• Login
Bacaini.id
Thursday, May 7, 2026
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA
No Result
View All Result
Bacaini.id

Kampung Hantu Museum Airlangga Kediri

ditulis oleh
21 October 2021 19:15
Durasi baca: 4 menit
Museum Airlangga Kota Kediri. Foto: Istimewa

Museum Airlangga Kota Kediri. Foto: Istimewa

Bacaini.id, KEDIRI – Di balik sunyinya Museum Airlangga di kawasan Gua Selomangleng Kediri, ternyata menyimpan kehidupan makhluk tak kasat mata. Bagi yang bisa melihat, museum itu layak disebut kampung hantu.

Berada di kawasan Gua Selomangleng, tepatnya di kaki Bukit Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri, Museum Airlangga cukup jarang dikunjungi masyarakat. Terlebih di musim pandemi, kunjungan ke tempat wisata makin dibatasi.

Masyarakat sekitar kerap menyebut kawasan Gua Selomangleng sangat wingit. Terutama di area museum yang menjadi tempat penyimpanan benda-benda purbakala berusia ratusan tahun.

“Kita semua tahu kalau makhluk halus menyukai tinggal di benda-benda seperti patung. Apalagi patung di sini cukup tua dan jumlahnya banyak,” kata Novira, praktisi metafisika Tim Urban Legend Bacaini.id, yang menyambangi tempat itu, Rabu malam, 20 Oktober 2021.

Di mata Novira, kawasan Musem Airlangga malam itu tidaklah sunyi. Banyak aktivitas yang terjadi di sana, seperti layaknya permukiman manusia. Beberapa ada yang mencoba membangun kontak dengan Novira, untuk sekedar menunjukkan keberadaan mereka sebagai penguasa wilayah.

“Itu ada ayunan yang bergerak sendiri, bisa dilihat langsung,” kata Novi sambil menunjuk ayunan besi yang berada di sebelah barat dekat musholla.

Ayunan besi itu bergerak cukup keras tanpa ada yang mendekatinya sama sekali. Sementara desir angin juga tak terlalu kencang untuk mampu menggerakkan ayunan sekencang itu.

Menurut Novi, ada sosok perempuan yang duduk di atas ayunan. Perempuan itu terus menggerak-gerakkan ayunan hingga terlihat dengan mata telanjang. Tak ada ekspresi dari hantu perempuan itu. Tatapannya kosong sambil terus menggerakkan ayunan dengan kakinya.

Novi menduga hantu inilah yang sering menakut-nakuti masyarakat saat beraktivitas di dekat museum. Sejumlah warga melaporkan adanya suara perempuan menangis dari tempat itu di malam tertentu.

Tak jauh dari ayunan itu, sekitar dua meter ke arah timur, Novi melihat sepasang kaki yang sangat besar. Entah sebesar apa wujudnya, kedua kaki itu menjulang menyentuh tanah dengan sepasang mata merah di balik dedaunan di atas pohon.

Karena makin banyak hantu yang bermunculan, tim memutuskan bergeser ke bangunan lain yang berada di ujung timur museum. Tempat ini menjadi ruang kantor pegawai museum.

Baru beberapa langkah beranjak, Novi kembali merasakan energi dalam jumlah banyak. Rupanya tempat itu menjadi lalu lalang hantu yang bermukim di dalam museum. “Suara berisik banyak sekali di dalam museum,” kata Novi.

Dia merasakan senggolan dan tabrakan dari makhluk-makhluk itu hingga membuatnya sesak nafas.

Pemandangan tak kalah mengerikan tampak di ruang perkantoran bagian belakang. Ruangan yang dipenuhi dinding kaca ini ternyata ditempati seorang perempuan yang duduk sendirian. Perempuan itu diam mematung. Namun dipastikan bukan sosok kuntilanak. Entah apa yang dilakukannya di dalam sana.

Penampakan perempuan itu ternyata mengawali penampakan makhluk-makhluk lain yang lebih menyeramkan di bagian belakang museum.

Baru beberapa langkah beranjak dari ruang kantor, Novi melihat sosok kuntilanak dengan wujud yang cantik. Senyumnya yang jahil dan mengeluarkan suara tawa membuat sosok itu terlihat menakutkan. Kuntilanak itu berdiam di ruang paling ujung sebelah timur.

Sesaat setelah kuntilanak itu tertawa, tiba-tiba muncul sosok anak kecil berwajah pucat. “Anak laki-laki, pakai kaos dan celana pendek duduk di dahan pohon. Wajahnya pucat melihat ke arah saya tapi pandangannya kosong. Ini jahil dan mungkin biasa mengganggu warga,” kata Novi.

Saat sedang mengamati hantu bocah kecil itu, tiba-tiba Novi terpekik. Dia buru-buru mengajak seluruh Tim Urban Legend untuk bergeser ke depan museum. “Ayo, di sini tidak aman,” katanya singkat.

Setelah menjauhi tempat semula, Novi menceritakan apa yang dilihatnya. Ternyata ada sesosok pocong berwajah mengerikan di sana. Pocong itu berdiri di depan pagar bambu dan menunjukkan sikap tidak suka.

“Pocong biasanya putih, ini bungkusnya hitam. Seperti dibungkus asal-asalan, bagian atasnya longgar. Tali pocongnya juga tidak ada. Wajahnya sudah tinggal tulang dan tinggi sekali. Auranya gelap, panas rasanya,” cerita Novi.

Tak hanya pocong, ada juga perempuan berambut panjang dengam baju putih. Meski posisinya membelakangi tim, namun dia mengeluarkan energi negatif yang sangat besar. Ini pertanda makhluk itu tidak menyukai kedatangan tim yang mengorek keberadaan mereka.

Tim akhirnya memutuskan mengakhiri petualangan di area museum. Karena makin malam, kemunculan hantu di tempat itu makin banyak.

Tim Urban Legend:
Novira Kharisma (Host), HTW (Host), Dulrahman (Kameramen), Micko (Kameramen), Budi Sutrisno (Kameramen), Kolis (Lighting).

Tonton video:

Print Friendly, PDF & EmailCetak ini
Tags: hororKedirimistismuseum
Advertisement Banner

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Recommended

Audiensi ALMAS PUMA dengan Pemkab Trenggalek terkait Camat Pule

Camat Pule Trenggalek Dipaksa WFH, Pemkab Tunggu Rekomendasi Mutasi dari BKN

Tampilan aplikasi Friendster terbaru di iPhone dengan konsep media sosial anti algoritma dan desain minimalis

Friendster Kembali Hadir, Media Sosial Anti Algoritma yang Bikin Anak Warnet Nostalgia

Ratusan anggota PSHT Kabupaten Blitar menggelar aksi damai di depan Kantor Bupati Blitar dengan mengenakan pakaian hitam dan membawa poster tuntutan

PSHT Kabupaten Blitar Gelar Aksi Damai, Desak Pemda dan Polisi Tertibkan Kelompok Ilegal

  • Maia Estianty memakai perhiasan red ruby di pernikahan El Rumi

    Red Ruby Maia Estianty Jadi Sorotan di Pernikahan El Rumi, Ini Mitos Merah Delima dalam Tradisi Nusantara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Rasanya Sekolah Zaman Penjajahan Belanda

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bupati Blitar Disebut Dalam Bau Busuk Limbah Peternakan Ayam CV Bumi Indah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gibran Tinjau Bendungan Bagong di Trenggalek, Warga Sampaikan 5 Aspirasi Penting

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kedatangan KPK ke Blitar Picu Rumor OTT, Jubir Pastikan Hanya Sosialisasi Pencegahan Korupsi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Bacaini.id adalah media siber yang menyajikan literasi digital bagi masyarakat tentang politik, ekonomi, sosial, budaya, hukum, pertahanan keamanan, hiburan, iptek dan religiusitas sebagai sandaran vertikal dan horizontal masyarakat nusantara madani.

No Content Available
  • Tentang Kami
  • Pedoman Media Siber
  • Beriklan
  • Redaksi
  • Privacy Policy

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • BACA
  • SOSOK
  • EKONOMI
  • BACAGAYA
  • INTERNASIONAL
  • OPINI
  • TEKNO & SAINS
  • REKAM JEJAK
  • PLURAL
  • HISTORIA
  • INFORIAL
  • BACA DATA

© 2020 - 2026 PT. BACA INI MEDIA. Hak cipta segala materi Bacaini.ID dilindungi undang-undang.

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In