Bacaini.ID, KEDIRI – Sejarah sikat gigi menunjukkan perawatan gigi bukanlah praktik modern. Sejumlah bukti arkeologis dan teks medis kuno menunjukkan bahwa manusia telah membersihkan gigi sejak ribuan tahun lalu.
Meskipun bentuk dan bahan sangat berbeda dengan sikat gigi masa kini, prinsip dasarnya sama: menghilangkan sisa makanan, menjaga kesehatan mulut, dan mencegah penyakit.
Sikat gigi menjadi sejarah medis dan budaya manusia yang tetap bertahan hingga kini dan terus berkembang sesuai zaman.
Baca Juga: Desa-desa Kuno di Kabupaten Blitar, dari Penataran Sampai Kademangan
Mesir Kuno: Resep Medis dan Alat Sederhana
Bukti tertua praktik perawatan gigi berasal dari Mesir Kuno (±3000–5000 SM). Analisis mumi Mesir menunjukkan abrasi gigi parah, yang dikaitkan dengan konsumsi roti berbasis gandum kasar yang tercampur pasir dari proses penggilingan batu.
Papirus medis seperti Ebers Papyrus (sekitar 1550 SM) dan Edwin Smith Papyrus mencantumkan resep untuk masalah gigi dan mulut.
Menurut catatan sejarah, orang Mesir menggunakan campuran abu kayu, batu apung, dan cangkang telur sebagai bahan pembersih gigi. Alat aplikasinya kemungkinan berupa jari, kain linen, atau batang kayu kecil.
Di era ini belum ada bukti arkeologis tentang sikat gigi berbulu, namun praktik pembersihan gigi telah menjadi bagian dari sistem kesehatan resmi Mesir.
Mesopotamia Mengenal ‘Cacing Gigi’
Di Mesopotamia, tablet tanah liat dari era Sumeria dan Babilonia (±2000 SM) mencatat konsep ‘tooth worm’ atau cacing gigi sebagai penyebab sakit gigi. Keyakinan ini hingga kini terus ada dalam masyarakat tradisional Indonesia.
Meski keliru, keyakinan ini mendorong praktik pembersihan gigi untuk mengusir penyebab penyakit.
Dalam buku History of Dentistry oleh Bernhard W. Weinberger (1948), alat yang digunakan untuk membersihkan gigi dari ‘penyakit’ kemungkinan berupa tongkat kayu, tulang kecil, atau kain kasar, meski bukti fisik sangat terbatas.
India Kuno: Tradisi Ranting Kunyah Berbasis Ilmu Medis
India memberi kontribusi besar dalam sejarah sikat gigi awal. Teks Ayurveda seperti Charaka Samhita dan Sushruta Samhita (±1500–500 SM) secara eksplisit menganjurkan penggunaan ranting pohon tertentu untuk membersihkan gigi setiap pagi.
Jenis pohon yang direkomendasikan adalah neem (Azadirachta indica), babul (Acacia nilotica), dan arjuna yang dipilih berdasarkan sifat antibakteri dan astringen.
Menurut penelitian dalam Indian Journal of Dental Research (2011), praktik ini terbukti efektif menekan bakteri oral. Tradisi ranting kunyah ini menyebar luas di Asia Selatan dan menjadi salah satu bentuk sikat gigi paling konsisten digunakan selama ribuan tahun.
Tiongkok Kuno: Era Sikat Gigi Berbulu
Sikat gigi dengan struktur paling mendekati modern pertama kali muncul di Tiongkok pada masa Dinasti Tang (618–907 M).
Catatan dalam ensiklopedia Tiongkok kuno dan temuan arkeologis menunjukkan sikat gigi dengan gagang bambu atau tulang, serta bulu babi hutan Siberia.
Menurut Chinese Medicine and Hygiene oleh Lu Gwei-Djen dan Joseph Needham, bulu babi hutan dipilih karena kaku dan tahan lama.
Namun sifatnya yang keras membuat penggunaan sikat ini tidak universal. Sikat gigi Tiongkok inilah yang kemudian menjadi model dasar bagi sikat gigi di dunia lain.
Tradisi ‘Sikat Gigi’ Dalam Beragam Budaya
Sejak abad ke-7 M, dunia Islam memperkenalkan penggunaan miswak, ranting dari pohon Salvadora persica. Di Asia Tenggara lebih dikenal sebagai siwak.
Anjuran penggunaan miswak tercatat dalam hadis sahih dan menjadi bagian dari rutinitas kebersihan umat Muslim.
Sejumlah penelitian modern—termasuk dalam Journal of Periodontology dan International Dental Journal dari WHO menunjukkan miswak mengandung fluoride alami, silica, dan senyawa antibakteri yang efektif mengurangi plak dan gingivitis.
Karena ekspansi Islam, penggunaan miswak menyebar luas dari Afrika Utara hingga Asia Tenggara, menjadikannya alat pembersih gigi dengan jangkauan geografis terluas dalam sejarah pra-modern.
Di Indonesia sendiri, masyarakatnya memiliki beragam cara untuk membersihkan gigi. Misalnya mengunyah sirih, menggosok gigi dengan abu, arang maupun serbuk batu bata dikenal masyarakat Indonesia sejak era pra kolonial.
Sikat Gigi Modern Ditemukan
Baru pada akhir abad ke-18, William Addis di Inggris memproduksi sikat gigi berbulu hewan dengan gagang tulang, terinspirasi dari model Tiongkok. Inilah titik transisi menuju sikat gigi modern.
William Addis menciptakan desain sikat gigi modern pertama saat berada di penjara. Ia menggunakan tulang sapi sebagai gagang dan bulu babi sebagai sikatnya, yang kemudian diproduksi secara massal melalui perusahaannya, Wisdom Toothbrushes.
Di tahun 1938, sikat gigi memulai babak baru dengan bulu nilon sintetis yang pertama kali diperkenalkan oleh perusahaan DuPont melalui merek Dr. West’s Miracle-Tuft. Nilon menggantikan bulu hewan karena lebih higienis dan tahan lama.
Hingga kini, sikat gigi terus berkembang dari manual hingga elektrik. Pilihannya pun menjadi beragam, seiring tradisi gosok gigi yang telah menjadi budaya global.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





