Bacaini.ID, KEDIRI — Kecerdasan buatan (AI) di era digital telah menjadi asisten pribadi yang hampir tidak terpisahkan. Mulai dari membantu menulis laporan, mengerjakan tugas kuliah, hingga menyusun strategi bisnis.
Namun, sebuah laporan terbaru dari para peneliti di MIT Media Lab memberikan peringatan keras yang mengejutkan dunia: penggunaan AI yang berlebihan dapat memicu apa yang disebut dengan Atrofi Kognitif.
Penelitian berjudul ‘Your Brain on ChatGPT: Accumulation of Cognitive Debt when Using an AI Assistant for Essay Writing Task’ mengungkapkan bahwa kemudahan yang ditawarkan ChatGPT memiliki ‘ongkos’ yang harus dibayar oleh saraf otak manusia.
Baca Juga:
- Jika Patung Macan Kediri Dibuat Dengan AI, Belum Tentu Viral
- Pemuda Blitar Kembangkan AI di Pasar Legi, Siapa Minat?
Mengenal Atrofi Kognitif dan Utang Kognitif
Atrofi kognitif merupakan kondisi kemampuan berpikir, kreativitas, dan daya ingat seseorang menurun akibat kurangnya stimulasi atau latihan mental. Sejalan dengan prinsip neurosains: ‘Use it or lose it’, gunakan atau akan kehilangannya.
Dalam penelitian tersebut, peneliti MIT, Nataliya Kos’myna memperkenalkan istilah Cognitive Debt (Utang Kognitif). Ini adalah akumulasi dari proses berpikir manusia yang diserahkan kepada AI. Pada akhirnya membuat otak kehilangan ketajaman saat harus bekerja secara mandiri.
Penelitian MIT dilakukan dengan tingkat ketelitian tinggi menggunakan teknologi EEG (Electroencephalography) untuk memantau aktivitas listrik di otak secara real-time.
Para peneliti melibatkan 54 partisipan yang dibagi menjadi tiga kelompok kontrol dalam tugas menulis esai:
• Kelompok Brain-Only: Menulis murni dari pemikiran sendiri.
• Kelompok Search Engine: Menggunakan Google untuk riset.
• Kelompok LLM (ChatGPT): Menggunakan bantuan penuh dari AI.
Studi ini dilakukan selama empat bulan untuk melihat efek jangka panjang pada plastisitas otak. Hasilnya cukup mengejutkan para peneliti.
Data yang dihasilkan dari pemindaian EEG menunjukkan perbedaan aktivitas otak yang sangat kontras:
• Penurunan Konektivitas Saraf Sebesar 47%: Pada pengguna berat AI, ditemukan penurunan drastis pada aktivitas jaringan saraf yang bertanggung jawab atas pemrosesan informasi mendalam.
Otak cenderung berada dalam kondisi ‘pasif’ karena tidak perlu bekerja keras merumuskan kalimat atau struktur logika.
• Efek Amnesia Digital: Sebanyak 83,3% pengguna kelompok ChatGPT tidak mampu mengingat kembali poin-poin kunci atau argumen spesifik dari esai yang baru saja mereka buat.
Hal ini membuktikan bahwa informasi hanya lewat tanpa diproses oleh memori jangka pendek maupun jangka panjang.
• Ketergantungan Mental: Ketika bantuan AI ditarik kembali pada sesi pengujian mandiri, performa kognitif kelompok pengguna AI menurun signifikan dibandingkan kelompok yang terbiasa berpikir manual.
Mereka mengalami kesulitan fokus dan hambatan kreatif (writer’s block) yang parah.
Sebab AI Bisa ‘Melemahkan’ Otak
Menurut para peneliti, ketika menulis secara manual, otak melakukan sinkronisasi yang kompleks: memanggil memori, menyusun sintaksis, mengevaluasi logika, dan melakukan koreksi diri. Proses ini memperkuat hubungan antar saraf.
Sebaliknya, saat menggunakan ChatGPT atau bantuan AI:
• Iterasi (Iteration) Berkurang: Pengguna abai pada pengulangan atau proses perbaikan. Mereka cenderung menerima hasil pertama yang diberikan AI tanpa melakukan evaluasi kritis.
• Hilangnya Deep Work: Kemampuan untuk fokus mendalam pada satu masalah menjadi tumpul karena terbiasa mendapatkan hasil instan.
• Pasivitas Kognitif: Otak berubah dari ‘pencipta’ menjadi sekadar editor pasif atau bahkan hanya pembaca.
Fenomena ini menimbulkan kekhawatiran besar terutama di dunia pendidikan. Jika pelajar menggunakan AI untuk setiap tugasnya, mereka mungkin mendapatkan nilai A, namun gagal membangun infrastruktur saraf yang diperlukan untuk pemecahan masalah di dunia nyata.
Dalam dunia profesional, ketergantungan ini dapat mengurangi kemampuan inovasi. Inovasi lahir dari menghubungkan titik-titik informasi yang tidak lazim di dalam otak manusia.
Jika semua orang menggunakan AI yang sama, pola pikir akan menjadi seragam dan standar, kehilangan sisi ‘brilian’ yang unik pada manusia.
Meskipun di Indonesia belum ada penelitian berbasis pemindaian otak (EEG) yang serupa dengan MIT, namun para praktisi pendidikan di berbagai kampus besar seperti UI dan UGM telah menyuarakan kekhawatiran serupa.
Mereka mengamati adanya penurunan daya kritis dan orisinalitas dalam karya ilmiah mahasiswa, sebuah indikasi kuat bahwa fenomena ‘Atrofi Kognitif’ mulai merambah ruang kelas secara nyata.
Tips Mencegah Atrofi Kognitif di Era AI
Tidak perlu membuang AI sepenuhnya. Teknologi ini tetaplah alat yang luar biasa jika digunakan dengan bijak. Berikut adalah strategi untuk tetap tajam di tengah gempuran AI, menurut para ahli:
• Gunakan AI sebagai Teman Diskusi, Bukan Pengganti
Alih-alih meminta AI menulis seluruh laporan atau tulisan, gunakan untuk melakukan brainstorming ide atau mencari referensi.
Pastikan struktur logika dan penulisan tetap berasal dari otak sendiri. Manusia menjadi pengendali jalannya AI, bukan sebaliknya.
• Terapkan Metode Check and Challenge
Selalu pertanyakan hasil yang diberikan AI. Lakukan verifikasi data secara manual dan ubah gaya bahasanya agar sesuai dengan karakter berpikir sendiri. Ini menjaga otak tetap aktif melakukan kurasi.
Yang harus dipahami, tidak semua data yang diberikan AI akurat, dibutuhkan ‘adu data’ agar hasilnya faktual.
• Lakukan Detoks AI Secara Berkala
Sediakan waktu untuk mengerjakan tugas tanpa bantuan alat digital sama sekali. Latihan menulis jurnal tangan atau membaca buku fisik dapat membantu menjaga elastisitas saraf otak.
• Fokus pada Proses, Bukan Hanya Hasil
Bagi para pelajar atau mahasiswa, nilai dari sebuah tugas bukan hanya pada dokumen yang selesai, melainkan pada proses berpikir yang terjadi di otak selama mengerjakannya.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif





