• Login
Bacaini.id
Monday, February 16, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Empat Dekade di TPI Puger: Napia dan Kisah Kesetiaan pada Laut Selatan

ditulis oleh Redaksi
16 October 2025 15:31
Durasi baca: 3 menit
Salah satu penjual ikan di TPI Puger, Napia (60)

Salah satu penjual ikan di TPI Puger, Napia (60)

Bacaini.ID, JEMBER – Di pesisir selatan Kabupaten Jember, kehidupan selalu dimulai dari bunyi ombak. Fajar belum sepenuhnya pecah ketika para nelayan mulai bersandar di dermaga, membawa hasil tangkapan dari samudra.

Di antara riuh pasar ikan yang padat, sosok Napia (60) tampak sibuk menimbang ikan, menata ember, dan melayani pembeli dengan senyum yang tak pernah benar-benar hilang.

Lebih dari empat dekade sudah, perempuan itu bertahan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Puger. Tempat yang baginya bukan sekadar lapak dagang, tapi ruang hidup yang menyatu dengan aroma asin laut dan suara teriakan pelelangan.

“Kalau ikannya ramai, pengunjung juga ramai, Mbak. Sekarang ini lagi sepi, tapi ya tetap jualan. Ada saja rezekinya, meski sedikit,” ujarnya, Kamis (16/10/2025) siang.

Bagi Napia, laut adalah sahabat sekaligus penentu nasib. Ia hafal benar ritme pasang-surut dan bagaimana itu berpengaruh pada harga jual ikan. Saat musim “padangan” seperti sekarang, harga ikan tuna bisa naik dari Rp20 ribu menjadi Rp25–27 ribu per kilogram. Tapi kenaikan harga itu kerap diiringi turunnya pembeli.

“Naik harganya, tapi pembelinya juga berkurang,” katanya dengan tawa kecil yang menutupi lelah.

Sejak muda, Napia sudah terbiasa menunggu kedatangan sekocen – kapal besar yang melaut hingga seminggu – atau perahu kecil yang berangkat sore dan kembali pagi. Malam-malamnya dihabiskan di tepi laut, menunggu cahaya lampu kapal di kejauhan.

 “Kalau sekocen itu seminggu di laut, kalau perahu biasa berangkat malam, pulangnya pagi,” tuturnya.

Ia tak pernah berpikir meninggalkan Puger. Tempat itu adalah rumah, tempat di mana setiap gelombang laut mengingatkannya bahwa hidup memang tak selalu tenang, tapi selalu layak dijalani.

“Saya asli Puger. Dari muda di sini, enggak kepikiran pindah,” katanya pelan.

Dalam 40 tahun terakhir, Napia menyaksikan wajah TPI Puger berubah. Dulu, kawasan pelelangan ini kerap dikeluhkan karena bau dan kumuh. Kini, kondisinya jauh lebih tertata.

“Dulu Puger itu bau sekali. Sekarang sudah bersih, sudah enak. Mulai ditata,” ujarnya.

Kini, sekitar seratus pedagang ikan berjualan di area TPI Puger. Meski tanpa paguyuban resmi, mereka kompak menjaga kebersihan dan saling membantu.

 “Kalau kotor ya dibersihkan sendiri. Ada juga petugas yang bantu bersihkan embong-embong itu,” katanya sambil merapikan lapaknya.

Di usianya yang sudah tak muda, Napia tetap berangkat pagi-pagi ke pasar, menyiapkan ikan sebelum matahari naik. Harapannya sederhana: agar TPI Puger lebih diperhatikan pemerintah. Ia ingin tempat itu semakin ramai, bersih, dan menjadi magnet bagi pengunjung luar daerah.

“Semoga lebih dapat perhatian dari pemerintah. Biar maju, bersih, ramai terus. Biar orang luar mau datang ke sini,” ucapnya penuh harap.

Di antara aroma ikan segar dan teriakan nelayan yang menawarkan hasil tangkapannya, Napia tetap berdiri tegak. Ia bukan hanya pedagang, tapi bagian dari napas panjang Puger, wilayah pesisir yang hidup dan tumbuh di bawah langit biru Laut Selatan.

Penulis             : Mega

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Pantai Serang Blitar yang dikaitkan dengan laku spiritual Soeprijadi

Kebiasaan Ganjil Soeprijadi di Pantai Serang Blitar, Bertapa di Laut Selatan hingga Tantang Mitos Ratu Kidul

Wali Kota London Sadiq Khan menyalakan lampu Ramadan di kawasan West End

London Sambut Ramadan 2026, 30 Ribu Lampu LED Hiasi West End

Polisi Blitar bagi cokelat kepada pengendara saat Valentine

Bikin Kaget! Dikira Razia, Pengendara di Kota Blitar Justru Dapat Cokelat dari Polisi

  • Ilustrasi gerai Koperasi Desa Merah Putih yang diusulkan menggunakan gedung sekolah dasar

    Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Asal Makan Hasil Laut, Kenali 3 Kepiting Beracun yang Ada di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kepemilikan tanah dengan Letter C, Petuk D, dan Girik mulai tahun 2026 tidak berlaku. Mulai urus sekarang juga !

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In