Bacaini.ID, KEDIRI – Direktur Utama Lembaga Penyiaran Publik Televisi Republik Indonesia (LPP TVRI), Iman Brotoseno, mengumumkan kabar gembira bagi pecinta sepak bola di tanah air. Ia menegaskan bahwa seluruh pertandingan Piala Dunia 2026 akan dapat disaksikan secara gratis oleh masyarakat Indonesia melalui siaran TVRI.
Keputusan ini bukan hanya hasil kerja keras internal TVRI, tetapi juga bagian dari arahan dan dukungan langsung Presiden Prabowo Subianto. Presiden berharap ajang olahraga terbesar dunia ini bisa dinikmati seluruh rakyat tanpa hambatan biaya berlangganan.
Dengan hak siar resmi yang telah dikantongi, TVRI memastikan seluruh laga akan ditayangkan melalui siaran terestrial atau free to air (FTA). Artinya, dari Sabang hingga Merauke, masyarakat dapat menyaksikan pertandingan tanpa perlu mengeluarkan biaya tambahan.
Bagi TVRI, langkah ini sekaligus memperkuat citra mereka sebagai lembaga penyiaran publik yang relevan dan berpihak pada kepentingan rakyat.
Piala Dunia 2026 sendiri akan menjadi edisi bersejarah. Untuk pertama kalinya, turnamen ini diikuti oleh 48 tim, terbagi dalam 12 grup, dengan total 104 pertandingan.
Ajang ini akan berlangsung di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko, mulai 11 Juni hingga 19 Juli 2026. Laga pembuka akan digelar di Estadio Azteca, Mexico City, sementara partai final akan berlangsung di stadion megah kawasan New York–New Jersey.
Format baru ini diyakini akan menghadirkan lebih banyak kejutan dan drama di lapangan, sekaligus memperluas jangkauan penonton di seluruh dunia.
Dampak Ekonomi dan Sosial
Keputusan menyiarkan Piala Dunia secara gratis juga membawa dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi Indonesia. Dari sisi ekonomi, siaran gratis akan meningkatkan jumlah penonton secara drastis, membuka peluang besar bagi industri periklanan nasional.
UMKM lokal, warung kopi, hingga kafe akan merasakan lonjakan pengunjung yang datang untuk menonton bersama, menciptakan perputaran ekonomi baru di tingkat komunitas.
Selain itu, masyarakat tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk berlangganan televisi berbayar, sehingga dana tersebut bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, memberi efek positif pada daya beli.
Dari sisi sosial, siaran gratis ini menjadi sarana kebersamaan. Piala Dunia selalu menjadi momen di mana keluarga, tetangga, dan komunitas berkumpul, menciptakan ruang interaksi sosial yang sehat. Anak-anak dan remaja yang menyaksikan pertandingan juga berpotensi terinspirasi untuk menekuni olahraga, khususnya sepak bola, sehingga meningkatkan partisipasi olahraga di tingkat lokal.
Lebih jauh, akses inklusif ini memperkecil kesenjangan hiburan antara kota besar dan desa terpencil, karena masyarakat di daerah yang hanya memiliki televisi terestrial tetap bisa menikmati tayangan.
Penulis: Hari Tri Wasono





