturday, February 28, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Viral! ‘Makanan Demit’ Disebut Lebih Bergizi dari Menu MBG Ramadan

Perbandingan menu MBG Ramadan dengan sajen Nusantara viral di media sosial. Disebut sebagai “makanan demit”, sajian tradisional ini justru dinilai lebih beragam dan sarat makna filosofi, ekologi, hingga ekonomi kerakyatan

ditulis oleh Editor
28 February 2026 10:44
Durasi baca: 5 menit
Perbandingan menu MBG Ramadan dengan sajen atau makanan demit khas masyarakat adat Nusantara yang terdiri dari nasi tumpeng, pisang raja, dan kembang setaman

Viral di media sosial, warganet membandingkan menu MBG Ramadan dengan sajen yang disebut “makanan demit” dan dianggap lebih beragam serta bergizi (foto/ist/Bacaini)

Bacaini.ID, KEDIRI — Media sosial diramaikan atau viral dengan postingan perbandingan antara menu MBG di bulan Ramadan dengan menu sesaji atau sajen masyarakat adat Nusantara.

Kandungan gizi menu MBG yang dibuat oleh SPPG di bulan Ramadan, diadu dengan menu sajen yang beraneka rupa dan disebut warganet lebih bergizi.

Warganet membandingkan menu sajen yang oleh sebagian orang disebut ‘makanan demit’ dengan menu MBG di bulan Ramadan yang sangat minimalis dan banyak diprotes.

Baca Juga:

  • Menu MBG SMAN 1 Kota Blitar Disebut Asal-asalan dan Tak Layak Rp10 Ribu
  • Mau Coba Frugal Living di Blitar, Tapi Diganggu MBG

Sajen atau sesaji merupakan praktik tradisi masyarakat Nusantara yang seringkali disalahpahami sebagai sekadar ritual mistis.

Bagi masyarakat adat, sajen bukan sekadar tumpukan makanan dengan dupa atau lilin, melainkan sebuah ‘bahasa simbol’ yang menghubungkan dimensi manusia (mikrokosmos) dengan alam semesta (makrokosmos).

Antropolog Clifford Geertz dalam The Religion of Java, menggarisbawahi inti dari praktik tradisi ini adalah ‘Slametan’.

Geertz menjelaskan bahwa sajen berfungsi sebagai sarana untuk mencapai keadaan slamet, sebuah kondisi psikologis dan spiritual di mana tidak ada pertentangan, kecemasan, atau gangguan, baik dari alam nyata maupun gaib.

Filosofi Sajen Nusantara dan Makna Materialnya

Tradisi sajen berakar pada kepercayaan bahwa manusia adalah bagian integral dari alam. Hal ini sejalan dengan konsep Tri Hita Karana di Bali atau Memayu Hayuning Bawana di Jawa.

Menurut Koentjaraningrat dalam Kebudayaan Jawa, sajen merupakan bentuk visual dari doa. Di dalamnya, terdapat pengakuan bahwa keberhasilan panen atau keselamatan keluarga bukan semata-mata hasil kerja keras manusia, melainkan ada restu dari Sang Pencipta dan ‘penjaga’ alam.

Secara etimologis, saji berarti menghidangkan. Ini adalah bentuk penghormatan (ngajeni). Menyajikan sajen bukan berarti memberi makan makhluk gaib dalam arti harfiah, melainkan sebuah simbol pengorbanan dan wujud fisik syukur atas hasil bumi atau keberhasilan yang telah dinikmati.

Setiap elemen dalam sajen dipilih dengan ketelitian filosofis yang tinggi khas masyarakat adat. Rujukan pada berbagai penelitian etnografi menunjukkan bahwa elemen-elemen ini merupakan representasi dari kehidupan manusia.

Berikut makna dibalik sajian aneka rupa hidangan sajen masyarakat adat yang dianggap lebih bergizi daripada menu MBG:

• Nasi Tumpeng: Komunikasi Vertikal

Dalam sajen, nasi biasanya dibentuk mengerucut atau berbentuk tumpeng dengan nasi putih atau nasi kuning. Ini melambangkan gunung, yang dalam kosmologi Nusantara dianggap sebagai tempat suci.

Bentuk yang mengecil ke atas adalah simbol tauhid atau pemujaan kepada Yang Maha Esa. Hubungan manusia secara vertikal, dengan Yang Maha Kuasa.

Suhardi dalam Sajen Pertanian di Jawa, mencatat bahwa warna kuning pada tumpeng adalah simbol kemuliaan, sedangkan putih adalah kesucian.

• Pisang Raja: Martabat dan Kebermanfaatan

Pisang raja sesisir hampir selalu hadir. Secara simbolis, pisang raja dipilih agar orang yang menyajikan memiliki derajat yang tinggi.

Secara biologis, pohon pisang hanya berbuah sekali lalu mati, melambangkan tekad manusia untuk memberikan warisan kebaikan (amal) sebelum ajalnya tiba.

• Kembang Setaman: Keharuman Budi

Bunga mawar, melati, dan kenanga bukan sekadar pengharum. Mawar (awar-awar) bermakna agar hati selalu tawar dari hawa nafsu. Melati (rasa jati) berarti ketulusan hati. Sementara bunga Kantil (kemantil) melambangkan ingatan yang selalu terpaut pada sang pencipta dan leluhur.

Sajen Menjadi Budaya Masyarakat yang Memiliki Nilai Ekologis

Alih-alih berfokus pada hal mistis dibalik sajen, masyarakat adat secara turun temurun secara alamiah menjadi penjaga keseimbangan alam melalui sajen.

Sajen lazim diletakkan di mata air (belik) atau di bawah pohon besar. Tempat-tempat yang dianggap mistis namun sebenarnya memiliki tujuan lebih dari sekedar ‘memberi makan demit’.

Praktik ini secara tidak langsung menciptakan sistem proteksi alam. Dengan menganggap suatu tempat sebagai area keramat yang perlu diberi sajen, masyarakat adat secara otomatis melarang penebangan pohon atau pencemaran sumber air di area tersebut.

Data dari berbagai studi lingkungan menunjukkan bahwa area yang dikeramatkan secara adat sering kali memiliki biodiversitas yang lebih tinggi.

Di Jawa Barat, misalnya, konsep Hutan Larangan yang dijaga dengan ritual sesaji terbukti efektif mencegah longsor dan menjaga debit air tanah tetap stabil dibandingkan area yang dikelola secara komersial.

Atau misal sajen yang diletakkan di tempat-tempat dianggap seringkali terjadi kecelakaan, seperti misal di perempatan jalan, rel kereta api dan lainnya, secara otomatis membuat warga yang melewati tempat tersebut menjadi lebih waspada. 

Makna Filosofis di Balik Elemen Sajen

Seiring masuknya agama-agama besar, sajen mengalami proses sinkretisme. Di Bali, sebagaimana dijelaskan oleh I Ketut Wiana dalam Makna Sesaji dalam Hindu, sesaji atau Banten adalah bagian dari peribadatan harian yang merepresentasikan seluruh isi alam semesta dalam bentuk kecil.

Sementara dalam masyarakat Islam di Nusantara, sajen bertransformasi menjadi elemen dalam tradisi kenduri. Makanan yang disajikan tetap memiliki simbolisme lama, namun esensinya diubah menjadi sedekah.

Sajen bukan lagi hanya menjadi ‘makanan demit’ penunggu tempat-tempat wingit, namun juga menjadi representasi doa-doa yang dipanjatkan sesuai kepercayaan agama tanpa membuang akar identitasnya. 

Dari Ritual ke Ekonomi Kerakyatan

Di Bali, sajen atau Banten bukan sekedar urusan ritual keagamaan, namun juga menjadi motor penggerak ekonomi mikro yang masif.

Di pasar-pasar tradisional, sektor penjualan bunga tabur, janur, ayam kampung, dan pisang raja tetap bertahan karena adanya kebutuhan rutin untuk sajen.

Bahkan kebutuhan yang tinggi pada sajen tak hanya menguntungkan secara ekonomi masyarakat sekitar, namun juga masyarakat daerah lain yang menjadi supplier bahan-bahan untuk sajen.

Tradisi spiritual mendukung keberlangsungan hidup para petani kecil dan pedagang tradisional. Identitas budaya menjadi kekuatan ekonomi.

Secara umum, tradisi membuat sajen di berbagai daerah di seluruh Nusantara secara tak langsung juga menghidupkan berbagai sektor usaha rakyat.

Produsen dupa, lilin, kemenyan, peternak ayam kampung, petani bunga bahkan penjual daun pisang, turut ‘kecipratan’ rezeki dari tradisi sajen. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Sumber: makanan demit lebih bergizi
Via: sajen
Tags: budaya jawamakanan demitmbg ramadansajen nusantarasesaji adattradisi nusantaraviral media sosial
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi bagian otak Anterior Cingulate Cortex (ACC) yang berperan dalam kontrol emosi

Belajar dari Kasus UIN Suska: Saat Sakit Hati Bukan Sekadar Perasaan, Tapi Bisa Mengubah Kerja Otak

Perbandingan menu MBG Ramadan dengan sajen atau makanan demit khas masyarakat adat Nusantara yang terdiri dari nasi tumpeng, pisang raja, dan kembang setaman

Viral! ‘Makanan Demit’ Disebut Lebih Bergizi dari Menu MBG Ramadan

Mbak Wali Hadiri Safari Ramadan Bersama Warga Kecamatan Kota

  • Pensiunan polisi di Blitar ditemukan tewas tergantung di gudang rumahnya

    Pensiunan Polisi di Blitar Tewas Tergantung di Gudang Rumah, Diduga Ada Masalah Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Efek Narkoba yang Picu AKBP Didik Kuncoro Lakukan Penyimpangan Seksual

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jalan Rusak Mulai Mulus di Kabupaten Blitar, Komitmen Rijanto-Beky Dikebut Bertahap

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In