Bacaini.ID, KEDIRI – Bulan Februari 2026 tidak hanya terlihat estetik di kalender: lengkap 4 minggu yang dimulai dari tanggal 1 di hari Minggu hingga tanggal 28 di hari Sabtu.
Februari 2026 juga dicatat sebagai bulan yang istimewa karena terdapat 3 momen perayaan lintas agama dan budaya.
Orang Tionghoa, umat Kristen-Katolik, dan umat Islam, akan merayakan momen spiritual paling sakral secara berurutan di bulan Februari.
Fenomena ‘Triple Tolerance’ ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan sebuah refleksi pluralisme dan moderasi yang beragama di Nusantara.
Baca Juga:
- Fenomena Strawberry Moon yang Terjadi Lagi Tahun 2043
- 2.942 Bencana Alam di Indonesia Sepanjang Januari-November
- Telantarkan Istri Anak, Oknum DPRD PDIP Blitar Dibiarkan Tanpa Sanksi
Triple Tolerance, Tiga Momen Sakral Dalam Satu Garis Waktu
Tiga momen akan dirayakan hampir bersamaan oleh tiga komunitas besar di Indonesia. Berikut di antaranya:
• Tahun Baru Imlek 2577
Diawali dengan Imlek pada 17 Februari 2026 nanti. Berdasarkan zodiak Tionghoa, tahun ini merupakan tahun Kuda Api.
Imlek bukan sekadar perayaan etnis, melainkan simbol syukur atas pergantian musim dan harapan akan keberuntungan.
Di Indonesia, Imlek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas nasional. Warna merah yang dominan, aroma dupa, dan tarian Barongsai menciptakan suasana kegembiraan yang inklusif, dirayakan dimana-mana.
Bagi masyarakat Tionghoa, ini adalah waktu untuk berkumpul bersama keluarga (Chuxi) dan menghormati leluhur.
Tradisi yang berakar dari tanah Tiongkok ini telah berasimilasi dengan budaya lokal Indonesia, menciptakan sebuah identitas baru yang memperkaya budaya bangsa.
Masyarakat Betawi misalnya, juga turut merayakan Imlek dengan saling mengirim hantaran yang disebut dengan Nganter Bandeng.
• Rabu Abu, Puasa Prapaskah
Hanya berselang satu hari, tepatnya pada Rabu, 18 Februari 2026, umat Katolik dan beberapa denominasi Kristen akan merayakan Rabu Abu. Ini adalah hari pertama dari Masa Prapaskah, sebuah perjalanan spiritual selama 40 hari menuju Paskah.
Rabu Abu ditandai dengan penorehan abu di dahi umat sebagai pengingat akan kefanaan manusia dan panggilan untuk bertobat.
Selama masa ini, umat diwajibkan untuk berpuasa dan berpantang. Fokus utamanya adalah penyangkalan diri, sedekah, dan doa yang lebih intens.
Kemeriahan Imlek akan bertemu dengan kekhidmatan Rabu Abu.
• Ramadhan 1447 H
Sehari kemudian, 19 Februari 2026 giliran umat Islam yang menyambung bulan suci Ramadhan. Bulan yang paling dinantikan oleh miliaran Muslim di dunia.
Selama sebulan penuh, umat Muslim menahan lapar, haus, dan hawa nafsu dari terbit fajar hingga terbenam matahari.
Ramadhan bukan hanya soal menahan fisik, tapi juga tentang pembersihan jiwa, solidaritas sosial melalui zakat, dan mempererat silaturahmi melalui buka puasa bersama.
Masuknya awal Ramadhan tepat setelah Rabu Abu berarti bahwa umat Islam dan umat Kristiani/Katolik akan menjalankan ibadah puasa secara bersamaan di bulan Februari dan Maret 2026.
Ini merupakan momen langka yang mempertemukan frekuensi spiritual yang sama di antara dua agama terbesar di Indonesia.
Toleransi dan Dampak Besarnya
Pertemuan ketiga momen ini di Februari 2026 menunjukkan kehidupan toleransi dalam kehidupan bermasyarakat Indonesia secara nyata.
Pluralisme bukan berarti menyamakan semua agama (sinkretisme), melainkan menghargai keunikan masing-masing keyakinan sambil tetap menjaga ruang publik yang damai.
Kemeriahan Imlek yang biasanya terus berlanjut hingga perayaan Cap Go Meh, bisa jadi akan sedikit berkurang.
Terutama untuk keturunan Tionghoa yang beragama Kristen/Katolik maupun Islam. Namun, momen beruntun ini akan membawa dampak besar bagi perputaran ekonomi kerakyatan.
Tak hanya penuh dengan penjual takjil di pinggir-pinggir jalan, lazimnya perayaan Cap Go Meh sendiri menghadirkan pengusahaan-pengusaha musiman.
Momen ini mengingatkan bahwa meskipun jalan menuju Tuhan itu berbeda-beda, nilai-nilai kemanusiaan, disiplin diri, dan kasih sayang adalah bahasa universal yang menyatukan bangsa, bahkan memberikan dampak ekonomi yang tak bisa diremehkan.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





