Poin Penting:
- 83 persen masyarakat melihat link affiliate di media sosial, tetapi tingkat pembelian tertinggi hanya mencapai 41 persen menurut data Jakpat
- Rendahnya checkout dipengaruhi kejenuhan audiens terhadap konten promosi yang terlalu sering dan kurang memberikan nilai
- Affiliator disarankan membangun personal branding, membuat konten berbasis solusi, memahami audiens, dan mengutamakan kualitas agar konversi meningkat
Bacaini.ID, KEDIRI – Affiliate marketing semakin populer di Indonesia, terutama sejak TikTok membuka peluang bagi akun kecil menjadi affiliator. Namun, tingginya jumlah orang yang melihat link affiliate ternyata belum berbanding lurus dengan pembelian. Data terbaru Jakpat menunjukkan hanya sebagian kecil audiens yang benar-benar melakukan checkout.
BACA JUGA: Cara Berburu Cuan Dengan Usaha Kecil Modal Satu Jutaan
Data dari Jakpat yang dirilis oleh GoodStats, menyebutkan eksposur masyarakat terhadap link affiliate sangat tinggi, mencapai 83%. Artinya, 83% masyarakat terpapar atau melihat link affiliate saat membuka media sosial, namun hal itu tidak dibarengi dengan checkout.
Mengapa Banyak Orang Melihat tetapi Tidak Checkout?
Data Jakpat memperlihatkan bahwa tingkat pembelian melalui link affiliate dalam enam bulan terakhir selama periode survei untuk setiap generasi masih berada di bawah angka 50%: Generasi Milenial 41%, Generasi Z 38%, dan Generasi X 35%.
Angka ini seharusnya menjadi alarm bagi para kreator konten. Fakta bahwa eksposur mencapai 83% namun konversi tidak sampai setengahnya menunjukkan audiens sudah mengalami ‘kejenuhan konten’. Mereka sudah terlalu sering melihat link promosi yang sama, sehingga cenderung abai atau justru menjadi lebih skeptis sebelum memutuskan untuk membeli.
Tips Affiliate Marketing agar Banyak Checkout
Jika hanya mengandalkan copy-paste link tidak lagi efektif, apa yang harus dilakukan? Berikut adalah tips bagi para affiliator agar konten menghasilkan ‘check out’:
Berhenti Berjualan, Mulai Bercerita
Kesalahan terbesar affiliator pemula adalah terlalu fokus pada harga atau fitur produk. Audiens bosan melihat iklan. Solusinya, buat konten yang fokus pada problem-solving. Misalnya, alih-alih berpromosi dengan kata: ‘Beli sapu ini murah banget’, coba buat konten ‘Cara membersihkan bulu kucing di sofa dalam 5 detik’, atau lainnya yang berisi konten solutif dengan memanfaatkan produk yang dijual. Produk adalah solusi, bukan fokus utamanya.
Bangun Personal Branding yang Jujur
Konsumen lebih percaya pada review orang daripada iklan perusahaan. Kejujuran tentang kelebihan dan kekurangan produk, membuat audiens akan lebih menghargai dan tertarik membeli. Kepercayaan merupakan mata uang utama di dunia affiliate. Jika audiens percaya, mereka akan dengan sukarela mengeklik link sebagai bentuk dukungan.
Gunakan Konten Berbasis Riset
Audiens saat ini sangat cerdas. Mereka sering membandingkan harga. Untuk mengatasi ini, buat konten perbandingan. Misal, ‘Produk A vs produk B, mana yang lebih worth it untuk budget 100 ribu?’. Berikan review jujur setelah pemakaian jangka panjang, bukan sekadar unboxing produk yang direkam.
Kenali Karakter Audiens
Data Jakpat menunjukkan bahwa Milenial, Gen Z, dan Gen X memiliki tingkat respon yang berbeda. Gen Z biasanya lebih suka konten yang cepat, to the point, dan relatable. Milenial cenderung lebih tertarik pada ulasan mendalam dan fungsionalitas produk. Sesuaikan gaya bahasa dan jenis produk yang dipromosikan dengan target audiens utama.
Utamakan Kualitas daripada Kuantitas
Lebih baik mengunggah satu video berkualitas tinggi yang edukatif dan tidak terasa ‘ngiklan’ dalam sehari, daripada mengunggah sepuluh video yang hanya berisi kumpulan foto produk dengan link.
Data Jakpat diatas menjadi pengingat bahwa affiliate marketing bukan lagi jalur pintas ‘cepat kaya’. Kompetisi sudah sangat ketat. Namun, bagi kreator yang mampu membangun hubungan emosional dengan audiens melalui konten yang berharga, peluang untuk ‘pecah telur’ tetap terbuka lebar. Kuncinya bukan pada seberapa banyak link yang disebar, melainkan seberapa besar nilai diberikan kepada audiens.
Penulis: Bromo Liem
Editor: Solichan Arif
BACA JUGA: Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Jadikan AC Produk Tiongkok Raja Pasar dan artikel lainnya di rubrik EKONOMI




