Bacaini.id, KEDIRI – Banyak orang tua yang merasa keberatan mengasuh dan mendampingi anak mereka yang berkebutuhan khusus (ABK). Padahal, orang tua menjadi pilar terpenting yang mempengaruhi tumbuh kembang anak, termasuk dalam dunia pendidikan.
Mengacu fenomena tersebut, Yayasan Lembaga Perlindungan Anak (YLPA) Kota Kediri memberikan edukasi bagi orang tua ABK dengan tema ‘Tetap Bahagia Mendampingi Buah Hati Tercinta’ di Gedung Yayasan Badan Pendidikan Kristen (YBPK) Kediri.
Koordinator Dewan Pengawas YLPA Kota Kediri, Heri Nurdianto mengatakan kegiatan ini menghadirkan orang tua ABK. Alasannya karena pilar pendidikan bukan hanya dari sekolah atau guru saja, justru yang terpenting adalah orang tua.
“Maka kita menggandeng orang tua berkolaborasi dengan guru dan lembaga-lembaga yang mengadvokasi ABK, sehingga kedua pihak ini bisa hidup dengan nyaman di rumah,” kata Heri kepada Bacaini.id usai acara hari ini, Sabtu, 11 November 2023.
Menghadirkan narasumber dari Dinas Pendidikan Kota Kediri dan Laboratorium Psikologi IAIN Kediri, Heri berharap kegiatan ini bisa menjadi wadah untuk melakukan dialog antara orang tua ABK dengan narasumber secara lebih intensif dan mendalam.
“Akhir tahun ini jika sesuai target kita akan menggelar dua kegiatan serupa, selanjutnya di satuan pendidikan di Kecamatan Mojoroto, setelah itu mungkin ke SLB,” imbuhnya.

Shofi Mirwani M,Psi, pemateri diskusi mengungkap fakta bahwa di luar sana banyak orang tua yang tidak bisa atau sulit menerima ketika memiliki anak berkebutuhan khusus. Bahkan ada juga yang sampai mengalami depresi.
“Kebanyakan seperti itu. Tentu tidak bisa dibiarkan, karena peran orang tua terhadap ABK ini salah satunya untuk dukungan sosial,” ungkap Shofi.
Psikolog sekaligus dosen Psikologi Klinis IAIN Kediri itu fokus pada bagaimana caranya para orang tua tetap bahagia menerima anak yang berkebutuhan khusus. Ketika dialog berlangsung, banyak orang tua bertanya soal cara mengelola emosi.
Menurut Shofi, orang tua marah, emosi kepada anak, merupakan hal yang wajar. Akan tetapi, ada tahap yang harus dilalui sebelum mencoba mengelola emosi. Pertama adalah menerima dan mengingat kondisi anak itu sendiri.
“Dengan begitu, orang tua kemudian bisa mengidentifikasi emosi negatif dan positif, baru mengelola emosi, lalu merubahnya menjadi emosi positif,” sebutnya.
Misalnya saat orang tua memiliki pikiran-pikiran negatif terkait kemampuan anak dalam hal tertentu. Pikiran itu harus segera diubah karena dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak.
“Kalau isinya negatif saja tidak akan ada solusi. Jika merasa tidak bisa, segera cari ahli untuk menyelesaikan masalah,” tandasnya.
Kabid Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Kota Kediri Ibnu Qoyyum menambahkan, dengan adanya kegiatan ini pihaknya menginginkan agar para orang tua benar-benar bisa mendukung proses tumbuh kembang ABK, tak terkecuali dalam bidang pendidikan.
Dinas Pendidikan Kota Kediri bekerjasama dengan dewan pendidikan dalam penyelenggaraan kegiatan serupa dan telah mempersiapkan 22 lembaga untuk setiap jenjang pendidikan. Mulai dari TK, SD dan SMP.
“Di Kota Kediri ada fasilitas di setiap jenjang pendidikan untuk ABK agar bisa sekolah seperti anak-anak lain. Pada intinya, mau sekolah dan dinas pendidikan memberikan ruang, akan percuma kalau orang tua tidak mendukung,” terang Ibnu.
Penulis: Novira
Editor: Hari Tri W