Bacaini.ID, KEDIRI – Dari mana datangnya istilah hidung belang? Istilah populer yang merujuk pada tabiat laki-laki yang gemar berganti-ganti perempuan.
Asal-usul itu terungkap terjadi pada masa penjajahan kolonial Belanda. Berlangsung pada masa pemerintahan Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen atau JP Coen (1587-1629).
Bagaimana awalnya? Ini kisahnya.
JP Coen pada suatu hari marah besar. Kemarahan yang tidak bisa diobati. Tak bisa ditoleransi. Kecuali satu: hukuman mati dijatuhkan.
“Coen (JP Coen) ingin hukum ditegakkan. Ia tidak ingin menjilat ludahnya sendiri,” demikian dikutip dari buku Bukan Tabu Nusantara (2018).
Baca Juga:
- Blitar di Masa Silam Pemasok Selir Raja-raja Mataram
- Cerita Pasukan Janda Aceh yang Ditakuti Penjajah Kolonial
Adalah peristiwa skandal seks yang menjadi penyebab kemarahan JP Coen. Bukan hanya karena terjadi di lingkungan kastilnya, di Batavia. Tapi juga karena melibatkan Sara Specx, putri Jacques Specx.
Jacques merupakan anggota Dewan Hindia Belanda yang juga sekaligus sahabat karib J.P Coen. Permasalahannya, Sara adalah anak asuh JP Coen, yakni sejak Jacques menitipkan padanya.
Pada tahun 1627, Jacques menitipkan Sara pada J.P Coen karena harus memenuhi panggilan tugas ke Belanda. Jacques percaya J.P Coen mampu mengasuh putrinya.
JP Coen tidak menolak. Sejak itu Sara tinggal di kastil Batavia. Menjadi staatdochter atau putri negara sekaligus pengiring Eva Ment, istrinya.
Sara Specx tumbuh sebagai gadis rupawan. Di dalam tubuhnya mengalir darah blasteran Belanda-Jepang. Ibu Sara adalah perempuan Jepang, gundik Jacques Specx.
Di luar penglihatan JP Coen, Sara diam-diam menjalin hubungan asmara dengan Piter Jacobszoon Cortenhoeff, seorang vaandrig atau serdadu bawahan, penjaga kastil Batavia.
Piter pemuda kelahiran Arakan (Myanmar). Ayahnya seorang koopman atau pedagang Belanda yang menikahi perempuan pribumi. Sara terpesona dengan ketampanan Piter Jacobszoon.
Pada suatu malam keduanya kepergok memadu kasih di dalam kastil, tempat Gubernur Jenderal J.P Coen berada. Kabar skandal seksual itu dengan cepat menyebar luas.
J.P Coen adalah seorang puritan. Ia memegang erat ajaran calvinis. Baginya kabar memalukan itu telah menampar mukannya. JP Coen bersikukuh pelanggar seksual harus dihukum berat.
Ia ingin memberi teladan yang baik sekaligus berupaya memerangi sifat-sifat buruk hamba kompeni yang bermoral bejat.
Pada 6 Juni 1629, hukuman berat dijatuhkan. Eva Ment, istri Coen dan dewan gereja berusaha membujuk agar hukuman mati dibatalkan, namun J.P Coen tak mengindahkan. Piter Jacobszoon harus tetap dipancung.
Asal-usul istilah hidung belang itu dimulai di sini. Sebelum dieksekusi hidung Pieter diberi corengan arang oleh algojo sebagai tanda pelaku pencabulan.
Saat eksekusi dilaksanakan warga menyaksikan kepala menggelinding dengan hidung terdapat corengan arang. Sejak itu populer istilah hidung belang.
Sementara Sara Specx dihukum cambuk, ditelanjangi dan dipertontonkan di depan masyarakat luas. Keputusan JP Coen membuat heboh Hindia Belanda dan terdengar sampai Belanda.
Pada tahun 1843 peristiwa di Hindia Belanda itu dikisahkan oleh W.L Ritter, seorang jurnalis dengan judul Sarah Specx, Batavia 1629.
Penulis: Solichan Arif





