• Login
Bacaini.id
Sunday, February 15, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

denJuang, Band Campursari Asli Kediri

ditulis oleh
18 July 2020 14:44
Durasi baca: 2 menit
Eko Hariyanto saat bermain conga di genre jazz

Eko Hariyanto saat bermain conga di genre jazz

Di tengah lesunya dunia hiburan akibat pandemi Covid-19, sekelompok remaja di Kota Kediri justru sukses memproduksi karya. Inilah denJuang, band campursari asli Kota Kediri.

KEDIRI – Tantangan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar kepada warganya untuk tak menyerah dengan keadaan dijawab oleh denJuang. Sebuah kelompok musik beraliran campursari yang digawangi tujuh personil.

Mereka adalah Ersa (keyboard), Tido (gitar), Yomi (gitar), Eko (perkusi), Ruki (vokal), Rofiq (drum), dan Kevin (bass).

baca ini Fakta Mengejutkan Bupati Trenggalek Dengan Pay Slank

Berbeda dengan band Kota Kediri yang mayoritas bergenre rock, denJuang memilih campursari sebagai ruh mereka. Padahal masing-masing personil tak memiliki historis lekat dengan campursari. “Saya memainkan alat musik conga kalau di jazz,” kata Eko Hariyanto, personil deJuang kepada bacaini.id.

Alih-alih mempertahankan idealisme di genre masing-masing, para personil deJuang bersepakat mencipta karya campursari. Single pertama yang diluncurkan berjudul ‘Njogo Katresnan’.

baca ini Bisnis Sumadi Kaset Yang Tak Ada Matinya

Lagu ini diciptakan Tido sang pemetik gitar, dan diaransemen secara bersama-sama. Menurut Eko, lirik lagu berkisah tentang kesetiaan istri yang menunggu suaminya bekerja di perantauan. Di mata Tido, kesetiaan adalah hal yang mahal di tengah menghadapi situasi sulit, termasuk pandemi Covid-19.

Meski mengumbar kerinduan yang mendalam, lagu ini berakhir bahagia dengan bersatunya kembali pasangan tersebut. Penantian dan kesetiaan sang istri terbayar dengan kepulangan suami yang sukses di perantauan.  “Lagi ini mengajarkan kita untuk setia pada pasangan, betapapun sulit situasi yang dihadapi,” tutur Eko.

baca ini Lima Album Rock 90 Yang Populer Hingga Sekarang

Karya manis mereka bisa dinikmati di link https://youtu.be/qKUuxQDdxqY yang telah menuai banyak apresiasi pecinta musik campursari.

Dibentuk Saat Pandemi

Ada kisah menarik di balik terbentuknya band deJuang ini. Mereka dipertemukan di tempat-tempat nongkrong dan saling berbagi keadaan. Situasi pandemi telah memukul aktivitas masing-masing hingga tercetus ide membentuk band.

Mengamini pernyataan Walikota Kediri Abdullah Abu Bakar yang mengajak warganya untuk tak menyerah pada keadaan, Eko dan kawan-kawan memutuskan memproduksi karya di tengah pandemi.

baca ini Konser Didi Kempot di Kediri Terbesar Sepanjang Sejarah

Genre campursari dianggap tepat mewakili perasaan masyarakat luas yang merindukan sosok Didi Kempot. Apalagi sampai saat ini belum banyak musisi muda yang tergerak menghidupi genre warisan leluhur ini.

Pertemuan rutin yang dilakukan di markas denJuang di Perumahan Persada Sayang Kota Kediri melahirkan ide-ide cerdas dalam bermusik. Tempat ini juga menjadi sekolah musik bagi anak-anak yang digawangi Tido dan Ersa.

Menurut Tido, nama denJuang dipilih untuk mewakili kondisi sulit di masa pandemi, dimana seluruh personil mereka mengalami keterpurukan di usaha masing-masing. “Den itu panggilan untuk anak muda, juang berarti perjuangan,” pungkas Tido. (*)

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: campursaridenJuang
Advertisement Banner

Comments 1

  1. Pingback: D.A.Y, Ikon Baru Sobat Ambyar Kediri – Bacaini.id

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Paket MBG di Trenggalek dengan buah jeruk diduga busuk dan berulat

Buruknya Menu MBG Bikin Geram, Warga Trenggalek Terima Buah Busuk dari Dapur Yayasan

Donasi buku untuk anak-anak dalam gerakan literasi global

Tidak Suka Hari Valentine? 14 Februari Juga Diperingati Hari Pemberian Buku Internasional

Jalan Dhoho Kediri tertutup abu vulkanik Kelud

Nostalgia Erupsi Kelud 2014: Malam Mencekam, Kediri Lumpuh, Yogyakarta Gelap

  • Bupati Trenggalek melepas 9 pemuda yang akan belajar Pertahanan dan AI di Korea Selatan

    Dari Desa ke Korea, 9 Pemuda Trenggalek Belajar Pertahanan dan AI Tanpa Biaya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pembangunan Koperasi Merah Putih di Trenggalek Diusulkan di Kawasan Hutan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Jangan Asal Makan Hasil Laut, Kenali 3 Kepiting Beracun yang Ada di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sleman Viral Lagi! Lawan Klitih Berujung Penjara 10 Tahun dan Denda 1 Miliar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Djarum Grup Akuisisi Bakmi GM, Pendapatannya Bikin Melongo

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In