• Login
Bacaini.id
Saturday, May 9, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Sejarah Kereta Api Indonesia: Warisan Proyek Tanam Paksa Kolonial Belanda

ditulis oleh Editor, Solichan Arif
22 February 2025 17:03
Durasi baca: 3 menit
Sejarah Kereta Api Indonesia: Warisan Proyek Tanam Paksa Kolonial Belanda (foto/ist/wikipedia)

Sejarah Kereta Api Indonesia: Warisan Proyek Tanam Paksa Kolonial Belanda (foto/ist/wikipedia)

Bacaini.ID, KEDIRI – Sejarah perkeretaapian Indonesia telah berumur ratusan tahun, yakni sejak akhir abad-19.

Keberadaan kereta api diawali kepentingan ekonomi Kolonial Belanda atas sumber daya alam Indonesia, termasuk kebutuhan akan transportasi militer dan para elit di masanya. 

Masa pra kemerdekaan

Tahun 1840, Kolonel J.H.R. Carel Van der Wijck mengajukan proposal pembangunan jalur kereta api di Hindia Belanda.

Keputusan itu didasari kurang optimalnya penggunaan jalan raya untuk mengangkut hasil bumi dari program Tanam Paksa tahun 1825-1830 yang diberlakukan Van den Bosch.

Pembangunan jalur kereta api dimulai dari Desa Kemijen, Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat 17 Juni 1864, oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Mr. L.A.J Baron Sloet van den Beele.

Pembangunan diprakarsai oleh Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) yang dipimpin oleh Ir. J.P de Bordes.

Rute pertama kereta api adalah Kemijen-Tanggung yang berjarak 26 kilometer.

Ruas lintasan kereta api paling awal di Indonesia ini dibuka untuk angkutan umum pada hari Sabtu, 10 Agustus 1867.

Keberhasilan pembangunan transportasi kereta api ini membuat pemerintah Belanda terus mengembangkan ruas rel kereta untuk kebutuhan mereka.

Hal ini menarik minat investor untuk membangun jalur kereta api di berbagai daerah di Nusantara.

Sepanjang tahun 1864-1900, pembangunan jalur kereta api berkembang pesat. Dari awal hanya 26 km, berkembang hingga 3.338 km. 

Era Pendudukan Jepang

Jalan kereta api yang dibangun selama pendudukan Jepang adalah 83 km sepanjang Bayah-Cikara, di Banten. Selain itu 220 km sepanjang Muaro-Pekanbaru, Riau.

Pembangunan jalan kereta api jalur Muaro-Pekanbaru inilah yang banyak menorehkan kisah kelam romusha.

Proyek pembangunan ini melibatkan 27.000 orang dengan 25.000 di antaranya adalah romusha.

Target penyelesaian pembangunan berlangsung 15 bulan dengan teknologi seadanya.

Akibatnya, proyek ambisius ini menelan banyak korban romusha yang makamnya bertebaran sepanjang Muaro-Pekanbaru.

Topografi wilayah Muaro-Pekanbaru yang sulit jadi faktor tersendiri banyaknya korban. Rawa-rawa, perbukitan dan sungai lebar dengan arus yang deras banyak terdapat di jalur ini.

Sampai akhir masa kependudukan Belanda, Indonesia memiliki jalur kereta api sepanjang 6.811 km. Namun pada tahun 1950, berkurang menjadi 5.910 km.

Sekitar 901 km rel kerata api hilang diduga akibat dari pembongkaran yang terjadi selama kependudukan Jepang.

Potongan rel kereta api ini dibawa Jepang ke Burma (Kini Myanmar) untuk membangun rel kereta api di sana.

Pemindahan ini sekaligus dengan para romusha dari Indonesia yang awalnya berharap mendapat kehidupan yang layak.

Namun proyek pembangunan lintasan rel kereta api ini menjadi kisah kelam kekejaman penjajahan oleh Jepang yang dikenang dengan nama Death Railway. 

Penulis: Bromo Liem

Editor: Solichan Arif

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: kolonial Belandasejarah kereta api Indonesiatanam paksa
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Petugas KAI Daop 7 Madiun bersama komunitas railfans menggelar kampanye anti pelecehan seksual di area stasiun kereta api

KAI Daop 7 Madiun Gencarkan Kampanye Anti Pelecehan Seksual di Stasiun dan Kereta

Ilustrasi minuman sole water, baking soda dan makanan fermentasi sebagai tren kesehatan viral di media sosial

Tren Kesehatan Viral di Media Sosial, Mana yang Fakta dan Sekadar Hype?

Mohammad Trijanto saat memberikan pernyataan terkait pengunduran diri dari pencalonan Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030

Mohammad Trijanto Mundur dari Bursa Ketua KONI Kota Blitar 2026-2030, Bebaskan Dukungan 14 Cabor

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mutasi Polri 2026, Dirreskrimum Polda Jatim Diganti Kombes Roy Hutton

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Murdaya Poo Alumni GMNI Asal Blitar, Marhaeinis Konglomerat Rp20 Triliun

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In