Bacaini.id, KEDIRI – Imbauan untuk waspada demam berdarah mulai beredar, tak terkecuali di kalangan masyarakat Kabupaten Kediri. Mengingat, musim hujan menjadi waktu perkembangbiakan bagi nyamuk aedes aegypti, pembawa wabah Demam Berdarah Dengue (DBD).
Kasi Pencegahan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinas Kesehatan Kabupaten Kediri, Retno Handayani mengatakan, kasus demam berdarah di Kabupaten Kediri sudah mulai mengalami peningkatan.
“Berdasarkan data kami, kurang lebih ada sekitar 72 kasus DBD dalam kurun waktu tiga bulan terakhir, mulai September sampai hari ini,” kata Retno, Sabtu, 19 November 2022.
Retno menyebutkan secara rinci dari 72 kasus, sebanyak 36 kasus terjadi pada bulan September, kemudian bulan Oktober ada sebanyak 30 kasus. Sementara untuk bulan November, ada enam kasus DBD yang masuk data Dinkes Kabupaten Kediri.
Secara komulatif, terhitung mulai bulan Januari sampai November 2022, kurang lebih ada sekitar 262 kasus DBD terjadi di Kabupaten Kediri. Mirisnya, tiga orang diantaranya dinyatakan meninggal dunia akibat terjangkit penyakit ini.
Terkait dengan penyebarannya, Retno mengungkapkan kasus paling tinggi terjadi di Kecamatan Pare dengan 33 kasus, kemudian di Kecamatan Kepung sebanyak 28 kasus. Selain itu juga di Kecamatan Puncu dengan 19 kasus.
Lebih lanjut, Retno mengimbau kepada masyarakat untuk melakukan pencegahan perkembangbiakan nyamuk aedes aegypti dengan menjaga kesehatan lingkungan hidup. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dengan menguras, menutup dan mengubur atau 3M Plus masih menjadi salah satu upaya paling efektif yang bisa dilakukan.
“Pengalaman sebelumnya, puncak wabah DBD biasa terjadi antara bulan Desember sampai Januari. Jadi kami imbau untuk melakukan pencegahan sejak dini untuk menekan angka kasus DBD,” tandasnya.
Penulis: Novira





