Poin Penting:
- Delapan kategori weton jodoh: Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi memiliki tafsir berbeda dalam tradisi primbon Jawa.
- Perhitungan berdasarkan neptu: weton menggabungkan nilai hari lahir dan pasaran Jawa, kemudian dihitung menggunakan metode tertentu.
- Bukan kepastian masa depan: tafsir weton merupakan bagian dari kepercayaan tradisional, bukan bukti ilmiah untuk menentukan keberhasilan pernikahan.
Bacaini.ID, KEDIRI — Pegat, Ratu, Jodoh, hingga Pesthi merupakan istilah yang dikenal dalam perhitungan weton jodoh Jawa. Bagi sebagian masyarakat, arti weton jodoh atau hasil hitungan primbon ini menjadi salah satu pertimbangan sebelum menentukan pernikahan. Lantas, bagaimana cara menghitung weton jodoh dan apa arti masing-masing kategorinya?
Yang juga perlu diketahui, dalam tradisi primbon Jawa, hasil perhitungan kecocokan pasangan memiliki tafsir tersendiri tentang gambaran kehidupan rumah tangga setelah pernikahan. Di antara istilah Pegat, Ratu, Jodoh, Topo, Tinari, Padu, Sujanan, dan Pesthi, Pegat sering menjadi perhatian karena dikaitkan dengan kemungkinan perpisahan. Sebaliknya, Ratu dan Jodoh kerap dipahami sebagai pertanda baik bagi hubungan pasangan.
Mengenal Cara Menghitung Weton Jodoh
Weton merupakan gabungan antara hari dalam kalender tujuh hari, Senin hingga Minggu, dan pasaran Jawa yang terdiri dari Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon.
Dalam sistem neptu, setiap hari dan pasaran memiliki nilai angka. Nilai hari yang umum digunakan adalah Minggu 5, Senin 4, Selasa 3, Rabu 7, Kamis 8, Jumat 6, dan Sabtu 9. Sementara itu, nilai pasarannya adalah Legi 5, Pahing 9, Pon 7, Wage 4, dan Kliwon 8.
Untuk menghitung weton, nilai hari dan pasaran kelahiran dijumlahkan. Hasilnya disebut neptu weton. Dalam salah satu metode perhitungan jodoh yang populer, neptu calon suami dan istri dijumlahkan, kemudian hasilnya digunakan untuk menentukan kategori kecocokan pasangan. Salah satu metode yang dikenal luas adalah pembagian hasil penjumlahan dengan delapan untuk menghasilkan kategori seperti Pegat, Ratu, Jodoh, dan seterusnya.
Perlu diketahui, primbon memiliki beragam versi dan metode perhitungan. Karena itu, urutan kategori, pembagian angka, maupun tafsirnya tidak selalu sama dalam setiap sumber.
Arti Pegat, Ratu, Jodoh, Tinari, dan Kategori Lainnya
Berikut delapan kategori kecocokan pasangan yang dikenal dalam salah satu tradisi perhitungan weton jodoh Jawa:
• Pegat
Pegat merupakan kategori yang sering dikaitkan dengan persoalan serius dalam rumah tangga. Dalam tafsir primbon, pasangan dengan hasil ini dipercaya berpotensi menghadapi pertengkaran, masalah ekonomi, atau perpisahan.
Istilah ini tidak berarti pasangan pasti akan bercerai. Maknanya merupakan bagian dari kepercayaan tradisional, bukan hasil prediksi yang telah dibuktikan secara ilmiah.
• Ratu
Ratu dianggap sebagai salah satu kategori yang baik. Pasangan dengan hasil ini dipercaya memiliki hubungan yang harmonis, dihormati lingkungan, dan dapat membangun rumah tangga yang disegani.
Dalam penafsiran populer, kategori Ratu juga dikaitkan dengan kecocokan yang membuat pasangan terlihat serasi di mata keluarga maupun masyarakat.
• Jodoh
Sesuai namanya, kategori Jodoh dipercaya menggambarkan pasangan yang cocok satu sama lain. Mereka dianggap memiliki peluang membangun hubungan yang selaras dan bertahan lama. Namun, keharmonisan hubungan dalam kehidupan nyata tetap dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk komunikasi, rasa saling menghormati, kesetiaan, dan kemampuan menyelesaikan konflik.
• Topo
Topo biasanya dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga yang membutuhkan perjuangan. Pasangan dipercaya mungkin menghadapi kesulitan atau ujian pada awal pernikahan sebelum mencapai kondisi yang lebih baik. Dalam penafsiran tertentu, tantangan tersebut dapat berupa persoalan ekonomi, penyesuaian karakter, atau tuntutan kehidupan setelah menikah.
• Tinari
Tinari termasuk kategori yang dipandang baik. Dalam primbon, hasil ini sering dikaitkan dengan keberuntungan, kemudahan memperoleh rezeki, dan kehidupan rumah tangga yang relatif berkecukupan.
Meski demikian, rezeki tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan weton. Kondisi ekonomi keluarga juga berkaitan dengan pekerjaan, kesempatan, pengelolaan keuangan, dan berbagai faktor lain.
• Padu
Padu dipercaya menggambarkan hubungan yang rentan diwarnai perselisihan. Pasangan dengan kategori ini ditafsirkan berpotensi sering berbeda pendapat atau bertengkar. Akan tetapi, perbedaan pendapat tidak selalu merusak hubungan. Kemampuan berdialog, mengendalikan emosi, dan mencari jalan tengah justru menjadi bagian penting dalam kehidupan rumah tangga.
• Sujanan
Sujanan sering dikaitkan dengan persoalan kepercayaan, kecemburuan, atau dugaan ketidaksetiaan dalam hubungan. Tafsir tersebut tidak dapat digunakan untuk menuduh pasangan akan berselingkuh. Kesetiaan merupakan persoalan perilaku dan pilihan individu, bukan sesuatu yang bisa dipastikan dari tanggal lahir.
• Pesthi
Pesthi umumnya dipandang sebagai kategori baik yang menggambarkan kehidupan rumah tangga tenteram, rukun, dan relatif stabil. Dalam penafsiran primbon, pasangan dengan kategori ini dipercaya dapat menjalani kehidupan bersama dengan suasana damai. Namun, ketenteraman rumah tangga tetap membutuhkan usaha kedua belah pihak.
Apakah Weton Bisa Menentukan Kecocokan Pasangan?
Perhitungan weton merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang masih digunakan sebagian masyarakat untuk mempertimbangkan berbagai keputusan hidup, termasuk pernikahan.
Tradisi tersebut dapat memiliki arti emosional dan sosial bagi keluarga yang menjalaninya. Bagi sebagian orang, perhitungan weton menjadi cara menghormati adat, menjaga hubungan dengan orang tua, atau mengikuti kebiasaan yang diwariskan lintas generasi. Namun, belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa kombinasi hari dan pasaran kelahiran dapat memprediksi perceraian, perselingkuhan, keberuntungan, atau keberhasilan finansial pasangan.
Kualitas hubungan lebih dinilai melalui hal-hal yang bisa diamati secara nyata, seperti cara pasangan berkomunikasi, menyelesaikan konflik, mengelola keuangan, membagi tanggung jawab, dan menghormati batasan masing-masing. Karena itu, hasil weton yang dianggap kurang baik tidak seharusnya menjadi satu-satunya alasan untuk membatalkan pernikahan. Sebaliknya, hasil yang dianggap baik juga bukan jaminan bahwa rumah tangga akan bebas dari masalah. (bl/sa)




