• Login
Bacaini.id
Thursday, February 12, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Waled Asem dan Jejak Lumpur yang Menjadi Rumah

Tak banyak yang tahu jika Desa Waled Asem di Kecamatan Waled, Kabupaten Cirebon menyimpan kisah geologis luar biasa. Sebelum menjadi kampung, desa ini adalah lautan.

ditulis oleh Redaksi
9 November 2025 14:08
Durasi baca: 2 menit
Suasana siang di Desa Waled Asem, Cirebon. Foto: bacaini/Hari Tri Wasono

Suasana siang di Desa Waled Asem, Cirebon. Foto: bacaini/Hari Tri Wasono

Bacaini.ID, CIREBON — Nama Waled berasal dari bahasa Sunda yang berarti leutak atau lumpur. Konon, ratusan tahun silam, wilayah ini adalah bagian dari Laut Jawa.

“Dulu, orang tua kami bilang, tanah ini dulunya laut. Bahkan saat menggali sumur, sering ditemukan cangkang laut,” kata Yono, mantan Kepala Desa Waled Asem kepada Bacaini.ID, Minggu, 9 November 2025.

Transformasi ini terjadi secara alami selama ratusan tahun. Sungai Cisanggarung, yang berhulu di pegunungan Kuningan, membawa serta lumpur dan sedimen setiap musim hujan. Lama-kelamaan, endapan lumpur itu menutup wilayah pesisir, menciptakan daratan baru yang subur. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal Desa Waled Asem.

Pada masa kolonial, wilayah ini terbagi menjadi dua: Waled Pacinan dan Waled Girang. Waled Pacinan dikenal sebagai pusat perdagangan yang ramai, dihuni oleh komunitas Tionghoa yang berbaur dengan warga lokal. Mereka membuka toko, berdagang hasil bumi, dan membangun relasi sosial yang erat dengan masyarakat sekitar.

Sementara Waled Girang, yang terletak di dataran lebih tinggi, menjadi kawasan pertanian dan pemukiman utama.

Setelah kemerdekaan, nama itu berubah menjadi Waled Kota, menandai babak baru sebagai pusat pemerintahan kecamatan. Sedangkan Waled Girang berubah menjadi Waled Desa.

Waled Asem sendiri merupakan bagian dari kawasan yang lebih luas di Kecamatan Waled. Nama “Asem” merujuk pada pohon asam yang dulunya banyak tumbuh di wilayah ini, menjadi penanda alam sekaligus batas kampung.

Kini, desa ini dihuni oleh masyarakat agraris yang hidup dari pertanian, perdagangan kecil, dan sebagian mulai merambah sektor informal dan digital. “Mayoritas warga bekerja di pertanian, ada juga yang memelihara kambing,” kata Tono.

Namun, di balik geliat kehidupan modern, jejak sejarah masih terasa. Beberapa rumah tua dengan arsitektur campuran Tionghoa dan Indis masih berdiri.

Tradisi sedekah bumi dan ziarah ke makam leluhur tetap lestari. Bahkan, beberapa warga mulai menggagas ide untuk membuat “Museum Lumpur”, sebuah ruang edukasi yang merekam sejarah geologis dan sosial desa mereka.

Meski kaya akan sejarah, namun banyak generasi muda yang belum mengenal asal-usul kampungnya. Hal ini yang melatarbelakangi beberapa sekolah menginisiasi program “Sejarah Kampungku” agar anak-anak tahu bahwa tanah yang mereka injak dulunya adalah laut, dan bahwa identitas lokal adalah bagian dari warisan yang harus dijaga.

Dengan narasi sejarah yang kuat, Waled Asem berpeluang menjadi destinasi wisata edukatif. Waled Asem bukan sekadar desa. Ia adalah bukti bahwa alam dan manusia bisa beradaptasi, lumpur bisa menjadi rumah, dan sejarah bisa hidup di tengah kehidupan sehari-hari.

Penulis: Hari Tri Wasono

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: asal usul daerahcirebonSEJARAHWaled asem
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Ilustrasi agen KGB dan GRU beroperasi di Indonesia era Orde Baru dengan latar gedung pemerintahan dan militer

Sepak Terjang Agen Soviet di Orde Baru: KGB Menyusup ke Militer hingga MPR

Presiden Prabowo Subianto menerima permohonan audiensi dari lima pengusaha nasional di kediaman pribadinya di Hambalang, Bogor, pada Selasa malam, 10 Februari 2026. Foto: BPMI Setpres/Istimewa

Ini Pembahasan Presiden Prabowo dengan Konglomerat Kakap

UNICEF

BEM UGM Surati UNICEF Usai Tragedi Anak Bunuh Diri di NTT

  • Suasana sidang di Pengadilan Negeri Sleman saat majelis hakim membacakan vonis 8–10 tahun penjara kepada tujuh terdakwa kasus pengeroyokan terduga klitih

    Sleman Viral Lagi! Lawan Klitih Berujung Penjara 10 Tahun dan Denda 1 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Peluang Atlet Indonesia di Olimpiade Musim Dingin 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In