Bacaini.ID, TULUNGAGUNG – Sebuah makan kuno di Kelurahan Sembung, Kecamatan/Kabupaten Tulungagung dibongkar warga pada Kamis, 27 Agustus 2026. Makam itu diduga telah ada sejak abad ke-16 masehi pada periode awal penyebaran islam dan peralihan Hindu-Buddha.
Pemilik tanah, Imam Mustajab bercerita makam itu pertama kali ditemukan sekitar tahun 1995. Makam itu ditemukan tatkala Imam Mustajab menebang pohon trembesi di pekarangan rumahnya. Kemudian ditemukanlah sebuah makan tepat dibawah pohon trembesi yang baru ditebang itu.
“Sampai sekarang tidak ada warga yang tahu tentang makam kuno ini. Warga juga tidak mengetahui siapa yang di makamkan disini,” kata Imam.
Pembongkaran makam kuno ini dilakukan setelah adanya proses musyawarah lintas sektor. Rencananya jasad di dalam makam tersebut akan dipindahkan ke komplek pemakaman di Kelurahan Botoran.
Namun saat proses penggalian sudah mencapai 3 meter, warga belum menemukan tanda tanda adanya jasad di dalamnya. “Ada tiga kemungkinan, jasad ditemukan secara utuh, jasad tinggal tulang belulang atau jasad sudah hilang atau muksa,” pungkasnya.
Sementara itu Anggota Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Tulungagung, Haryadi mengaku telah melakukan penelitian pribadi terkait makam kuno itu. Makam itu diketahui memiliki nisan bergaya Tembayat atau Bayat.
Dilihat dari karakteristik batu nisan makam, umumnya ditemukan pada komplek pemakaman dari periode Hindu-Buddha menuju masa awal penyebaran Islam. Haryadi menduga makam itu berasal dari abad ke-16 sampai abad ke-17 masehi.
“Bentuk nisan menyerupai kelir atau gunungan, dengan ciri khas bagian atas melebar dan memimpih membentuk siluet. Itu menyerupai gunungan dalam pewayangan atau bentuk kurawal makara kuno,” katanya.
Hariyadi melanjutkan batu nisan pada makam tersebut dipahat langsung dari batu andesit dengan tekstur guratan kasar bekas pahatan manual. Sementara pada bagian bawah nisan bertumpu pada umpak batu persegi berundak yang meniru gaya arsitektur lapik arca atau bangunan suci masa pra-Islam.
“Nisan dengan langgam seperti ini merekam jejak akulturasi budaya yang kuat antara seni ukir masa klasik Majapahit/ Demak berpadu dengan makam kasepuhan Islam,” tutupnya.(Fik/edt)




